Editor
KOMPAS.com - Bulan Safar merupakan bulan kedua dalam kalender Hijriah yang memiliki makna penting dalam sejarah Islam.
Berdasarkan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) Muhammadiyah, 1 Safar 1448 H bertepatan dengan 15 Juli 2026.
Meski Tahun Baru Hijriah diperingati setiap bulan Muharram, secara historis Rasulullah Muhammad SAW memulai hijrah dari Makkah ke Madinah pada bulan Safar.
Baca juga: Benarkah Dilarang Menikah di Bulan Safar? Ini Penjelasan Hadits dan Pendapat Ulama
Peristiwa tersebut menjadi titik awal lahirnya peradaban Islam sekaligus mengandung banyak pelajaran bagi umat Islam hingga saat ini.
Dilansir dari laman muhammadiyah.or.id, Anggota Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Akhmad Arif Rifan, menjelaskan bahwa Rasulullah SAW memulai hijrah dari Makkah menuju Madinah pada 27 Safar tahun ke-14 kenabian, atau sekitar 12–13 September 622 M.
Baca juga: Safar Bukan Bulan Sial, Ini 5 Doa yang Dianjurkan untuk Diamalkan
Menurutnya, banyak masyarakat yang mengaitkan hijrah dengan bulan Muharram karena Muharram menjadi awal kalender Hijriah. Padahal, secara sejarah, perjalanan hijrah Rasulullah SAW berlangsung pada bulan Safar.
Ia menjelaskan penetapan Muharram sebagai awal tahun Hijriah baru dilakukan pada masa Khalifah Umar bin Khattab RA.
Muharram dipilih karena menjadi awal tekad kaum Muslim untuk berhijrah setelah Baiat Aqabah, sedangkan peristiwa hijrah terjadi pada bulan Safar.
Sesampainya di Madinah, Rasulullah SAW segera meletakkan fondasi masyarakat Islam melalui tiga langkah utama.
Langkah pertama adalah mendirikan Masjid Nabawi sebagai pusat ibadah sekaligus pusat pendidikan, musyawarah, pelayanan sosial, dan pembinaan umat.
Masjid tidak hanya menjadi tempat salat, tetapi juga menjadi pusat pengambilan berbagai kebijakan yang membangun masyarakat Madinah.
Langkah kedua adalah mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar. Ikatan persaudaraan tersebut melampaui hubungan darah, suku, maupun status sosial.
Al-Qur'an mengabadikan keteladanan kaum Anshar yang lebih mengutamakan saudaranya meskipun mereka sendiri berada dalam keadaan kekurangan. Semangat ukhuwah inilah yang menjadi kekuatan utama masyarakat Islam pada masa awal.
Langkah ketiga adalah menyusun perjanjian yang mengatur kehidupan internal umat Islam sekaligus membangun tatanan sosial yang tertib di Madinah.
Perjanjian tersebut menjadi fondasi lahirnya masyarakat yang damai, adil, serta mampu hidup berdampingan dalam keberagaman.
Akhmad Arif Rifan menegaskan bahwa datangnya bulan Safar tidak hanya dimaknai sebagai pergantian bulan dalam kalender Hijriah. Bulan ini menjadi pengingat bahwa perubahan besar selalu diawali dengan keberanian meninggalkan keburukan menuju kehidupan yang lebih baik.
Karena itu, meneladani hijrah Rasulullah SAW berarti terus memperbaiki diri, menjaga integritas, memperkuat persaudaraan, serta menjadikan sirah Nabi sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, setiap Muslim yang menginginkan kebahagiaan dan keselamatan hendaknya mengikuti petunjuk Rasulullah SAW, mengenal perjalanan hidup beliau, serta meneladani akhlaknya dalam setiap aspek kehidupan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang