Editor
KOMPAS.com - Workshop angkatan ketujuh bagi pengasuh pesantren diselenggarakan selama 14 jam lebih, mulai pukul 08.00 hingga 22.30 WIB, pada Sabtu (11/7/2026) di Joglo Agung Pesantren VIP Bina Insan Mulia 2 Cirebon.
Kegiatan ini diikuti oleh 360 pengasuh pesantren dari Jawa Timur dan Daerah Khusus Jogjakarta dengan total partisipasi mencapai 2.800 pengasuh pesantren dari berbagai wilayah.
Menurut panitia, jumlah peserta workshop kali ini telah mencapai 55 persen lebih dari target 5.000 peserta, atau setara dengan 2.800 pengasuh pesantren yang masing-masing memiliki 100 hingga 3.000 santri.
Sebanyak 2.440 pengasuh pesantren berasal dari Jawa Barat 1, Jawa Barat 2, Banten, DKI Jakarta, Lampung, dan Jawa Tengah.
Baca juga: Resmi! S3 Perbankan Syariah UIN Jakarta Masuk Daftar Beasiswa LPDP 2026
Sisanya merupakan peserta dari luar Jawa, meliputi Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi.
Pada segmen puncak, narasumber tunggal KH Imam Jazuli Lc MA memaparkan strategi, tips, dan trik untuk meraih peluang beasiswa perguruan tinggi di berbagai negara serta masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di dalam negeri.
"Dari pengalaman Bina Insan Mulia menghantarkan 70 persen lulusan ke 16 negara di dunia di kampus-kampus internasional dan 30 persen ke PTN terdepan di dalam negeri, ada pengalaman yang bisa saya share dengan para pengasuh pesantren," ungkapnya dilansir dari keterangan tertulis, Minggu (12/7/2026).
Kiai Imam Jazuli menekankan bahwa materi dalam segmen puncak merupakan bagian terpenting dalam transformasi pesantren.
Ia menyatakan, hasil transformasi pesantren harus dapat dilihat dan dibuktikan melalui output yang dihasilkan.
"Ketika output-nya jelas, maka kepercayaan masyarakat terhadap pesantren juga semakin kuat yang berdampak pada meningkatnya kuantitas santri. Masyarakat saat ini bertanya lulusan pesantren ini bisa melanjutkan ke perguruan tinggi mana saja?" jelasnya.
Perubahan ekspektasi masyarakat tersebut, menurut pengasuh Pesantren Bina Insan Mulia, perlu direspons positif oleh pesantren.
Hal ini karena santri yang berhasil melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi terbaik, baik di dalam maupun luar negeri, memiliki peluang lebih besar untuk berkontribusi dalam pembangunan dan mencapai kesejahteraan hidup.
"Jangan sampai lulusan pesantren hanya mampu menempati posisi marginal dalam pembangunan sehingga kurang berdampak bagi perubahan Indonesia. Lebih celaka lagi, jika pesantren tidak banyak mengubah kemiskinan di kehidupan para santri," tegas Kiai Imam Jazuli.
Ia juga mengingatkan, "janganlah pengasuh pesantren mendorong para santri untuk menjadi ustaz atau kiai seperti dirinya. Lalu melanjutkan ke jurusan keagamaan. Boleh, tapi maksimal 5-10 persen. Jangan semuanya. Ini bahaya!" serunya.
Melalui workshop ini, Kiai Imam Jazuli mendorong transformasi pesantren agar dapat merebut peluang masuk PTN dan beasiswa luar negeri pada jurusan-jurusan yang relevan dengan pembangunan Indonesia, seperti persenjataan, teknologi digital, kedokteran, atau pertambangan.
"Strategi, tip, dan trik sudah saya paparkan semua, tinggal menunggu satu hal untuk melakukan transformasi, yaitu nyali keberanian para kiai," tegasnya.
Kiai Wahyudi dari Ngawi menyatakan pencerahan atas strategi yang dibagikan Kiai Imam Jazuli, terutama karena banyak lembaga lain merahasiakan resep keberhasilan mereka.
Kiai Fahmi dari Jogjakarta menambahkan bahwa langkah transformasi yang diperolehnya relevan dengan solusi yang dibutuhkan untuk mengatasi masalah dan merebut peluang, khususnya ke Mesir, China, dan Rusia.
Ketua Panitia, Ubaydillah Anwar, menjelaskan bahwa fokus workshop adalah peningkatan kuantitas santri melalui peningkatan kualitas pendidikan dengan transformasi.
Baca juga: Ribuan Santri Rasakan Manfaat Beasiswa Kemenag-LPDP, Beberapa Sudah Lulus Kuliah
"Transformasi bukan sekadar memperbaiki bagian-bagian tertentu, tetapi perubahan fundamental," jelasnya.
Mengenai pendanaan, Ubaydillah menyebutkan bahwa seluruh biaya bersumber dari Imam Jazuli Foundation (IJF).
"Lembaga ini memang sejak awal fokus pada beasiswa para santri berprestasi, pengembangan dai, dan kegiatan transformasi pesantren," pungkasnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang