KOMPAS.com - Peristiwa Isra Mi’raj menempati posisi istimewa dalam sejarah Islam. Dalam satu malam, Nabi Muhammad SAW diperjalankan oleh Allah SWT dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsa di Yerusalem, lalu dilanjutkan naik ke langit hingga Sidratul Muntaha.
Dalam perjalanan agung itu, Rasulullah SAW menunggangi makhluk khusus bernama Buraq, yang menjadi simbol kekuasaan Allah yang melampaui batas nalar manusia.
Kata Buraq berasal dari bahasa Arab barq yang berarti kilat. Penamaan ini menggambarkan kecepatan luar biasa makhluk tersebut yang mampu menempuh jarak sejauh pandangan mata dalam waktu sangat singkat.
Kecepatan Buraq bukan sekadar gambaran fisik, tetapi juga melambangkan kemudahan dan kehendak Allah dalam memperjalankan hamba-Nya tanpa terikat hukum ruang dan waktu.
Dalam kitab Al-Bidayah wa an-Nihayah karya Ibnu Katsir, dijelaskan bahwa Buraq adalah makhluk yang Allah ciptakan secara khusus untuk perjalanan para nabi, terutama dalam peristiwa Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW.
Baca juga: Kenapa Isra Miraj Dilakukan Malam Hari? Ini Penjelasan Alquran
Dalam sejumlah hadis sahih, Buraq digambarkan sebagai makhluk bercahaya berwarna putih. Ukurannya lebih besar dari keledai, namun lebih kecil dari bighal (bagal).
Tubuhnya menyerupai kuda dan memiliki sepasang sayap yang membantu kecepatannya melesat menembus jarak yang sangat jauh.
Riwayat-riwayat klasik juga menyebutkan ciri khas Buraq, seperti wajah yang memancarkan cahaya, mata yang tajam, serta langkah kaki yang mencapai sejauh mata memandang.
Gambaran ini ditegaskan oleh Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim, yang menekankan bahwa bentuk Buraq merupakan bagian dari perkara gaib yang wajib diimani tanpa disamakan dengan makhluk duniawi.
Dalam tahap Isra, Buraq menjadi kendaraan Rasulullah SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa.
Setibanya di sana, Nabi Muhammad SAW mengikat Buraq di sebuah tempat yang biasa digunakan para nabi sebelumnya.
Lokasi tersebut kini dikenal sebagai Tembok Buraq, salah satu situs penting di kompleks Masjidil Aqsa.
Menurut buku Sirah Nabawiyah karya Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri, peristiwa ini menegaskan kesinambungan risalah para nabi, sekaligus menempatkan Nabi Muhammad SAW sebagai penutup dan pemimpin para rasul.
Baca juga: Peristiwa Isra Miraj Lengkap: Tahun Kesedihan hingga Perintah Sholat
Dalam beberapa riwayat, disebutkan bahwa Buraq tidak hanya digunakan oleh Nabi Muhammad SAW.
Nabi Ibrahim AS juga dikisahkan pernah menunggangi Buraq ketika mengunjungi keluarganya di Makkah dari wilayah Syam.
Keterangan ini dijelaskan dalam buku Kisah Para Nabi karya Ibnu Katsir, menyebut bahwa Buraq adalah makhluk yang Allah sediakan bagi hamba-hamba pilihan-Nya untuk menjalankan misi tertentu.
Buraq bukan sekadar kendaraan fisik. Ia menjadi simbol bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.
Isra Mi’raj dengan Buraq mengajarkan bahwa keterbatasan manusia tidak membatasi kehendak Allah.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menekankan bahwa peristiwa Isra Mi’raj harus dipahami dengan iman, bukan sekadar logika.
Buraq dalam konteks ini, menjadi sarana untuk menguji keimanan umat Islam terhadap perkara-perkara gaib yang datang dari wahyu.
Baca juga: Isra Miraj Biasanya Ngapain? Ini Kegiatan dan Amalan yang Dianjurkan
Kisah Buraq mengingatkan umat Islam bahwa tidak semua kebenaran dapat diukur dengan rasio.
Sebagaimana Isra Mi’raj diterima oleh orang-orang beriman dan ditolak oleh mereka yang ragu, keberadaan Buraq menjadi bagian dari ujian keyakinan terhadap kekuasaan Allah SWT.
Melalui peristiwa ini, umat Islam diajak untuk meneguhkan iman, meyakini kebesaran Allah dan meneladani ketaatan Rasulullah SAW yang menerima perintah Ilahi tanpa keraguan.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang