Editor
BENGKULU, KOMPAS.com - Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah KH Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin memaparkan lima pilar strategis yang dinilai menjadi arah perjuangan Nahdlatul Ulama (NU) dalam menghadapi dinamika sosial, ekonomi, hingga geopolitik global.
Pernyataan tersebut disampaikan Gus Rozin di Bengkulu, Senin (3/8/2026). Menurut dia, sebagai organisasi kemasyarakatan Islam terbesar di Indonesia, NU perlu terus memperkuat konsolidasi internal sekaligus memperluas kontribusinya bagi bangsa dan dunia.
"Lima pilar ini menjadi panduan gerak langkah Jam'iyah agar tetap mampu menjawab berbagai tantangan yang terus berkembang," ujar Gus Rozin dalam rilisnya, Senin (3/8/2026).
Baca juga: 30 Hari Jelang Muktamar NU, Survei Insantara: KH Imam Jazuli Teratas
Gus Rozin mengatakan, penguatan ukhuwah nahdliyah menjadi fondasi utama dalam menjaga soliditas organisasi.
Menurut dia, persatuan pemikiran (fikrah) dan gerakan (amaliyah) dari tingkat ranting hingga Pengurus Besar Nahdlatul Ulama menjadi modal penting dalam menjaga ketahanan organisasi.
Selain itu, NU juga perlu memperkuat kemandirian melalui optimalisasi potensi ekonomi dan sumber daya yang dimiliki warga.
"Kemandirian finansial dan tata kelola organisasi yang profesional menjadi prioritas agar NU dapat menjalankan misi dakwah, sosial, dan kemanusiaan secara independen dan berkesinambungan," katanya.
Baca juga: Sejarah dan Daftar Lokasi Muktamar NU 1926-2026
Pada pilar ketiga, Gus Rozin menegaskan posisi NU sebagai bagian dari masyarakat sipil (civil society) yang berperan sebagai shohibul hukumah atau mitra strategis pemerintah.
Menurut dia, NU akan terus mendukung kebijakan yang berpihak kepada kepentingan masyarakat, sekaligus memberikan masukan dan kontrol sosial secara konstruktif.
"NU mendukung penuh kebijakan publik yang berorientasi pada kemaslahatan rakyat, seraya tetap konsisten memberikan masukan, koreksi, dan kontrol sosial yang konstruktif," ujarnya.
Gus Rozin juga menekankan pentingnya modernisasi sistem pendidikan di lingkungan NU, mulai dari pesantren hingga perguruan tinggi.
Ia mengatakan, sistem pendidikan yang terintegrasi perlu menggabungkan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah, wawasan kebangsaan, serta penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk mencetak generasi yang mampu bersaing secara global.
Selain itu, ia menilai kiprah internasional NU merupakan bagian dari sejarah organisasi yang perlu terus diperkuat.
Menurut Gus Rozin, diplomasi Komite Hijaz menjadi bukti bahwa NU sejak awal telah memiliki peran dalam percaturan dunia.
"Ke depan, NU terus berkomitmen memperkuat diplomasi perdamaian dunia dan menggemakan Islam Rahmatan lil 'Alamin di kancah internasional," katanya.
Ia berharap lima pilar tersebut dapat menjadi pijakan bagi NU untuk terus memperkuat perannya sebagai organisasi yang menjaga persatuan bangsa sekaligus berkontribusi dalam mewujudkan perdamaian dunia.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang