Editor
KOMPAS.com - Cara menghilangkan riya menjadi penting dipahami umat Islam agar ibadah tetap ikhlas karena Allah SWT.
Riya merupakan penyakit hati yang dapat merusak amal, karena dilakukan untuk mendapat pujian manusia, bukan semata karena Allah.
Dilansir dari laman Kemenag, dalam Islam, kondisi hati sangat menentukan kualitas amal seseorang.
Baca juga: Riya dan Sumah: Pamer Amal yang Berakibat Fatal
Rasulullah SAW mengingatkan pentingnya menjaga hati sebagaimana apa yang tertuang dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim:
أَلاَ وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ . أَلاَ وَهِىَ الْقَلْبُ
“Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung)” (HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599).
Baca juga: Riya’, Ujub, dan Sum’ah: Tiga Penyakit Hati yang Merusak Amal Ibadah
Riya ditandai dengan keinginan untuk dipuji atau dilihat orang lain saat berbuat kebaikan. Hal ini berpotensi menghilangkan nilai ibadah di sisi Allah SWT.
Dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 264 disebutkan:
يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا لَا تُبۡطِلُوۡا صَدَقٰتِكُمۡ بِالۡمَنِّ وَالۡاَذٰىۙ كَالَّذِىۡ يُنۡفِقُ مَالَهٗ رِئَآءَ النَّاسِ وَلَا يُؤۡمِنُ بِاللّٰهِ وَالۡيَوۡمِ الۡاٰخِرِؕ فَمَثَلُهٗ كَمَثَلِ صَفۡوَانٍ عَلَيۡهِ تُرَابٌ فَاَصَابَهٗ وَابِلٌ فَتَرَكَهٗ صَلۡدًا ؕ لَا يَقۡدِرُوۡنَ عَلٰى شَىۡءٍ مِّمَّا كَسَبُوۡا ؕ وَاللّٰهُ لَا يَهۡدِى الۡقَوۡمَ الۡـكٰفِرِيۡنَ
Artinya: Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu merusak sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima), seperti orang yang menginfakkan hartanya karena riya' (pamer) kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari akhir. Perumpaannya (orang itu) seperti batu licin yang di atasnya ada debu, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, maka tinggallah batu itu licin lagi. Mereka tidak memperoleh sesuatu apa pun dari apa yang mereka kerjakan. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang kafir.
Imam Al-Ghazali dalam kitab Minhajul Abidin menjelaskan beberapa cara untuk menghindari riya dalam ibadah. Berikut empat cara yang dapat diamalkan:
Kesadaran bahwa manusia adalah makhluk lemah menjadi langkah awal menghilangkan riya. Dengan menyadari keterbatasan diri, seseorang tidak akan menggantungkan harapan pada pujian manusia.
Imam Al-Ghazali mengutip firman Allah dalam Surat At-Thalaq ayat 12:
اَللّٰهُ الَّذِيْ خَلَقَ سَبْعَ سَمٰوٰتٍ وَّمِنَ الْاَرْضِ مِثْلَهُنَّۗ يَتَنَزَّلُ الْاَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ ەۙ وَّاَنَّ اللّٰهَ قَدْ اَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا
Artinya: “Allahlah yang menciptakan tujuh langit dan (menciptakan pula) bumi seperti itu..."
Ayat ini menjadi pengingat bahwa hanya Allah yang memiliki kekuasaan penuh, sehingga tidak pantas mengarahkan amal kepada selain-Nya.
Riya dapat menyebabkan amal tidak diterima oleh Allah SWT. Imam Al-Ghazali mengibaratkan hal ini seperti seseorang yang menjual sesuatu yang sangat berharga dengan harga yang sangat murah.
فاذا أنت أخلصت النية وجردت الهمة للآخرة حصلت لك الآخرة والدنيا جميعا
Artinya: “Apabila engkau mengikhlaskan niat dan mengarahkan tekadmu untuk akhirat, maka engkau akan memperoleh akhirat sekaligus dunia.” (Imam Al-Ghazali, Minhajul Abidin [Indonesia, Pustaka Islamiyah: t.t], h. 76)
Sebaliknya, amal yang tidak ikhlas hanya akan mendatangkan kerugian, baik di dunia maupun akhirat.
Mengharapkan pujian manusia bukanlah hal yang pasti. Bisa jadi orang lain justru tidak menyukai atau merendahkan amal yang dilakukan.
Karena itu, seorang Muslim dianjurkan untuk menjaga niat agar tetap lurus dan tidak menjadikan manusia sebagai tujuan ibadah.
Rida Allah SWT harus menjadi tujuan utama dalam setiap amal. Imam Al-Ghazali mengibaratkan rida Allah seperti rida seorang raja, sedangkan rida manusia seperti rida seorang budak.
Dengan memahami hal ini, seorang Muslim akan lebih memilih mencari rida Allah daripada sekadar pujian manusia.
Empat cara menghilangkan riya menurut Imam Al-Ghazali ini menjadi pengingat penting bagi umat Islam untuk menjaga keikhlasan dalam beribadah.
Dengan hati yang bersih dari sifat riya, amal yang dilakukan diharapkan dapat diterima dan bernilai di sisi Allah SWT.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang