Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Riya’, Ujub, dan Sum’ah: Tiga Penyakit Hati yang Merusak Amal Ibadah

Kompas.com, 15 Januari 2026, 18:54 WIB
Agus Susanto

Penulis

KOMPAS.com - Riya', ujub, dan Sum'ah adalah penyakit hati yang akan merusak amal ibadah seseorang. Ibarat seseorang yang sudah susah payah membangun istana megah, lalu dihancurkan dalam sekejab.

Itulah perumpamaan riya', ujub, dan sum'ah. Ia dapat menghancurkan amalan ibadah yang sudah dilaksanakan sekian lama. Dalam sekejab, pahala amalan tersebut lenyap tanpa sisa bila dibumbui dengan riya', ujub, dan sum'ah.

Karena begitu bahayanya penyakit ini, setiap muslim harus memahami tentang tiga penyakit hati yang dapat merusak amal ibadah tersebut.

Baca juga: Kumpulan Doa Dijauhkan dari Penyakit Hati Lengkap dengan artinya

Pengertian Riya', Ujub, dan Sum'ah

Ketiga penyakit hati ini seringkali menyusup ke dalam hati dengan cara yang sangat halus hingga kadang kehadirannya tidak disadari. Hanya hati yang suci dan sering melakukan introspeksi diri yang mampu mendeteksi kedatangannya.

1. Pengertian Riya' dalam Ibadah

Menurut Asy Syatibi dalam Al Muwafaqat, riya’ adalah menampakkan amalan sholeh kepada orang lain atau memperbagusnya di hadapan orang lain, agar mendapatkan pujian atau agar dianggap agung oleh orang lain.

Riya' dibagi menjadi dua, yaitu:

  • Riya' Jali (Jelas): Sengaja beramal dengan niat dari awal untuk pamer. Misalnya, berbuat baik ketika ada kamera atau dilihat orang lain. Namun bila tak ada yang melihat, ia tidak mau melakukannya.
  • Riya' Khafi (Tersembunyi): Riya' ini halus datangnya. Pada awalnya orang beramal dan beribadah dengan niat ikhlas. Namun di tengah perjalanan, terbersit sedikit rasa senang ketika ada yang melihat atau memuji amalannya. Rasulullah SAW menyampaikan bahwa riya' jenis ini lebih tersembunyi dari jejak semut hitam di atas batu hitam di tengah kegelapan malam.

Baca juga: Mengenal Sifat Kikir: Penyakit Hati yang Membinasakan

2. Pengertian Ujub

Imam Al Ghazali dalam kitab Ihya' Ulumuddin mendefinisikan ujub sebagai merasa agung ketika memiliki suatu nikmat dan bersandar kepadanya, namun lupa menisbatkannya kepada pemberinya (yaitu Allah).

Pengertian sederhana dari ujub adalah perasaan bangga dan kagum terhadap diri sendiri atas amal yang telah dilakukan. Ujub tidak selalu melibatkan orang lain, tetapi perasaan itu muncul di dalam hati.

3. Pengertian Sum'ah

Sum'ah berasal dari kata sami'a yang berarti mendengar. Secara istilah, sum'ah artinya orang yang menceritakan amal kebaikannya kepada orang lain untuk mendapatkan pujian.

Berbeda dengan riya', sum'ah beramal terlebih dahulu baru kemudian memamerkan amalannya dengan cara menceritakan kepada orang lain untuk mendapat pujian.

Sum'ah sifatnya sama dengan riya' khafi. Orang beramal pada awalnya dengan ikhlas, lalu timbul niat untuk memamerkannya dengan cara diceritakan kepada orang lain.

Baca juga: Riya dan Sumah: Pamer Amal yang Berakibat Fatal

Bahaya Riya’, Ujub, dan Sum’ah bagi Amal

Riya’, ujub, dan sum’ah memiliki dampak yang sangat serius bagi kehidupan spiritual seorang Muslim, di antaranya:

1. Menghapus pahala amal ibadah

Amal yang tidak dilandasi keikhlasan tidak bernilai di sisi Allah, meskipun tampak besar di mata manusia.

Ketiga penyakit hati ini dapat merusak pahala ibadah sejak dari awal, pertengahan maupun akhir sehingga amal yang sudah dikerjakan tidak ada nilainya di hadapan Allah SWT. 

2. Merusak niat dan hati

Ketiga penyakit ini memalingkan tujuan ibadah dari Allah kepada makhluk, sehingga hati menjadi gelisah dan tidak tulus.

Hati menjadi terkotori dengan ketiga penyakit tersebut. Bila tidak segera diobati, ia akan menjadi kronis dan membuat hati menjadi gelap.

3. Menumbuhkan kesombongan dan cinta dunia

Puncak dari ketiga penyakit tersebut adalah sombong. Sifat buruk yang membuat orang yang melakukannya tidak dapat masuk surga.

Definisi sombong adalah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain. Ia menganggap dirinya orang yang lebih tinggi derajatnya dari orang lain. Sifat sombong menjadi sifat yang dibenci Allah SWT.

Baca juga: Hasad dalam Islam: Penyebab, Dampak, dan Cara Menghindari Sifat Dengki

4. Menjadi sebab murka Allah

Orang yang beribadah demi manusia termasuk mempersekutukan Allah SWT. Penyakit ini disebut sirik kecil yang dapat menyebabkan murka Allah SWT jika tidak segera dihilangkan dari dalam diri.

5. Menghalangi keistiqamahan

Amal yang bergantung pada pujian manusia akan mudah hilang ketika tidak lagi mendapat perhatian. Seseorang hanya bersemangat ibadah ketika ada yang menyaksikan dan mendapat pujian.

Sementara tanpa adanya pujian, tidak ada semangat untuk melaksanakan ibadah. Ini berarti sifat riya', ujub, dan sum'ah dapat menghalangi seseorang untuk istiqamah dalam ibadah.

Penutup

Sifat riya', ujub, dan sum'ah adalah penyakit hati yang harus diwaspadai. Ia dapat menghilangkan pahala dari setiap amal yang telah dilakukan.

Untuk menghindari sifat ini, setiap orang harus berusaha menjaga keikhlasan dalam beribadah dan memohon pertolongan Allah SWT agar dijauhkan dari ketiga sifat buruk tersebut.

Ketika seseorang mampu terhindari dari tiga penyakit di atas, maka amalannya akan terjaga hingga saat berjumpa dengan Allah SWT.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com