Editor
KOMPAS.com - Berdasarkan Kalender Hijriah Indonesia 2026 yang diterbitkan Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama RI, bulan Safar 1448 H berakhir pada 13 Agustus 2026.
Dengan demikian, Rebo Wekasan 2026 jatuh pada Rabu, 12 Agustus 2026. Karena pergantian hari dalam kalender Qomariah dimulai setelah matahari terbenam, amalan Rebo Wekasan dapat dilakukan sejak Selasa malam, 11 Agustus 2026.
Rebo Wekasan merupakan tradisi yang dilaksanakan pada Rabu terakhir bulan Safar dalam kalender Hijriah. Istilah tersebut berasal dari bahasa Jawa, yakni Rebo yang berarti Rabu dan wekasan yang berarti terakhir atau penutup.
Baca juga: Doa Rebo Wekasan 2026 Lengkap: Arab, Latin, dan Artinya
Sejumlah amalan umum seperti berdoa, beristighfar, membaca Al-Qur'an, dan bersedekah dapat dilakukan sebagai bentuk ikhtiar mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Di sejumlah daerah, masyarakat mengisi Rebo Wekasan dengan berbagai ritual yang dimaksudkan sebagai ikhtiar memohon perlindungan dari bala dan musibah. Tradisi ini berkembang secara turun-temurun di kalangan masyarakat Jawa, Sunda, Madura, dan sejumlah daerah lainnya.
Baca juga: Apa Itu Rebo Wekasan? Mengenal Tradisi Rabu di Terakhir Bulan Safar
Melansir Tebuireng Online, asal-usul tradisi Rebo Wekasan dikaitkan dengan anjuran Syeikh Ahmad bin Umar Ad-Dairobi (w. 1151 H) dalam kitab Fathul Malik Al-Majid Al-Mu-Allaf Li Naf’il ‘Abid Wa Qam’i Kulli Jabbar ‘Anid atau yang biasa disebut Mujarrobat ad-Dairobi.
Dalam kitab Al-Jawahir Al-Khams karya Syeikh Muhammad bin Khathiruddin Al-‘Atthar (w. th 970 H) disebutkan:
"Sesungguhnya dalam setiap tahun diturunkan 320.000 bencana (bala) dan semuanya diturunkan pada hari Rabu akhir dari bulan Safar, maka hari itu merupakan hari yang paling berat dalam setahun."
Terkait amalan Rebo Wekasan, perlu dimahami bahwa tidak ada ketentuan dalam Islam yang menetapkan bulan atau hari tertentu sebagai pembawa kesialan.
Ketika seorang Muslim mengkhawatirkan datangnya suatu keburukan, yang dianjurkan adalah memperbanyak ketaatan, doa, ketakwaan, dan tawakal kepada Allah. Sebab, hanya Allah yang menentukan datang atau terhindarnya seseorang dari suatu musibah.
Setiap peristiwa terjadi atas ketetapan Allah SWT dan bukan semata-mata disebabkan oleh waktu atau tanggal tertentu. Karena itu, amalan Rebo Wekasan sebaiknya ditempatkan sebagai bentuk ibadah, doa, ikhtiar, dan tawakal kepada Allah, bukan karena meyakini bahwa hari tersebut pasti membawa kesialan.
Berikut sejumlah amalan yang dapat dilakukan.
Dalam hukum Islam, shalat sunnah ini hukumnya tak boleh jika diniatkan sebagai shalat Rebo Wekasan secara khusus. Namun, jika niatnya adalah shalat sunnah mutlaq atau sholat hajat maka boleh saja.
Shalat hajat biasanya dilakukan oleh seseorang yang sedang mencari solusi atas permasalahan yang sedang dihadapi.
Pelaksanaan shalat hajat dianjurkan sebanyak 12 rakaat dengan salam di setiap 2 rakaat. Namun demikian, melaksanakan shalat hajat sebanyak 2 rakaat pun dianggap cukup memadai.
Adapun Niat melaksanakan shalat hajat:
أُصَلِّيْ سُنَّةَ الحَاجَةِ رَكْعَتَيْنِ أَدَاءً لِلهِ تَعَالَى
Latin: Ushallî sunnatal ḫâjati rak‘ataini adâ‘an lillâhi ta‘âlâ.
Artinya: “Aku menyengaja shalat sunnah hajat dua rakaat tunai karena Allah SWT.”
Istighfar merupakan amalan yang dapat dilakukan untuk memohon ampun kepada Allah SWT atas dosa dan kesalahan. Memperbanyak istighfar juga menjadi sarana untuk mengingat Allah dan mendekatkan diri kepada-Nya.
Anjuran memohon ampun kepada Allah SWT antara lain terdapat dalam Surat Hud ayat 90:
وَاسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ إِنَّ رَبِّي رَحِيمٌ وَوَدُودٌ
Artinya: Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu kemudian bertobat-lah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku Maha Penyayang lagi Maha Mencintai.
Membaca Al-Qur'an merupakan amalan yang dianjurkan bagi umat Islam dan memiliki banyak keutamaan. Al-Qur'an menjadi pedoman hidup umat Islam yang diturunkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW sebagai kitab suci.
Keutamaan membaca Al-Qur'an juga disebutkan dalam sebuah hadits:
من قرأ حرفا من كتاب الله فله به حسنة والحسنة بعشر أمثالها لا أقول آلم حرف ولكن ألف حرف ولام حرف وميم حرف
Artinya: Siapa yang membaca satu huruf dari kitabullah (Al-Qur'an), maka baginya satu kebaikan. Dan satu kebaikan itu dibalas dengan sepuluh kali lipatnya. Aku tidak mengatakan alif laam mim itu satu huruf. Akan tetapi, alif satu huruf, laam satu huruf, dan mim satu huruf. (HR Tirmidzi).
Bersedekah juga dapat menjadi salah satu amalan yang dilakukan saat Rebo Wekasan. Sedekah merupakan bentuk kepedulian kepada sesama sekaligus bagian dari amal kebajikan yang dapat dilakukan kapan saja.
Umat Islam dapat bersedekah sesuai kemampuan, baik dalam bentuk memberikan makanan, membantu orang yang membutuhkan, maupun memberikan harta kepada pihak yang berhak. Amalan ini sebaiknya dilakukan dengan niat mencari ridha Allah SWT, bukan karena meyakini Rebo Wekasan sebagai hari yang pasti mendatangkan bala.
Berdoa menjadi salah satu bentuk ikhtiar untuk memohon pertolongan, perlindungan, keselamatan, dan keberkahan dari Allah SWT.
Pada Rebo Wekasan, sebagian masyarakat memperbanyak doa sebagai bentuk ikhtiar, tawakal, serta permohonan perlindungan kepada Allah, bukan lantaran meyakini bahwa hari “Rabu Wekasan” atau Rabu terakhir bulan Safar ini secara pasti membawa kesialan.
Beberapa doa yang dapat dibaca yaitu:
Doa Syekh Abdul Hamid Quddus al-Makki
Syekh Abdul Hamid Quddus al-Makki asy-Syafi’i (wafat 1335 H) dalam kitab Kanzun Najah wa as-Surur secara khusus menganjurkan membaca doa pada Rabu terakhir bulan Safar sebagai salah satu bentuk ikhtiar memohon perlindungan kepada Allah dari berbagai marabahaya dan bala. Adapun lafadz doanya adalah sebagaimana berikut:
وَصَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شَرِّ هَذَا الزَّمَانِ وَأَهْلِهِ، وَأَعُوذُ بِجَلَالِكَ وَجَلَالِ وَجْهِكَ، وَكَمَالِ جَلَالِ قُدْرَتِكَ أَنْ تُجِيرَنِي وَوَالِدَيَّ وَأَوْلَادِي وَأَهْلِي وَأَحِبَّائِي، وَمَا تُحِيطُهُ شَفَقَةُ قَلْبِي مِنْ شَرِّ هَذِهِ السَّنَةِ، وَقِنِي شَرَّ مَا قَضَيْتَ فِيهَا، وَاصْرِفْ عَنِّي شَرَّ شَهْرِ صَفَرَ، يَا كَرِيمَ النَّظَرِ، وَاخْتِمْ لِي فِي هَذَا الشَّهْرِ وَالدَّهْرِ بِالسَّلَامَةِ وَالْعَافِيَةِ وَالسَّعَادَةِ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَأَوْلَادِي وَالأَهْلِ وَمَا تَحُوطُهُ شَفَقَةُ قَلْبِي وَجَمِيعِ الْمُسْلِمِينَ وَصَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ
Latin: Wa shallallāhu Ta’ālā ‘alā Sayyidinā Muḥammadin wa ‘alā ālihi wa shaḥbihi ajma’īn. A’ūdzu billāhi min syarri hādzaz-zamāni wa ahlihi, wa a’ūdzu bijalālika wa jalāli wajhika, wa kamāli jalāli qudratika an tujīranī wa wālidayya wa aulādī wa ahlī wa aḥibbā’ī, wa mā tuḥīṭuhu syafaqatu qalbī min syarri hādzihis-sanati, wa qinī syarra mā qadhaita fīhā, washrif ‘annī syarra syahri Shafar, yā Karīman-nadhari, wakhtim lī fī hādzasy-syahri wad-dahri bis-salāmati wal-‘āfiyati was-sa’ādati lī wa liwālidayya wa aulādī wal-ahli wa mā taḥūṭuhu syafaqatu qalbī wa jamī’il-muslimīn. Wa shallallāhu Ta’ālā ‘alā Sayyidinā Muḥammadin wa ‘alā ālihi wa shaḥbihi wa sallam.
Artinya: “Semoga Allah Ta’ala melimpahkan rahmat kepada junjungan kami Nabi Muhammad, beserta seluruh keluarga dan para sahabat beliau. Aku berlindung kepada Allah dari keburukan zaman ini dan orang-orang yang hidup di dalamnya. Aku juga berlindung dengan keagungan-Mu, keagungan wajah-Mu, dan kesempurnaan keagungan kekuasaan-Mu, agar Engkau melindungi diriku, kedua orang tuaku, anak-anakku, keluargaku, orang-orang yang kucintai, serta siapa pun yang tercakup dalam kasih sayang hatiku dari keburukan tahun ini. Lindungilah aku dari keburukan segala sesuatu yang telah Engkau tetapkan di dalamnya, dan jauhkanlah dariku keburukan bulan Safar, wahai Dzat Yang Mahamulia perhatian-Nya. Akhirilah bulan ini dan perjalanan usiaku dengan keselamatan, kesehatan, dan kebahagiaan bagi diriku, kedua orang tuaku, anak-anakku, keluargaku, orang-orang yang tercakup dalam kasih sayang hatiku, serta seluruh kaum Muslimin. Semoga Allah Ta’ala melimpahkan rahmat dan keselamatan kepada junjungan kami Nabi Muhammad, beserta keluarga dan para sahabatnya.” (Kanzun Najah wa as-Surur [Beirut: Dar al-Hawi], h. 91-92)
Doa Syekh Ahmad bin Umar ad-Dairabi
Doa berikutnya dinukil dari Syekh Ahmad bin Umar ad-Dairabi al-Ghunaimi asy-Syafi’i (wafat 1151 H). Kandungan doanya berisi permohonan agar Allah mencukupi segala urusan, memberikan rahmat, serta melindungi seseorang dari berbagai keburukan maupun bencana yang mungkin bisa terjadi pada hari itu. Adapun lafaz doanya adalah sebagai berikut:
اَللّٰهُمَّ يَا شَدِيدَ الْقُوَى، وَيَا شَدِيدَ الْمِحَالِ، يَا عَزِيزُ ذَلَّتْ لِعِزَّتِكَ جَمِيعُ خَلْقِكَ. اكْفِنِي مِنْ جَمِيعِ خَلْقِكَ، يَا مُحْسِنُ يَا مُجَمِّلُ، يَا مُتَفَضَّلُ، يَا مُنْعِمُ يَا مُكْرِمُ، يَا مَنْ لاَ إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، ارْحَمْنِي بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ. اَللّٰهُمَّ بِسِرِّ الْحَسَنِ وَأَخِيهِ، وَجَدِّهِ وَأَبِيهِ، وَأُمِّهِ وَبَنِيهِ؛ اكْفِنِي شَرَّ هَذَا الْيَوْمِ وَمَا يَنْزِلُ فِيهِ، يَا كَافِي الْمُهِمَّاتِ، يَا دَافِعَ البَلِيَّاتِ. فَسَيَكْفِيكَهُمُ اللَّهُ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ، وَحَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ، وَصَلَّى اللَّهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ
Latin: Allāhumma yā Syadīdal-quwā, wa yā Syadīdal-miḥāl, yā ‘Azīzu dzallat li’izzatika jamī’u khalqika, ikfinī min jamī’i khalqika, yā Muḥsinu yā Mujammilu, yā Mutafadhdhilu, yā Mun’imu yā Mukrimu, yā man lā ilāha illā Anta, irḥamnī biraḥmatika yā Arḥamar-rāḥimīn. Allāhumma bisirril-Ḥasani wa akhīhi, wa jaddihi wa abīhi, wa ummihi wa banīhi, ikfinī syarra hādzal-yaumi wa mā yanzilu fīhi, yā Kāfiyal-muhimmāt, yā Dāfi’ al-baliyyāt, fasayakfīkahumullāhu wa Huwas-Samī’ul-‘Alīm, wa ḥasbunallāhu wa ni’mal-wakīl, wa lā ḥaula wa lā quwwata illā billāhil-‘Aliyyil-‘Aẓīm. Wa shallallāhu Ta’ālā ‘alā Sayyidinā Muḥammadin wa ‘alā ālihi wa shaḥbihi wa sallam.
Artinya: “Ya Allah, wahai Dzat Yang Mahakuat, wahai Dzat Yang Mahadahsyat kekuasaan-Nya. Wahai Dzat Yang Mahaperkasa, seluruh makhluk-Mu tunduk di hadapan keperkasaan-Mu. Cukupkanlah aku dari seluruh makhluk-Mu. Wahai Dzat Yang Maha Berbuat Baik, Yang Mahaindah, Yang Maha Memberi Karunia, Yang Maha Memberi Nikmat, dan Yang Maha Memuliakan. Wahai Dzat yang tiada Tuhan selain Engkau, kasihilah aku dengan rahmat-Mu, wahai Dzat Yang Maha Pengasih di antara para pengasih. Ya Allah, dengan rahasia kemuliaan Sayyidina Hasan dan saudaranya, kakeknya, ayahnya, ibunya, serta anak-anaknya, lindungilah aku dari keburukan hari ini dan segala sesuatu yang turun atau terjadi di dalamnya. Wahai Dzat Yang Mencukupi segala urusan penting, wahai Dzat Yang Menolak segala bencana. Maka, Allah akan mencukupkanmu (dengan pelindungan-Nya) dari (kejahatan) mereka. Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Cukuplah Allah bagi kami dan Dia sebaik-baik pelindung. Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Yang Mahatinggi lagi Mahaagung. Semoga Allah Ta’ala melimpahkan rahmat dan keselamatan kepada junjungan kami Nabi Muhammad, beserta keluarga dan para sahabatnya.” (Mujarobat ad-Dairabi al-Kabir [Beirut: al-Maktabah as-Tsaqafiyyah], h. 79)
Doa Syekh Ahmad bin Ali al-Buni
Doa ketiga dikutip dari Syekh Ahmad bin Ali al-Buni al-Maliki (wafat 622 H). Doa ini berisi permohonan kepada Allah melalui nama-nama-Nya yang indah dan kalimat-kalimat-Nya yang sempurna, dengan harapan supaya diberikan penjagaan serta keselamatan dari berbagai cobaan. Adapun lafaznya sebagai berikut:
اَللّٰهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِأَسْمَائِكَ الْحُسْنَى، وَبِكَلِمَاتِكَ التَّامَّاتِ، وَبِحُرْمَةِ نَبِيِّكَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ تَحْفَظَنِي وَأَنْ تُعَافِيَنِي مِنْ بَلَائِكَ، يَا دَافِعَ الْبَلَايَا، يَا مُفَرِّجَ الْهَمِّ، وَيَا كَاشِفَ الْغَمِّ. اكْشِفْ عَنِّي مَا كُتِبَ عَلَيَّ فِي هَذِهِ السَّنَةِ مِنْ هَمٍ أَوْ غَمٍ. إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا
Latin: Allāhumma innī as’aluka bi-asmā’ikal-ḥusnā, wa bi-kalimātikat-tāmmāti, wa biḥurmati Nabiyyika Sayyidinā Muḥammadin shallallāhu ‘alaihi wa sallam an taḥfaẓanī wa an tu’āfiyanī min balā’ika, yā Dāfi‘al-balāyā, yā Mufarrijal-hammi, wa yā Kāsyifal-ghammi, iksyif ‘annī mā kutiba ‘alayya fī hādzihis-sanati min hammin au ghammin, innaka ‘alā kulli syai’in qadīr. Wa shallallāhu ‘alā Sayyidinā Muḥammadin wa ‘alā ālihi wa shaḥbihi wa sallama taslīman.
Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dengan nama-nama-Mu yang indah, dengan kalimat-kalimat-Mu yang sempurna, dan dengan kemuliaan Nabi-Mu, junjungan kami Nabi Muhammad SAW, semoga Engkau senantiasa menjagaku dan menyelamatkanku dari segala cobaan-Mu. Wahai Dzat Yang Menolak segala bencana, wahai Dzat Yang Menghilangkan segala kesusahan, dan wahai Dzat Yang Menyingkap segala kesedihan, singkirkanlah dariku segala kesusahan dan kesedihan yang telah ditetapkan menimpaku pada tahun ini. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu. Semoga Allah melimpahkan rahmat dan keselamatan yang sempurna kepada junjungan kami Nabi Muhammad, beserta keluarga dan para sahabatnya.” (Kanzun Najah wa as-Surur [Beirut: Dar al-Hawi], h. 97)
Doa Lain yang Diamalkan oleh Sebagian Kalangan Saleh
Selain tiga doa di atas, menurut Syekh Abdul Hamid Quddus al-Makki asy-Syafi’I, terdapat lafadz doa lain yang juga diamalkan oleh sebagian orang saleh. Sebagaimana pada umumnya, doa ini diawali dengan bacaan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Lalu doa dilanjutkan dengan permohonan keselamatan dari berbagai ketakutan dan bencana, terpenuhinya kebutuhan, pengampunan keburukan, serta tercapainya kebaikan di dunia dan setelah kematian.
Berikut lafadz doa yang dimaksud:
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةٌ تُنْجِينَا بِهَا مِنْ جَمِيعِ الأَهْوَالِ وَالآفَاتِ، وَتَقْضِي لَنَا بِهَا جَمِيعَ الْحَاجَاتِ، وَتُطَهِّرُنَا بِهَا مِنْ جَمِيعِ السَّيِّئَاتِ، وَتَرْفَعُنَا بِهَا أَعْلَى الدَّرَجَاتِ، وَتُبَلِّغُنَا بِهَا أَقْصَى الْغَايَاتِ، مِنْ جَمِيعِ الْخَيْرَاتِ فِي الْحَيَاةِ وَبَعْدَ الْمَمَاتِ. اَللّٰهُمَّ اصْرِفْ عَنَّا شَرَّ مَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاءِ، وَمَا يَخْرُجُ مِنَ الْأَرْضِ. إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، وَصَلَّى اللَّهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ
Latin: Allāhumma shalli ‘alā Sayyidinā Muḥammadin ṣalātan tunjīnā bihā min jamī’il-ahwāli wal-āfāti, wa taqḍī lanā bihā jamī’al-ḥājāti, wa tuṭahhirunā bihā min jamī’is-sayyi’āti, wa tarfa’unā bihā a’lad-darajāti, wa tuballighunā bihā aqshal-ghāyāti, min jamī’il-khairāti fil-ḥayāti wa ba’dal-mamāti. Allāhummashrif ‘annā syarra mā yanzilu minas-samā’i, wa mā yakhruju minal-ardhi, innaka ‘alā kulli syai’in qadīr, wa shallallāhu Ta’ālā ‘alā Sayyidinā Muḥammadin wa ‘alā ālihi wa shaḥbihi wa sallam.
Artinya: “Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada junjungan kami Nabi Muhammad, dengan rahmat yang dengannya Engkau menyelamatkan kami dari segala ketakutan dan bencana, memenuhi seluruh kebutuhan kami, menyucikan kami dari segala keburukan, mengangkat kami ke derajat yang paling tinggi, serta menyampaikan kami kepada puncak segala kebaikan, baik dalam kehidupan maupun setelah kematian. Ya Allah, jauhkanlah dari kami keburukan segala sesuatu yang turun dari langit dan yang keluar dari bumi. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu. Semoga Allah Ta’ala melimpahkan rahmat dan keselamatan kepada junjungan kami Nabi Muhammad, beserta keluarga dan para sahabatnya.” (Kanzun Najah wa as-Surur [Beirut: Dar al-Hawi], h. 97-98)
Dilansir dari laman MUI, sejumlah ulama tasawuf menganjurkan umat Islam untuk memperbanyak doa dan amal kebaikan saat memasuki bulan Safar, termasuk pada Rabu terakhir bulan tersebut.
Amalan ini dilakukan bukan karena meyakini Safar sebagai bulan pembawa kesialan, tetapi sebagai bentuk ikhtiar untuk memohon perlindungan, keselamatan, dan keberkahan kepada Allah SWT.
Imam Ibn Rajab al-Hanbali (wafat 795 H) dalam kitabnya menuturkan:
أَنَّ الْأَسْبَابَ الْمَكْرُوهَةَ إِذَا وُجِدَتْ فَإِنَّ الْمَشْرُوعَ الِاشْتِغَالُ بِمَا يُرْجَى بِهِ دَفْعُ الْعَذَابِ الْمَخُوفِ مِنْهَا. مِنْ أَعْمَالِ الطَّاعَاتِ وَالدُّعَاءِ، وَتَحْقِيقِ التَّوَكُّلِ عَلَى اللَّهِ وَالثِّقَةِ بِهِ، فَإِنَّ هَذِهِ الْأَسْبَابَ كُلَّهَا مُقْتَضِيَاتٌ لَا مُوجِبَاتٌ وَلَهَا مَوَانِعٌ تَمْنَعُهَا. فَأَعْمَالُ الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَالدُّعَاءُ وَالتَّوَكُّلُ مِنْ أَعْظَمِ مَا يُسْتَدْفَعُ بِهِ
Artinya: “Apabila terdapat sebab-sebab yang dikhawatirkan dapat mendatangkan keburukan, maka yang disyariatkan adalah menyibukkan diri dengan amalan-amalan yang diharapkan dapat menolak azab atau bahaya tersebut, seperti melakukan berbagai ketaatan, berdoa, menyempurnakan tawakal kepada Allah, dan meneguhkan kepercayaan kepada-Nya. Sebab-sebab itu pada hakikatnya hanyalah faktor yang berpotensi menimbulkan suatu akibat, bukan sesuatu yang pasti mewujudkannya, karena masih terdapat berbagai penghalang yang dapat mencegah terjadinya akibat tersebut. Oleh karena itu, amal kebajikan, ketakwaan, doa, dan tawakal termasuk sarana terbesar guna menolak berbagai keburukan.” (Lathaif al-Ma’arif [Beirut: Al-Maktab al-Islami], vol. 1, h. 132)
Dengan demikian, membaca doa pada momen Rabu Wekasan dapat ditempatkan sebagai bentuk ikhtiar, tawakal, dan permohonan perlindungan kepada Allah SWT. Amalan tersebut tidak dilakukan atas dasar keyakinan bahwa Rabu Wekasan atau Rabu terakhir bulan Safar pasti membawa kesialan.
Dengan demikian, amalan Rebo Wekasan seperti berdoa, beristighfar, membaca Al-Qur’an, dan bersedekah dapat dilakukan sebagai bentuk ketaatan dan ikhtiar memohon perlindungan kepada Allah SWT. Seluruh amalan tersebut hendaknya disertai keyakinan bahwa keselamatan dan perlindungan dari segala keburukan hanya berada dalam kehendak Allah SWT.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang