Editor
KOMPAS.com - Menjelang Hari Raya Kurban, banyak umat Islam mulai mencari tahu, puasa sebelum Idul Adha apakah wajib dilakukan.
Pertanyaan ini muncul karena terdapat sejumlah puasa sunnah yang sangat dianjurkan pada 10 hari pertama bulan Dzulhijjah, terutama puasa Tarwiyah dan Arafah.
Perlu dipahami, puasa sebelum Idul Adha bukanlah ibadah wajib seperti puasa Ramadan. Puasa tersebut hukumnya sunnah, sehingga dianjurkan bagi umat Islam yang mampu menjalankannya.
Puasa Tarwiyah merupakan salah satu ibadah sunnah yang dilaksanakan pada tanggal 8 Dzulhijjah, masih dalam rangkaian 10 hari pertama bulan Dzulhijjah yang memiliki keutamaan besar.
Baca juga: Kenapa Puasa Arafah Bisa Menghapus Dosa Dua Tahun? Ini Haditsnya
Para ulama fikih sepakat bahwa pada hari tersebut terdapat kesunahan khusus untuk berpuasa. Keutamaan amal di 10 hari pertama Dzulhijjah dijelaskan dalam hadis Nabi Muhammad SAW berikut:
عن ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُمَا مَرْفُوعًا:”مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَل الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَْيَّامِ – يَعْنِي أَيَّامَ الْعَشْرِ – قَالُوا: يَا رَسُول اللَّهِ، وَلاَ الْجِهَادُ فِي سَبِيل اللَّهِ؟ قَال: وَلاَ الْجِهَادُ فِي سَبِيل اللَّهِ، إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ، فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ“
Artinya:
“Tidak ada hari-hari di mana amal saleh lebih dicintai Allah SWT daripada hari-hari ini, yakni sepuluh hari bulan Dzulhijjah. Para sahabat bertanya: Wahai Rasulullah, bahkan tidak jihad di jalan Allah? Nabi menjawab: Bahkan tidak jihad di jalan Allah, kecuali seseorang yang keluar dengan jiwa dan hartanya lalu tidak kembali sedikit pun.”
Hadis tersebut menjadi pijakan para ulama dalam menjelaskan kesunnahan memperbanyak amal, termasuk puasa, pada awal Dzulhijjah.
Para ulama dari empat mazhab memiliki penjelasan mengenai puasa Tarwiyah:
Keterangan tersebut dijelaskan dalam sejumlah kitab fikih, termasuk Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah, Nihayah Az-Zain, dan Tabyin Al-Haqaiq.
Jawabannya adalah tidak wajib. Puasa sebelum Idul Adha, termasuk puasa Tarwiyah dan Arafah, merupakan ibadah sunnah yang sangat dianjurkan.
Puasa ini menjadi kesempatan bagi umat Islam untuk memperbanyak amal saleh di bulan Dzulhijjah yang disebut sebagai salah satu waktu terbaik untuk beribadah.
Meski puasa sangat dianjurkan sebelum Idul Adha, umat Islam justru diharamkan berpuasa ketika memasuki Hari Raya Kurban dan Hari Tasyrik.
Hari-hari yang dilarang untuk berpuasa meliputi:
1. 10 Dzulhijjah atau Hari Raya Idul Adha
2. 11 Dzulhijjah
3. 12 Dzulhijjah
4. 13 Dzulhijjah
Tanggal 11 hingga 13 Dzulhijjah dikenal sebagai Hari Tasyrik.
Hari Tasyrik merupakan waktu bagi umat Islam untuk bergembira, makan, minum, serta memperbanyak takbir dan zikir kepada Allah SWT.
Pada momen ini umat Islam dianjurkan menikmati hidangan, terutama daging kurban, sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat Allah SWT. Karena itu, syariat melarang puasa pada hari-hari tersebut.
Baca juga: Puasa Tarwiyah dan Arafah: Keutamaan, Hukum, dan Bacaan Niatnya
Larangan ini juga berdampak pada puasa sunnah lain seperti Ayyamul Bidh. Pada bulan Dzulhijjah, puasa Ayyamul Bidh tidak bisa dimulai pada tanggal 13 karena masih termasuk Hari Tasyrik. Puasa baru dapat dilakukan kembali mulai 14 Dzulhijjah.
Pertanyaan puasa sebelum Idul Adha apakah wajib dapat dijawab bahwa hukumnya sunnah dan sangat dianjurkan, terutama puasa Tarwiyah pada 8 Dzulhijjah serta puasa Arafah pada 9 Dzulhijjah.
Sebaliknya, umat Islam diharamkan berpuasa pada 10 hingga 13 Dzulhijjah karena merupakan Hari Raya Idul Adha dan Hari Tasyrik. Karena itu, penting memahami jadwal puasa agar ibadah tetap sesuai tuntunan syariat.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang