KOMPAS.com – Di tengah jutaan jemaah yang berkumpul di Mina selama musim haji, terdapat satu lokasi yang selalu menjadi pusat perhatian dunia setiap tahunnya, yaitu Jamarat.
Di tempat inilah para jemaah melaksanakan ritual lontar jumrah, salah satu rangkaian wajib haji yang menjadi simbol penolakan terhadap godaan setan sebagaimana dicontohkan Nabi Ibrahim AS.
Dahulu, kawasan Jamarat dikenal sebagai salah satu titik paling padat selama pelaksanaan ibadah haji.
Namun kini kondisinya jauh berbeda. Berkat proyek pengembangan berskala besar yang dilakukan Pemerintah Arab Saudi, kompleks Jamarat telah bertransformasi menjadi fasilitas modern yang mampu menampung lebih dari 300.000 jemaah per jam.
Kemampuan tersebut menjadikan Jamarat sebagai salah satu proyek rekayasa dan manajemen kerumunan (crowd management) terbesar di dunia yang secara khusus dirancang untuk mendukung keselamatan jutaan jemaah haji.
Dilansir dari Arab News, kawasan Jamarat yang saat ini berdiri megah dulunya hanya berupa tiga pilar batu yang dikelilingi area relatif sempit.
Seiring meningkatnya jumlah jemaah haji dari tahun ke tahun, lokasi tersebut kerap mengalami kepadatan yang sangat tinggi.
Pada masa lalu, jutaan jemaah harus melewati jalur yang sama untuk melaksanakan lontar jumrah.
Kondisi ini sering menimbulkan penumpukan massa, terutama pada jam-jam tertentu ketika sebagian besar jemaah berusaha menyelesaikan ritual secara bersamaan.
Pemerintah Arab Saudi kemudian melakukan evaluasi besar-besaran terhadap sistem pelayanan haji.
Salah satu hasilnya adalah pembangunan ulang kawasan Jamarat dengan konsep yang lebih modern, aman, dan mampu mengakomodasi pertumbuhan jumlah jemaah dunia.
Kini kawasan tersebut berubah menjadi kompleks raksasa yang dirancang secara khusus dengan pendekatan teknologi, rekayasa lalu lintas manusia, serta sistem keamanan berlapis.
Baca juga: Baznas Kelola 1.240 Kambing Dam Haji, Dagingnya untuk Mustahik
Salah satu pencapaian terbesar proyek Jamarat modern adalah kemampuannya menampung lebih dari 300.000 jemaah per jam.
Kapasitas tersebut memungkinkan arus pergerakan jemaah berlangsung lebih lancar dibandingkan masa-masa sebelumnya.
Dengan sistem jalur masuk dan keluar yang terpisah, kepadatan dapat dikendalikan secara lebih efektif sehingga risiko penumpukan massa dapat diminimalkan.
Kompleks Jamarat modern memiliki panjang sekitar 950 meter dan lebar 80 meter. Bangunan utama terdiri atas lima lantai yang saling terhubung melalui jaringan jembatan dan koridor yang dirancang khusus untuk mengatur arah pergerakan jemaah.
Setiap lantai dapat digunakan secara bersamaan sehingga distribusi jemaah tidak lagi terpusat pada satu area sebagaimana yang terjadi pada masa lalu.
Modernisasi Jamarat tidak hanya terlihat dari ukuran bangunannya, tetapi juga dari fasilitas pendukung yang tersedia.
Menurut laporan Arab News, kompleks ini dilengkapi sekitar 386 eskalator yang tersebar pada 11 bangunan untuk membantu mobilitas jemaah menuju area lontar jumrah.
Selain eskalator, tersedia pula berbagai akses masuk dan keluar yang dirancang secara terpisah agar arus manusia tidak saling bertabrakan.
Jalur darurat juga disiapkan untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan selama pelaksanaan ibadah haji.
Di tengah suhu ekstrem Arab Saudi yang dapat mencapai lebih dari 45 derajat Celsius pada musim panas, sistem pendingin udara dan ventilasi modern turut dipasang untuk membantu menjaga kenyamanan jemaah.
Keberadaan fasilitas tersebut menjadi bagian penting dari upaya Saudi dalam meningkatkan kualitas pelayanan bagi tamu Allah dari seluruh dunia.
Baca juga: Jemaah Haji Mulai Tiba di Madinah, Masjid Nabawi Siapkan 141 Pintu
Pengelolaan Jamarat saat ini tidak hanya mengandalkan petugas lapangan. Berbagai perangkat teknologi mutakhir turut digunakan untuk memantau kondisi kawasan secara real time.
Kompleks ini didukung sistem manajemen terpadu yang beroperasi selama 24 jam penuh. Petugas memantau tingkat kepadatan, mengarahkan arus jemaah, hingga mengantisipasi potensi hambatan melalui pusat kendali khusus.
Perusahaan Kidana Development Company, pengembang utama proyek di bawah Komisi Kerajaan untuk Kota Makkah dan Kawasan Suci, juga melakukan berbagai peningkatan fasilitas menjelang musim haji.
Perusahaan tersebut mengoperasikan sistem teknologi yang mencakup 340 eskalator aktif, 682 kamera pengawas digital, serta perangkat pemantauan kepadatan yang terhubung secara langsung ke pusat kontrol.
Teknologi tersebut memungkinkan petugas mengetahui kondisi setiap sudut kawasan Jamarat dalam hitungan detik sehingga keputusan dapat diambil secara cepat apabila terjadi peningkatan kepadatan.
Selain pengawasan digital, Saudi juga menyiapkan berbagai fasilitas transportasi internal guna membantu pergerakan jemaah.
Sebanyak 228 kendaraan golf cart disediakan untuk mendukung mobilitas jemaah maupun petugas pelayanan di kawasan Jamarat dan sekitarnya.
Fasilitas ini sangat membantu terutama bagi jemaah lanjut usia, penyandang disabilitas, maupun petugas yang harus bergerak cepat di area yang sangat luas.
Kehadiran kendaraan tersebut menjadi bagian dari konsep pelayanan haji modern yang mengutamakan kemudahan akses dan keselamatan.
Baca juga: Jemaah Haji Diimbau Tidak Berbagi Alat Cukur saat Tahalul
Dalam ibadah haji, lontar jumrah merupakan ritual yang dilakukan dengan melempar batu kerikil ke tiga titik jumrah, yaitu Jumrah Ula, Jumrah Wustha, dan Jumrah Aqabah.
Menurut penjelasan dalam buku Ensiklopedi Haji dan Umrah karya Muhammad Ajib, ritual ini merupakan simbol perlawanan terhadap godaan setan yang pernah menghalangi Nabi Ibrahim AS ketika hendak melaksanakan perintah Allah SWT.
Oleh karena itu, lontar jumrah bukan sekadar aktivitas melempar batu. Ritual tersebut mengandung makna spiritual yang mendalam, yaitu komitmen seorang Muslim untuk melawan hawa nafsu, godaan, serta segala bentuk kemaksiatan dalam kehidupan.
Jutaan jemaah dari berbagai negara datang ke lokasi yang sama untuk menjalankan ibadah tersebut dalam rentang waktu yang relatif singkat.
Inilah yang membuat kawasan Jamarat menjadi salah satu titik paling strategis selama musim haji.
Modernisasi Jamarat juga tidak dapat dilepaskan dari berbagai evaluasi yang dilakukan Arab Saudi selama puluhan tahun.
Dalam buku The Hajj: Pilgrimage in Islam karya Eric Tagliacozzo dan Shawkat Toorawa dijelaskan bahwa meningkatnya jumlah umat Islam dunia menyebabkan penyelenggaraan haji menghadapi tantangan yang semakin kompleks, terutama terkait pengaturan kerumunan.
Karena itulah, Saudi terus berinvestasi dalam pembangunan infrastruktur berskala besar di kawasan suci, termasuk perluasan Masjidil Haram, pembangunan jalur kereta cepat Masyair, pengembangan tenda-tenda modern di Mina, hingga rekonstruksi total kompleks Jamarat.
Langkah tersebut menjadikan pelaksanaan ibadah haji saat ini jauh lebih aman dibandingkan beberapa dekade sebelumnya.
Transformasi Jamarat menunjukkan bagaimana teknologi dan rekayasa modern dapat digunakan untuk mendukung pelaksanaan ibadah yang telah berlangsung selama lebih dari 14 abad.
Dari sekadar pilar batu sederhana di tengah padang pasir, kawasan ini kini berubah menjadi salah satu fasilitas keagamaan paling canggih di dunia.
Kemampuan menampung lebih dari 300.000 jemaah per jam menjadi bukti besarnya investasi Arab Saudi dalam meningkatkan pelayanan dan keselamatan haji.
Bagi jutaan Muslim yang datang dari berbagai penjuru dunia setiap tahun, Jamarat bukan hanya lokasi pelaksanaan lontar jumrah.
Tempat ini juga menjadi simbol bagaimana ibadah, teknologi, dan manajemen modern dapat berpadu demi memastikan perjalanan spiritual umat Islam berlangsung dengan aman, nyaman, dan khusyuk.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang