Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Mengapa Baca Yasin 3 Kali Saat Malam 1 Muharram? Ini Penjelasannya

Kompas.com, 15 Juni 2026, 16:00 WIB
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Memasuki malam 1 Muharram, banyak masjid, mushala, majelis taklim, hingga keluarga muslim di Indonesia menggelar pembacaan Surat Yasin sebanyak tiga kali.

Tradisi ini sudah begitu akrab di tengah masyarakat, terutama di kalangan Nahdlatul Ulama (NU), sehingga sering dianggap sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari peringatan Tahun Baru Islam.

Namun tidak sedikit yang bertanya, mengapa Surat Yasin dibaca tiga kali? Apakah amalan ini berasal dari Rasulullah SAW? Apa makna di balik pembacaan Yasin tiga kali pada malam pergantian tahun Hijriah?

Pertanyaan tersebut menarik untuk dibahas karena tradisi ini tidak hanya berkaitan dengan ibadah membaca Al-Qur'an, tetapi juga mencerminkan cara umat Islam memaknai pergantian waktu sebagai momentum muhasabah, doa, dan harapan untuk kehidupan yang lebih baik.

Dilansir dari NU Jawa Timur (NU Jatim), pembacaan Surat Yasin tiga kali pada malam Tahun Baru Islam merupakan tradisi yang berkembang di kalangan masyarakat muslim sebagai sarana berdoa dan memohon keberkahan kepada Allah SWT saat memasuki tahun yang baru.

Tradisi ini memang tidak ditemukan secara khusus dalam hadis yang memerintahkan pembacaan Yasin tiga kali pada malam 1 Muharram.

Namun para ulama memandangnya sebagai bagian dari amalan yang baik karena berisi pembacaan Al-Qur'an, doa, zikir, serta harapan kepada Allah SWT.

Malam 1 Muharram sebagai Momentum Muhasabah

Dalam kalender Hijriah, Muharram merupakan bulan pertama sekaligus salah satu dari empat bulan mulia (al-asyhur al-hurum) yang dimuliakan Allah SWT.

Allah berfirman:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ

Artinya: "Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan dalam ketetapan Allah ketika Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram (mulia)." (QS At-Taubah: 36).

Karena menjadi awal tahun dalam penanggalan Islam, malam 1 Muharram sering dimaknai sebagai waktu untuk melakukan evaluasi diri.

Umat Islam diajak menengok kembali perjalanan hidup selama setahun terakhir sekaligus menyusun harapan dan tekad untuk menjadi pribadi yang lebih baik pada tahun berikutnya.

Dalam kitab Ihya Ulumiddin, Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa muhasabah merupakan amalan penting bagi seorang mukmin.

Dengan mengevaluasi amal dan memperbaiki kesalahan, seseorang akan lebih mudah meningkatkan kualitas ibadah dan akhlaknya.

Tradisi membaca Yasin tiga kali lahir dari semangat tersebut, yaitu menjadikan pergantian tahun bukan sekadar seremoni, tetapi momentum spiritual untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Baca juga: Jelang 1 Muharram 1448 H, Kabah Akan Diselimuti Kiswah Baru

Dari Tradisi Nisfu Sya'ban ke Malam Tahun Baru Islam

Sejumlah ulama menjelaskan bahwa tradisi membaca Surat Yasin tiga kali sebenarnya lebih dahulu dikenal dalam amalan malam Nisfu Sya'ban.

Dalam perkembangannya, masyarakat muslim Nusantara kemudian menerapkan amalan serupa pada malam 1 Muharram karena memiliki semangat yang hampir sama, yaitu memohon keberkahan, perlindungan, serta kebaikan hidup pada masa yang akan datang.

Tradisi ini berkembang melalui jaringan pesantren, majelis zikir, dan komunitas keagamaan yang menekankan pentingnya memperbanyak doa pada waktu-waktu yang dianggap istimewa.

Karena itu, pembacaan Yasin tiga kali lebih dipahami sebagai tradisi keagamaan yang berisi doa dan harapan, bukan sebagai kewajiban agama yang harus dilakukan setiap muslim.

Mengapa Surat Yasin yang Dipilih?

Pertanyaan lain yang sering muncul adalah mengapa Surat Yasin yang dibaca, bukan surat lainnya.

Surat Yasin memiliki kedudukan istimewa dalam tradisi Islam. Surat ke-36 dalam Al-Qur'an ini berisi penjelasan tentang tauhid, kerasulan, hari kebangkitan, kekuasaan Allah SWT, serta berbagai pelajaran mengenai kehidupan manusia.

Banyak ulama menyebut Surat Yasin sebagai qalbul Qur'an atau "jantung Al-Qur'an" karena kandungannya yang merangkum pesan-pesan pokok Al-Qur'an.

Dalam buku Tafsir Surat Yasin: Metode Mudah Memahami Kandungan Hati Al-Qur'an karya Ahmad Atabik dijelaskan bahwa Surat Yasin mengandung tema-tema fundamental yang menjadi inti ajaran Islam, mulai dari keimanan, kehidupan setelah kematian, hingga bukti kekuasaan Allah yang tampak di alam semesta.

Karena itulah, membaca Surat Yasin dianggap sebagai sarana mengingat kembali tujuan hidup manusia sekaligus memperkuat hubungan spiritual dengan Allah SWT.

Baca juga: Makna Pawai Obor Malam 1 Muharram, Tradisi Sambut Tahun Baru Islam

Makna Tiga Kali Pembacaan Surat Yasin

Dalam tradisi yang berkembang di berbagai daerah, setiap pembacaan Surat Yasin disertai niat dan harapan yang berbeda.

1. Yasin Pertama: Memohon Umur yang Penuh Keberkahan

Pembacaan pertama biasanya diniatkan untuk memohon umur panjang yang dipenuhi ketaatan kepada Allah SWT.

Bukan sekadar panjang usia, tetapi usia yang bermanfaat, dipenuhi amal saleh, dan menjadi sarana mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

Harapan ini sejalan dengan hadis Rasulullah SAW:

"Sebaik-baik manusia adalah yang panjang umurnya dan baik amalnya." (HR Tirmidzi).

2. Yasin Kedua: Memohon Perlindungan dari Musibah

Pembacaan kedua ditujukan sebagai doa agar Allah SWT melindungi dari berbagai bencana, fitnah, penyakit, dan keburukan yang mungkin terjadi pada tahun mendatang.

Dalam kehidupan yang penuh ketidakpastian, doa menjadi bentuk pengakuan bahwa manusia memiliki keterbatasan dan membutuhkan pertolongan Allah dalam setiap keadaan.

3. Yasin Ketiga: Memohon Kelapangan Rezeki dan Keteguhan Iman

Pembacaan ketiga biasanya diniatkan untuk memohon kecukupan rezeki, kelapangan hati, serta kekuatan iman hingga akhir hayat.

Para ulama menekankan bahwa kekayaan yang paling utama bukanlah banyaknya harta, melainkan hati yang merasa cukup dan selalu bersyukur.

Keutamaan Membaca Surat Yasin Menurut Para Ulama

Terlepas dari perbedaan pendapat mengenai kualitas sebagian hadis tentang Yasin, para ulama sepakat bahwa membaca Al-Qur'an merupakan amalan yang sangat dianjurkan.

Dalam kitab Riyadhus Shalihin, Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa setiap huruf Al-Qur'an yang dibaca akan mendatangkan pahala bagi pembacanya.

Surat Yasin sendiri sejak lama menjadi salah satu surat yang paling sering dibaca umat Islam karena kandungannya yang menyentuh aspek keimanan dan kehidupan akhirat.

Selain itu, para ulama juga menganjurkan pembacaan Yasin dalam berbagai kesempatan, seperti majelis doa, saat menjenguk orang sakit, maupun ketika seseorang sedang menghadapi kesulitan hidup.

Baca juga: 30 Ucapan Selamat Tahun Baru Islam 1 Muharram dalam Bahasa Jawa Krama dan Artinya

Doa Menjadi Inti dari Tradisi Yasin 3 Kali

Yang sebenarnya menjadi inti dari tradisi Yasin tiga kali bukanlah jumlah bacaannya semata, melainkan doa yang menyertainya.

Setelah membaca Yasin, umat Islam biasanya memanjatkan doa yang berisi permohonan perlindungan, keselamatan, kesehatan, keberkahan rezeki, kemudahan urusan, serta ampunan bagi diri sendiri dan keluarga.

Tradisi ini menunjukkan bahwa pergantian tahun dalam Islam tidak dirayakan dengan pesta atau kemeriahan berlebihan, melainkan dengan refleksi diri, membaca Al-Qur'an, berzikir, dan berdoa kepada Allah SWT.

Bolehkah Tidak Membaca Yasin 3 Kali?

Karena bukan ibadah yang diwajibkan maupun disunnahkan secara khusus oleh Rasulullah SAW pada malam 1 Muharram, maka tidak ada kewajiban bagi seorang muslim untuk melaksanakan tradisi ini.

Seseorang tetap dapat mengisi malam Tahun Baru Islam dengan berbagai amalan lain seperti membaca Al-Qur'an, berzikir, bersedekah, berdoa, melakukan muhasabah, atau memperbanyak ibadah sunnah lainnya.

Para ulama menjelaskan bahwa selama amalan tersebut berisi kebaikan dan tidak bertentangan dengan syariat, maka dapat menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Menyambut Tahun Baru dengan Harapan yang Lebih Baik

Pada akhirnya, tradisi membaca Surat Yasin tiga kali pada malam Tahun Baru Islam merupakan salah satu bentuk ekspresi spiritual umat Islam dalam menyambut datangnya tahun yang baru.

Tradisi yang berkembang luas di Indonesia ini mengandung pesan penting tentang harapan, doa, dan introspeksi diri.

Melalui pembacaan Al-Qur'an dan doa bersama, umat Islam diajak mengawali tahun baru Hijriah dengan hati yang lebih tenang, niat yang lebih baik, serta tekad untuk meningkatkan kualitas iman dan amal saleh.

Terlepas dari perbedaan pandangan mengenai tradisi tersebut, nilai utama yang ingin dibangun adalah mendekatkan diri kepada Allah SWT, memohon perlindungan-Nya, dan menjadikan setiap pergantian waktu sebagai kesempatan untuk menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com