Editor
KOMPAS.com - Shalat taubat merupakan salah satu ibadah sunnah yang dianjurkan bagi umat Islam sebagai bentuk penyesalan atas dosa dan permohonan ampun kepada Allah SWT.
Ibadah ini menjadi salah satu ikhtiar untuk kembali mendekatkan diri kepada Allah setelah melakukan kesalahan atau kemaksiatan.
Meski tata cara pelaksanaannya telah banyak diketahui, sebagian Muslim masih bertanya mengenai jumlah rakaat shalat taubat yang dianjurkan.
Baca juga: Kapan Shalat Taubat Dilakukan? Simak Penjelasan Waktu Terbaik dan Harus Dihindari
Para ulama menjelaskan bahwa shalat taubat memiliki jumlah rakaat tertentu yang bersandar pada hadis Rasulullah SAW.
Shalat taubat pada dasarnya dikerjakan sebanyak dua rakaat. Jumlah tersebut merupakan tata cara yang paling umum diamalkan oleh kaum Muslimin ketika melaksanakan shalat sunnah taubat sebagai bentuk permohonan ampun kepada Allah SWT.
Baca juga: 3 Syarat Agar Taubat Diterima Allah Menurut Penjelasan Ulama
Namun, apabila seseorang ingin menambah rakaatnya, ia diperbolehkan melaksanakan shalat taubat hingga empat atau enam rakaat.
Pelaksanaannya dilakukan dua rakaat satu salam sebagaimana ketentuan dalam shalat sunnah pada umumnya.
Dengan demikian, jumlah rakaat shalat taubat dapat disesuaikan dengan kemampuan dan keikhlasan masing-masing, tanpa meninggalkan tuntunan syariat.
Anjuran melaksanakan shalat taubat dua rakaat didasarkan pada hadis yang diriwayatkan Abu Bakar RA. Ia menuturkan bahwa Rasulullah SAW bersabda:
"Tiada seorang hamba yang melakukan dosa, lalu ia bersuci dengan baik, kemudian berdiri melaksanakan shalat dua rakaat, lalu memohon ampunan kepada Allah, melainkan Allah pasti mengampuninya." (HR Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ahmad, dan Ibnu Majah)
Hadis tersebut menjadi dasar utama bahwa shalat taubat dianjurkan dilaksanakan sebanyak dua rakaat sebagai bentuk ikhtiar memohon ampun atas dosa yang telah diperbuat.
Setelah meriwayatkan hadis tersebut, Abu Bakar RA menjelaskan bahwa Rasulullah SAW juga membaca firman Allah SWT dalam Surah Ali Imran ayat 135:
وَالَّذِيۡنَ اِذَا فَعَلُوۡا فَاحِشَةً اَوۡ ظَلَمُوۡۤا اَنۡفُسَهُمۡ ذَكَرُوا اللّٰهَ فَاسۡتَغۡفَرُوۡا لِذُنُوۡبِهِمۡ وَمَنۡ يَّغۡفِرُ الذُّنُوۡبَ اِلَّا اللّٰهُ ۖ وَلَمۡ يُصِرُّوۡا عَلٰى مَا فَعَلُوۡا وَهُمۡ يَعۡلَمُوۡنَ
Wallaziina izaa fa'aluu faahishatan aw zalamuu anfusahum zakarullaaha fastaghfaruu lizunuubihim; wa mai yaghfiruz zunuuba illallaahu wa lam yusirruu 'alaa maa fa'aluu wa hum ya'lamuun
Artinya: "Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, mereka segera mengingat Allah, lalu memohon ampun atas dosa-dosanya, dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, padahal mereka mengetahui." (QS. Ali Imran: 135)
Ayat tersebut menegaskan bahwa setiap hamba yang melakukan kesalahan dianjurkan segera mengingat Allah SWT, memohon ampun, dan tidak terus-menerus mengulangi dosa yang sama.
Berdasarkan penjelasan para ulama, shalat taubat minimal dikerjakan dua rakaat. Namun, seseorang diperbolehkan menambahnya menjadi empat atau enam rakaat apabila ingin memperbanyak ibadah.
Setiap dua rakaat diakhiri dengan salam sesuai tuntunan shalat sunnah. Selain itu, shalat taubat dianjurkan dilaksanakan secara munfarid atau sendirian, bukan secara berjamaah.
Yang terpenting, pelaksanaan shalat taubat harus disertai penyesalan yang tulus, meninggalkan perbuatan dosa, serta tekad kuat untuk tidak mengulanginya.
Dengan demikian, shalat taubat menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT sekaligus memohon ampun atas segala kesalahan yang telah diperbuat.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang