KOMPAS.com - Peristiwa Isra Miraj merupakan salah satu mukjizat terbesar dalam sejarah kenabian Nabi Muhammad SAW.
Dalam waktu yang sangat singkat, Rasulullah diperjalankan dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsa di Baitul Maqdis, lalu dilanjutkan dengan Mi’raj hingga Sidratul Muntaha.
Salah satu pertanyaan yang kerap muncul adalah mengapa peristiwa agung ini justru terjadi pada malam hari?
Jawaban atas pertanyaan tersebut tidak sekadar bersifat kronologis, tetapi mengandung dimensi teologis, spiritual, dan simbolik yang mendalam. Al-Qur’an secara tegas menekankan aspek waktu ini dalam Surat Al-Isra ayat 1.
Allah SWT berfirman:
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
"Subḥānal-lażī asrā bi‘abdihī lailam minal-masjidil ḥarāmi ilal-masjidil-aqṣal-lażī bāraknā ḥaulahū linuriyahū min āyātinā, innahū huwas-samī‘ul-baṣīr(u)."
Artinya: “Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami.” (QS. Al-Isra: 1)
Baca juga: Pertanyaan tentang Isra Miraj yang Jarang Dibahas dalam Sejarah Islam
Dalam Tafsir Al-Mishbah karya M. Quraish Shihab, dijelaskan bahwa penggunaan kata lailan (malam hari) dalam bentuk isim nakirah (tidak ditentukan) mengandung dua makna penting.
Pertama, menunjukkan bahwa peristiwa Isra terjadi hanya dalam sebagian kecil dari malam, menegaskan sifat mukjizatnya.
Kedua, penegasan ini menutup kemungkinan penafsiran simbolik semata, karena Al-Qur’an secara eksplisit menyebut waktu terjadinya peristiwa tersebut secara faktual.
Lebih jauh, Quraish Shihab menegaskan bahwa malam dalam tradisi spiritual Islam bukan sekadar ketiadaan cahaya, melainkan waktu paling hening untuk menerima pengalaman ilahiah.
Dalam keheningan malam, kesadaran manusia berada pada titik paling jujur dan terbuka terhadap tanda-tanda ketuhanan.
Kata kerja asrā dalam ayat tersebut secara etimologis berarti “melakukan perjalanan di malam hari”.
Menurut Tafsir Ibnu Katsir, pemilihan kata ini menegaskan bahwa Isra bukan mimpi atau pengalaman batin semata, melainkan perjalanan nyata yang terjadi dengan kehendak dan kekuasaan Allah.
Ibnu Katsir dalam karyanya Tafsîr al-Qur’ân al-‘Azhîm menjelaskan bahwa Allah memulai ayat ini dengan kata subḥāna sebagai bentuk pensucian diri-Nya dari segala keterbatasan logika manusia.
Dengan kata lain, jika peristiwa ini terasa mustahil menurut akal, maka hal itu justru menegaskan kemahakuasaan Allah SWT.
Baca juga: Peristiwa Isra Miraj Lengkap: Tahun Kesedihan hingga Perintah Sholat
Dalam buku “Fi Zhilalil Qur’an” karya Sayyid Qutb, dijelaskan bahwa malam memiliki posisi istimewa dalam relasi antara hamba dan Tuhannya.
Banyak ibadah utama dianjurkan pada malam hari, seperti qiyamul lail, tahajud, dan munajat. Oleh karena itu, Isra Miraj yang sarat pengalaman spiritual dilakukan pada waktu yang paling sesuai dengan jiwa ibadah dan penghambaan total.
Penggunaan istilah ‘abdihī (hamba-Nya) dalam ayat ini juga ditekankan oleh para mufasir sebagai penegasan bahwa kemuliaan Nabi Muhammad justru terletak pada sifat kehambaannya.
Dalam keadaan paling sunyi malam hari seorang hamba dipilih untuk menerima pengalaman paling agung.
Baca juga: Isra Miraj Biasanya Ngapain? Ini Kegiatan dan Amalan yang Dianjurkan
Menurut Sirah Nabawiyah karya Ibnu Hisyam, peristiwa Isra Miraj terjadi pada fase berat dalam kehidupan Rasulullah, setelah wafatnya Khadijah dan Abu Thalib.
Malam menjadi simbol penghiburan ilahi, tempat Allah memperlihatkan tanda-tanda kebesaran-Nya untuk meneguhkan hati Rasulullah dalam menghadapi penolakan dan tekanan kaumnya.
Pengalaman melihat kebesaran ciptaan Allah, bertemu para nabi terdahulu, hingga menerima perintah salat lima waktu, menjadi bekal spiritual yang sangat kuat.
Hal ini menegaskan bahwa malam bukan hanya waktu perjalanan fisik, tetapi juga ruang transformasi batin bagi Nabi Muhammad SAW.
Dengan demikian, Isra Miraj dilakukan pada malam hari bukan tanpa alasan. Malam dipilih karena ia adalah waktu keheningan, kedekatan, dan kesiapan spiritual tertinggi seorang hamba.
Surat Al-Isra ayat 1, sebagaimana dijelaskan dalam berbagai kitab tafsir klasik dan kontemporer, memperlihatkan bahwa dimensi waktu dalam Isra Miraj adalah bagian tak terpisahkan dari pesan keimanan yang ingin ditegaskan Allah SWT kepada umat manusia.
Peristiwa ini bukan sekadar perjalanan luar biasa, melainkan undangan refleksi bagi umat Islam untuk kembali menemukan makna ibadah, khususnya salat, dalam keheningan dan kesadaran yang lahir dari kedekatan dengan Allah.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang