Editor
KOMPAS.com – Pola makan vegetarian dan berbasis tumbuhan (plant-forward) mulai semakin dikenal di Arab Saudi. Jika beberapa tahun lalu memilih tidak mengonsumsi produk hewani dianggap tidak biasa, kini pilihan tersebut perlahan mendapat ruang yang lebih luas di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan.
Ahli gizi King Faisal Specialist Hospital, Nada Al-Dagher, mengatakan perubahan tersebut merupakan bagian dari pergeseran cara masyarakat Arab Saudi memandang makanan dan kesehatan.
“Selama satu dekade terakhir, Arab Saudi mengalami perubahan signifikan menuju kebiasaan makan yang lebih sehat,” ujar Al-Dagher dikutip dari Arab News.
Menurutnya, perubahan tersebut didorong meningkatnya kesadaran terhadap penyakit yang berkaitan dengan gaya hidup, berbagai inisiatif kesehatan dalam kerangka Vision 2030, serta semakin mudahnya masyarakat mendapatkan informasi mengenai nutrisi.
Al-Dagher mengatakan, meningkatnya konsumsi makanan berbasis tumbuhan tidak serta-merta berarti semakin banyak masyarakat Arab Saudi yang menjadi vegetarian.
Sebagian masyarakat hanya mulai memperbanyak konsumsi makanan nabati sekaligus mengurangi produk hewani.
“Banyak orang sekadar meningkatkan asupan makanan nabati sambil mengurangi produk hewani,” katanya.
Menurut Al-Dagher, perubahan tersebut merupakan tren positif yang sejalan dengan bukti-bukti nutrisi saat ini.
Masyarakat juga semakin memperhatikan risiko penyakit kronis seperti obesitas, diabetes tipe 2, hipertensi, dan penyakit kardiovaskular.
Meski demikian, Al-Dagher mengingatkan bahwa pola makan vegetarian tidak otomatis sehat.
Menurutnya, pola makan yang didominasi karbohidrat olahan, minuman manis, dan makanan ultra-proses tetap dapat membuat seseorang kekurangan kualitas nutrisi meskipun tidak mengonsumsi daging.
Ia menjelaskan, kebutuhan protein tetap dapat dipenuhi melalui berbagai sumber makanan seperti kacang-kacangan, kedelai, lentil, susu dan produk olahannya, telur bagi lacto-ovo vegetarian, kacang-kacangan, biji-bijian, serta gandum utuh.
Dengan demikian, kunci pola makan vegetarian bukan sekadar menghindari daging, melainkan memastikan kebutuhan nutrisi tubuh tetap terpenuhi melalui makanan yang beragam dan seimbang.
Perubahan tersebut juga dirasakan langsung oleh masyarakat yang menjalani pola makan vegetarian dan vegan.
Dina Al-Ahmari, 22 tahun, mulai menjadi vegetarian pada 2019 karena ingin mengetahui apakah pola makan tersebut dapat meningkatkan kesehatan dan gaya hidupnya.
Namun, ia akhirnya kembali mengonsumsi daging karena kesulitan mempertahankan pola makan vegetarian yang sehat dan seimbang dengan pilihan makanan yang tersedia saat itu.
Pengalaman serupa juga dirasakan Ohoud Alomrani, 27 tahun. Ia menjadi vegan pada 2017 ketika masih kuliah karena ingin menurunkan berat badan dan menjalani pola hidup lebih sehat.
Setelah beberapa tahun menjadi vegan, Alomrani beralih menjadi vegetarian pada 2025.
“Seiring waktu, ini menjadi lebih dari sekadar diet. Ini berubah menjadi gaya hidup yang terasa alami dan nyaman bagi saya,” tuturnya.
Menurut Alomrani, pilihan untuk tidak mengonsumsi daging dan produk susu ketika itu masih dianggap tidak biasa di Arab Saudi karena budaya kuliner masyarakat sangat erat dengan makanan berbahan daging dan produk hewani.
Alomrani mengatakan, salah satu perubahan paling terasa dalam beberapa tahun terakhir adalah semakin mudahnya menemukan pilihan makanan vegetarian dan vegan.
Jika lima atau 10 tahun lalu restoran yang menyediakan menu vegan masih jarang, kini sejumlah restoran mulai memasukkan pilihan tersebut ke dalam menu mereka.
“Perbedaan terbesar adalah aksesibilitas,” katanya.
Menurutnya, supermarket juga kini menyediakan lebih banyak pilihan makanan yang dapat dikonsumsi vegetarian dan vegan dibandingkan sebelumnya.
Meski demikian, masyarakat masih kerap menunjukkan rasa ingin tahu ketika mengetahui seseorang memilih menjadi vegetarian.
“Banyak orang masih terkejut ketika mengetahui saya vegetarian. Mereka sering bertanya, ‘Kenapa?’ atau ‘Apakah karena alergi?’” ujarnya.
Menurut Alomrani, hal itu menunjukkan bahwa penerimaan masyarakat telah berkembang, meskipun rasa penasaran terhadap pola makan tersebut masih cukup tinggi.
Baca juga: Apa Itu Side Hustle? Tren Baru Anak Muda Arab Saudi yang Ubah Cara Kerja dan Hidup
Di tengah meningkatnya pilihan makanan vegetarian, kehidupan sosial masih menjadi salah satu tantangan bagi vegetarian di Arab Saudi.
Alomrani mengatakan acara keluarga, pernikahan, dan berbagai kegiatan sosial lainnya umumnya masih menyajikan menu yang berpusat pada daging atau makanan laut.
“Menu prasmanan biasanya berpusat pada daging atau makanan laut, sehingga pilihan saya sering sangat terbatas,” katanya.
Dalam kondisi tersebut, ia biasanya hanya mengonsumsi salad, makanan pembuka, atau beberapa menu vegetarian yang tersedia.
Perubahan pola makan ini menunjukkan bahwa vegetarianisme di Arab Saudi masih menjadi pilihan yang relatif khusus, tetapi semakin mudah dijalani seiring meningkatnya kesadaran kesehatan dan berkembangnya pilihan makanan berbasis tumbuhan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang