Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Apa Itu Istidraj? Pengertian, Dalil, Ciri-Ciri, dan Cara Menghindarinya dalam Islam

Kompas.com, 24 Juli 2026, 19:44 WIB
Puspasari Setyaningrum

Editor

Sumber Antara

KOMPAS.com - Tidak semua kenikmatan yang diterima seseorang merupakan tanda bahwa Allah SWT meridhainya.

Dalam ajaran Islam, ada kondisi ketika seseorang terus memperoleh kemudahan, kekayaan, atau kesuksesan meski tetap bergelimang dalam kemaksiatan.

Fenomena tersebut dikenal sebagai istidraj, yaitu pemberian kenikmatan dunia yang justru menjadi jalan menuju kebinasaan karena membuat seseorang semakin jauh dari Allah SWT.

Baca juga: Istidraj: Banyak Nikmat Tetapi Tidak Menambah Taat

Oleh sebab itu, umat Islam perlu memahami makna istidraj agar tidak keliru menilai setiap nikmat yang diperoleh.

Apa Itu Istidraj?

Istidraj adalah keadaan ketika Allah SWT memberikan berbagai kenikmatan dunia kepada seseorang yang terus-menerus melakukan kemaksiatan, sehingga ia merasa aman dan terlena hingga akhirnya mendapat azab.

Baca juga: Kenapa Kenikmatan Dunia Bisa Menyesatkan? Mengenal Istidraj

Dalam kondisi ini, nikmat yang diterima bukan menjadi tanda kemuliaan, melainkan bentuk penangguhan hukuman agar dosa terus bertambah.

Mengenai istidraj, dalam Al-Qur’an Allah SWT berfirman:

وَالَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِّنْ حَيْثُ لَا يَعْلَمُونَ ۝١٨٢ وَأُمْلِي لَهُمْۗ إِنَّ كَيْدِي مَتِينٌ ۝١٨٣

Artinya: “Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, akan Kami biarkan mereka berangsur-angsur (ke arah kebinasaan) dengan cara yang tidak mereka ketahui. Dan Aku akan memberikan tenggang waktu kepada mereka. Sungguh, rencana-Ku sangat teguh.” (QS. Al-A'raf [7]: 182–183).

Makna ayat tersebut menunjukkan bahwa Allah dapat memberikan kelapangan kepada orang yang mengingkari-Nya, bukan sebagai bentuk kasih sayang, melainkan agar mereka semakin tenggelam dalam kelalaian sebelum datang hukuman yang telah ditetapkan.

Hadits tentang Istidraj

Rasulullah SAW juga menjelaskan hakikat istidraj melalui sebuah hadis.

“Jika kamu melihat Allah memberikan kemewahan dunia kepada hamba-Nya yang suka melanggar perintah-Nya, maka itulah yang disebut istidraj.” (HR. Ahmad)

Hadis tersebut menjadi pengingat bahwa keberlimpahan harta, jabatan, maupun kesuksesan tidak selalu menjadi ukuran kedekatan seseorang dengan Allah SWT.

Yang menjadi tolok ukur adalah apakah nikmat tersebut semakin mendekatkan seseorang kepada ketaatan atau justru membuatnya semakin lalai.

Penjelasan Ulama tentang Istidraj

Menurut ulama tafsir Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy, istidraj merupakan bentuk pemanjaan dari Allah yang membuat manusia semakin tenggelam dalam kehinaan akibat terus-menerus melakukan kemaksiatan.

Sementara itu, Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar menjelaskan bahwa istidraj adalah keadaan ketika seseorang secara perlahan dijauhkan dari jalan kebenaran tanpa disadari hingga akhirnya azab datang secara tiba-tiba.

Contoh Istidraj dalam Al-Qur'an

Al-Qur'an memuat sejumlah kisah yang menjadi contoh istidraj dalam kehidupan.

Fir'aun memperoleh kekuasaan yang sangat besar, tetapi kesombongannya membuat ia terus menentang Allah SWT hingga akhirnya ditenggelamkan bersama pasukannya.

Begitu pula Qarun yang dikaruniai kekayaan melimpah setelah sebelumnya hidup dalam keterbatasan.

Kekayaan tersebut justru membuatnya sombong dan lupa kepada Allah hingga akhirnya ia dibenamkan ke dalam bumi bersama seluruh hartanya.

Allah SWT juga berfirman:

وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّمَا نُمْلِي لَهُمْ خَيْرٌ لِأَنْفُسِهِمْۚ إِنَّمَا نُمْلِي لَهُمْ لِيَزْدَادُوا إِثْمًاۚ وَلَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ

Artinya: “Dan janganlah orang-orang kafir menyangka bahwa pemberian tangguh Kami kepada mereka adalah lebih baik bagi mereka. Sesungguhnya Kami memberi tangguh kepada mereka hanyalah supaya bertambah-tambah dosa mereka; dan bagi mereka azab yang menghinakan.” (QS. Ali Imran: 178).

Ciri-Ciri Istidraj

Beberapa tanda yang sering dikaitkan dengan istidraj antara lain:

  • Nikmat dunia terus bertambah, tetapi kualitas iman semakin menurun.
  • Kehidupan terasa lancar meski tetap melakukan kemaksiatan.
  • Rezeki semakin luas, tetapi lalai menjalankan ibadah.
  • Kekayaan terus bertambah, namun semakin enggan bersedekah dan bersikap kikir.
  • Jarang mendapat musibah atau sakit, tetapi tumbuh rasa sombong dan merasa tidak membutuhkan Allah SWT.

Meski demikian, ciri-ciri tersebut tidak dapat dijadikan dasar untuk menghakimi orang lain. Hakikat istidraj merupakan urusan Allah SWT, sedangkan manusia hanya diperintahkan untuk terus melakukan introspeksi terhadap dirinya sendiri.

Syekh Ibnu Athaillah as-Sakandari mengingatkan:

“Takutlah pada perlakuan baik Allah kepadamu di tengah durhakamu yang terus-menerus terhadap-Nya. Karena itu bisa jadi sebuah istidraj.”

Cara Menghindari Istidraj

Ulama menganjurkan agar setiap Muslim senantiasa mengevaluasi diri ketika memperoleh nikmat agar tidak terjerumus dalam istidraj.

Salah satu caranya ialah memastikan bahwa setiap nikmat semakin mendekatkan diri kepada Allah, bukan sebaliknya.

Beberapa amalan yang dapat dilakukan untuk menghindari istidraj antara lain memperkuat keimanan, memperbanyak ibadah dan dzikir, menjauhi perbuatan maksiat, memperbanyak sedekah, serta senantiasa bersyukur atas segala nikmat yang diberikan Allah SWT.

Dengan demikian, setiap karunia yang diterima dapat menjadi jalan menuju keberkahan, bukan menjadi sebab datangnya hukuman yang tidak disadari.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
Aktual
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Aktual
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
Aktual
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
Aktual
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
Aktual
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Aktual
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar