KOMPAS.com – Tren busana Lebaran 2026 tak lagi didominasi gamis. Di sejumlah pusat perbelanjaan hingga etalase toko daring, model baju kurung Melayu justru mencuri perhatian dan menjadi buruan baru jelang Idulfitri.
Jika beberapa tahun terakhir gamis dengan potongan lurus dan detail minimalis menjadi primadona, kini banyak perempuan beralih pada siluet yang lebih longgar, santun, tetapi tetap memberi ruang gerak luas. Baju kurung Melayu hadir menjawab kebutuhan itu. Mengapa model ini kembali naik daun?
Baju kurung Melayu sejatinya bukan model baru. Busana ini telah lama dikenal sebagai pakaian tradisional masyarakat Melayu di wilayah Sumatera, Semenanjung Malaya, hingga sebagian Kalimantan.
Dalam buku Sejarah Busana Tradisional Nusantara karya Liza Marzali dijelaskan bahwa baju kurung merepresentasikan nilai kesantunan, kesederhanaan, dan identitas budaya Melayu yang lekat dengan ajaran Islam.
Potongannya khas: atasan panjang longgar dipadukan dengan rok atau kain panjang. Berbeda dengan gamis yang menyatu dari atas hingga bawah, baju kurung memberi struktur dua bagian yang membuat pemakainya lebih leluasa bergerak.
Inilah salah satu alasan model ini dinilai cocok untuk mobilitas tinggi saat Hari Raya, mulai dari silaturahmi ke rumah kerabat hingga menerima tamu.
Di Tanah Abang, Jakarta, tren ini semakin terlihat. Sejumlah pedagang menyebut model kurung modern dengan detail minimalis sebagai salah satu produk terlaris menjelang Ramadan dan Lebaran 2026.
Baca juga: Tren Baju Lebaran 2026: Gamis Layering Stylish hingga Lace Modern
Baju kurung melayu dengan silk bordir premiumBeberapa koleksi menggunakan kain shimmer yang memberi efek berkilau lembut, satin silk yang jatuh anggun mengikuti bentuk tubuh, hingga paper silk yang ringan tetapi tetap elegan. Ada pula yang memakai bahan Toyobo, dikenal nyaman dan tidak mudah kusut.
Menurut pengamat mode dalam buku Fashion sebagai Identitas Sosial karya Malcolm Barnard, pemilihan material berperan penting dalam membentuk persepsi status dan keanggunan pemakai.
Dalam konteks busana Lebaran, bahan yang tampak mewah tetapi tetap nyaman menjadi kunci.
Baju kurung Melayu modern juga dilengkapi furing sehingga tidak menerawang, menjadikannya aman dan tetap sopan saat dikenakan.
Salah satu ciri khas koleksi terbaru adalah detail bordir vertikal halus di bagian tengah depan serta pada hemline atau ujung bawah baju. Aksen ini menciptakan ilusi tubuh lebih jenjang tanpa harus bermain dengan potongan ketat.
Beberapa model menambahkan tepi potongan bergelombang atau scalloped edge yang dipermanis sulaman ringan di bagian lengan. Sentuhan ini memberi kesan feminin, namun tidak berlebihan.
Warna yang ditawarkan pun semakin beragam. Tak hanya hitam atau pastel, pilihan seperti olive, terracotta, lilac, navy, hingga ice blue menjadi favorit. Warna-warna ini dinilai mudah dipadukan dengan hijab polos maupun motif lembut.
Baca juga: Gamis Terbaru Model Baju Lebaran 2026 Wanita: Simpel Tapi Mewah, Ini Tren yang Bakal Viral
Baju kurung melayu busui friendlyTersedia pula pilihan tunik one set dengan celana atau rok panjang senada, bahkan versi gamis bagi yang menyukai tampilan lebih praktis.
Fleksibilitas ini membuatnya tak hanya cocok untuk Lebaran, tetapi juga acara wisuda, pengajian, hingga pesta keluarga.
Beberapa pelaku usaha menyebut model ini bahkan diminati pasar luar daerah seperti Padang dan Aceh, serta negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia, yang memang memiliki kedekatan budaya dengan busana Melayu.
Baca juga: Jadi Trend Baju Lebaran 2026, Berapa Harga Gamis Bini Orang di Pasar Tanah Abang?
Secara sosiologis, tren ini bisa dibaca sebagai kecenderungan kembali pada busana yang menekankan nilai kesantunan.
Dalam buku The Fashion System karya Roland Barthes disebutkan bahwa busana tidak sekadar penutup tubuh, melainkan sistem tanda yang mencerminkan nilai dan aspirasi sosial.
Di tengah dinamika tren yang cepat berubah, baju kurung Melayu menawarkan keseimbangan antara tradisi dan modernitas.
Ia sederhana, tetapi tetap elegan. Longgar, namun tetap membentuk siluet yang anggun. Minimalis, tetapi kaya detail.
Menjelang Idul fitri 2026, pilihan busana bukan hanya soal gaya, melainkan juga representasi diri.
Selain gamis yang tetap memiliki pasar kuat, baju kurung Melayu kini menjelma menjadi simbol baru kesantunan yang praktis dan berkelas.
Bagi banyak perempuan, busana ini bukan sekadar tren musiman. Ia adalah cara merayakan hari kemenangan dengan tetap setia pada akar budaya tanpa kehilangan sentuhan modern yang relevan dengan zaman.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang