Editor
KOMPAS.com - Shalat merupakan ibadah wajib yang menjadi tiang agama bagi setiap Muslim.
Karena menjadi ibadah yang paling utama, tata cara pelaksanaannya harus sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW agar sah dan bernilai ibadah.
Namun, masih banyak kesalahan saat shalat yang dilakukan tanpa disadari, baik ketika shalat sendiri maupun berjamaah.
Oleh sebab itu, penting bagi setiap Muslim memahami berbagai kekeliruan tersebut agar shalat semakin khusyuk, sempurna, dan sesuai syariat.
Berikut sejumlah kesalahan yang masih sering dijumpai ketika melaksanakan shalat berdasarkan hadis Nabi SAW dan penjelasan para ulama.
Baca juga: Doa dan Cara Mengatasi Shalat Tidak Khusyuk agar Lebih Fokus Beribadah
Salah satu kesalahan yang cukup sering terjadi adalah mengangkat pandangan ke arah langit ketika sedang shalat. Padahal, Rasulullah SAW telah melarang perbuatan tersebut dengan peringatan yang tegas.
مَا بَالُ أَقْوَامٍ يَرْفَعُونَ أَبْصَارَهُمْ إِلَى السَّمَاءِ فِي صَلَاتِهِمْ فَاشْتَدَّ قَوْلُهُ فِي ذَلِكَ حَتَّى قَالَ لَيَنْتَهُنَّ عَنْ ذَلِكَ أَوْ لَتُخْطَفَنَّ أَبْصَارُهُمْ
“Mengapa ada orang yang mengarahkan pandangan mereka ke langit ketika shalat?” Suara beliau semakin meninggi hingga beliau bersabda, “Hendaklah mereka segera menghentikan hal itu, atau Allah benar-benar akan mencabut penglihatan mereka.” (HR. Bukhari)
Karena itu, pandangan ketika shalat dianjurkan tetap tertuju ke tempat sujud agar lebih khusyuk dan mengikuti tuntunan Nabi SAW.
Sebagian orang memilih memejamkan mata saat shalat dengan alasan agar lebih khusyuk. Namun, para ulama menjelaskan bahwa menutup mata tanpa kebutuhan hukumnya makruh.
Syekh Shalih Al-Fauzan menjelaskan:
ويكره في الصلاة تغميض عينيه لغير حاجة؛ لأن ذلك من فعل اليهود، وإن كان التغميض لحاجة، كأن يكون أمامه ما يهوش عليه صلاته ؛ كالزخارف والتزويق فلا يكره إغماض عينيه عنه
“Dimakruhkan menutup kedua mata dalam shalat tanpa alasan, karena hal tersebut termasuk kebiasaan orang Yahudi. Namun, jika ada kebutuhan misalnya di hadapannya terdapat sesuatu yang bisa mengganggu kekhusyukan shalat-nya, seperti ornamen atau hiasan maka tidak mengapa memejamkan mata.”
Dengan demikian, memejamkan mata hanya dibolehkan apabila terdapat sesuatu yang benar-benar mengganggu konsentrasi selama shalat.
Kesalahan lain yang masih sering ditemukan adalah sujud yang tidak memenuhi ketentuan syariat. Dalam sujud, terdapat tujuh anggota tubuh yang harus menempel di tempat sujud.
Rasulullah SAW bersabda:
أُمِرْتُ أَنْ أَسْجُدَ عَلَى سَبْعَةِ أَعْظُمٍ عَلَى الْجَبْهَةِ وَأَشَارَ بِيَدِهِ عَلَى أَنْفِهِ وَالْيَدَيْنِ وَالرُّكْبَتَيْنِ وَأَطْرَافِ الْقَدَمَيْنِ وَلَا نَكْفِتَ الثِّيَابَ وَالشَّعَرَ
“Aku diperintahkan untuk bersujud dengan tujuh anggota: kening (beliau memberi isyarat dengan tangannya menunjuk hidung), kedua telapak tangan, kedua lutut, serta ujung jari-jari kaki. Dan janganlah menahan rambut atau pakaian.” (HR. Bukhari)
Dalam praktiknya, masih ada orang yang hanya menempelkan kening tanpa hidung atau mengangkat telapak kaki sehingga ujung jari tidak menyentuh lantai. Hal tersebut termasuk kekeliruan yang perlu dihindari agar sujud dilakukan secara sempurna.
Saat shalat berjamaah, meluruskan serta merapatkan saf merupakan bagian dari sunnah yang sangat dianjurkan. Karena itu, imam biasanya mengingatkan jamaah untuk memperbaiki posisi barisan sebelum shalat dimulai.
Rasulullah SAW bersabda:
“Luruskanlah barisan kalian, sebab lurusnya saf merupakan bagian dari tegaknya shalat.” (HR. Bukhari)
Setiap jamaah dianjurkan memperhatikan posisi kanan dan kiri, lalu merapatkan barisan agar saf menjadi lurus dan rapi sesuai tuntunan Nabi SAW.
Shalat merupakan ibadah ketika seorang hamba sedang bermunajat kepada Allah SWT. Oleh sebab itu, berbicara, tertawa, atau melakukan hal-hal yang melalaikan dapat merusak bahkan membatalkan shalat.
Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya shalat ini tidak boleh di dalamnya terdapat ucapan manusia. Ia hanyalah dzikir, tasbih, takbir, dan bacaan Al-Quran.” (HR. Muslim)
Menjaga kekhusyukan sejak takbiratul ihram hingga salam menjadi salah satu cara agar shalat dapat dilaksanakan dengan baik.
Kesalahan lain yang juga masih dijumpai adalah membaca doa atau bacaan shalat dengan suara keras hingga mengganggu orang lain.
Padahal, selain pada bacaan yang memang disyariatkan untuk dikeraskan, bacaan shalat dianjurkan dilakukan dengan suara yang lembut dan penuh ketundukan.
Allah SWT berfirman:
وَاذْكُر رَّبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ وَلَا تَكُن مِّنَ الْغَافِلِينَ
“Dan sebutlah nama Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, serta dengan suara yang tidak keras, pada waktu pagi dan petang. Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.” (QS. Al-A'raf: 205)
Ayat tersebut mengajarkan pentingnya menjaga adab dalam berdzikir dan berdoa, termasuk ketika melafalkan bacaan di dalam shalat.
Sebagai ibadah yang menjadi tiang agama, shalat perlu dilaksanakan sesuai tuntunan Rasulullah SAW agar sah dan sempurna.
Dengan menghindari berbagai kesalahan tersebut, seorang Muslim dapat meningkatkan kualitas shalat sekaligus meraih kekhusyukan dalam beribadah kepada Allah SWT.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang