Editor
KOMPAS.com - Kementerian Kebudayaan terus memperkuat upaya pemajuan kebudayaan Indonesia melalui kolaborasi dengan berbagai lembaga, institusi, dan komunitas.
Salah satu fokus yang didorong adalah penguatan budaya Islam sebagai bagian dari kekayaan budaya nasional.
Langkah tersebut dilakukan melalui pelestarian warisan budaya, pengembangan seni, hingga dukungan terhadap program literasi dan dokumentasi sejarah Islam di Indonesia.
Baca juga: Oleh-oleh Haji: Memori Kolektif dan Transmisi Nilai Budaya Desa
Komitmen itu disampaikan Menteri Kebudayaan Fadli Zon saat menerima jajaran Lembaga Seni Budaya dan Peradaban Islam Majelis Ulama Indonesia (MUI) di Jakarta.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengatakan pelestarian budaya Islam telah menjadi bagian dari berbagai program Kementerian Kebudayaan, baik dalam perlindungan warisan budaya benda maupun budaya takbenda.
Baca juga: Dari Museum ke Bahasa, Indonesia-Arab Saudi Perkuat Diplomasi Budaya
Pada aspek budaya benda, Kementerian Kebudayaan terus mendukung pelestarian berbagai masjid bersejarah yang telah ditetapkan sebagai cagar budaya.
Sementara itu, pada aspek budaya takbenda, dukungan diberikan terhadap berbagai bentuk ekspresi budaya Islam yang tumbuh di Indonesia sebagai hasil proses akulturasi dengan tradisi dan budaya lokal.
Selain pelestarian budaya, Kementerian Kebudayaan juga menghadirkan berbagai platform untuk mendukung kreativitas generasi muda di lingkungan pesantren.
Salah satunya melalui penyelenggaraan Santri Film Festival yang menjadi wadah bagi para santri untuk mengangkat kisah, ajaran, dakwah, maupun kehidupan pesantren melalui karya film.
“Yang kita buat platformnya itu salah satunya di bidang film, yaitu Santri Film Festival, yang sekarang menjadi bagian dari kegiatan strategis dan prioritas di Dana Indonesia Raya. Karena kita yakin bahwa di pesantren juga cukup banyak talenta-talenta,” ujar Menbud Fadli dalam keterangan resminya yang diterima di Jakarta, Rabu (1/7/2026).
Di luar bidang perfilman, Kementerian Kebudayaan juga membuka peluang pengembangan seni bernuansa Islami, termasuk seni kasidah, melalui kolaborasi dengan berbagai organisasi dan komunitas.
Fadli Zon menegaskan komitmen Kementerian Kebudayaan untuk memperluas kerja sama dengan berbagai lembaga dan institusi, termasuk Lembaga Seni Budaya dan Peradaban Islam Majelis Ulama Indonesia (MUI).
Komitmen tersebut disampaikan saat melakukan pertemuan strategis dengan jajaran Lembaga Seni Budaya dan Peradaban Islam MUI di Kantor Kementerian Kebudayaan, Jakarta.
Dalam pertemuan itu, pihak MUI memaparkan rencana penyelenggaraan Pra-Kongres Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) bertajuk "Arah Baru Budaya Islam Indonesia: Budaya Islam sebagai Kekuatan Dakwah, Akar Persatuan, dan Kemajuan Bangsa".
Kegiatan tersebut akan mempertemukan para seniman, budayawan, ulama, dan tokoh kebudayaan Islam Indonesia dalam rangkaian Maestro Summit yang dijadwalkan berlangsung pada 18–19 Juli 2026 di Pondok Pesantren Daar El-Qolam, Gintung, Balaraja, Tangerang.
Fadli Zon menjelaskan Kementerian Kebudayaan memiliki skema pendanaan melalui Dana Indonesia Raya yang dapat dimanfaatkan komunitas, lembaga, maupun organisasi kebudayaan untuk menjalankan berbagai program strategis.
“Kementerian Kebudayaan mempersilakan Lembaga Seni Budaya dan Peradaban Islam MUI mengajukan proposal program sesuai mekanisme yang berlaku, termasuk untuk program penulisan sejarah, penyusunan ensiklopedia, maupun berbagai kegiatan pemajuan kebudayaan lainnya,” tutur Menbud.
Wakil Sekretaris Jenderal Bidang Seni Budaya MUI Erick Yusuf menyampaikan bahwa penyelenggaraan Maestro Summit juga diharapkan menjadi momentum penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Kementerian Kebudayaan dan MUI sebagai bentuk penguatan sinergi program ke depan.
Selain itu, MUI mengundang Menteri Kebudayaan Fadli Zon untuk menyampaikan pidato peradaban yang akan menjadi bagian dari penyusunan manifesto peradaban Islam Indonesia.
MUI juga menawarkan berbagai ruang kolaborasi dengan Kementerian Kebudayaan, mulai dari pengembangan Festival Film Santri, penelitian dan penulisan sejarah Islam Indonesia, pengembangan seni musik Islami, lomba cipta lagu anak, hingga berbagai program penguatan seni budaya Islam.
Pada bidang literasi dan dokumentasi kebudayaan, Lembaga Seni Budaya dan Peradaban Islam MUI telah menyusun Ensiklopedi Budaya Islam Indonesia sebanyak tujuh jilid.
Lembaga tersebut juga berencana melanjutkan penyusunan Sejarah Umat Islam Indonesia serta Ensiklopedi Seni Budaya Islam Indonesia yang akan mendokumentasikan sekitar 500 unsur budaya Islam dari berbagai daerah di Indonesia.
Kolaborasi antara Kementerian Kebudayaan dan MUI diharapkan dapat memperkuat pelestarian, dokumentasi, dan pengembangan budaya Islam sebagai bagian dari kekayaan budaya nasional, sekaligus memperluas ruang partisipasi masyarakat dalam berbagai program pemajuan kebudayaan di Indonesia.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang