Editor
KOMPAS.com - Berdasarkan Kalender Hijriah Indonesia 2026 yang diterbitkan Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama RI, 1 Rabiul Awal 1448 H jatuh pada Jumat, 14 Agustus 2026.
Rabiul Awal menjadi bulan istimewa bagi umat Islam karena dikenal sebagai bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW, yang membawa ajaran dan teladan bagi umat manusia.
Dilansir dari laman Kemenag, Maulid atau hari kelahiran Nabi Muhammad SAW disebut terjadi pada hari Senin, bulan Rabiul Awwal, tahun 571 M.
Baca juga: 4 Amalan Sunah di Bulan Rabiul Awal, dari Puasa hingga Sedekah
Allah memilih hari dan bulan tersebut sebagai waktu kelahiran Nabi Muhammad SAW, bukan hari atau bulan lain yang dipandang memiliki keutamaan tertentu dalam Islam.
Kelahiran Nabi Muhammad SAW kemudian diperingati setiap tahun di berbagai wilayah dunia. Momen Maulid Nabi disambut umat Islam sebagai simbol terbitnya fajar budi pekerti, nilai-nilai luhur kemanusiaan, dan nilai-nilai keilahian.
Baca juga: Hikmah Rasulullah SAW Dilahirkan Pada Hari Senin Bulan Rabiul Awal Tahun Gajah
Keterangan mengenai hari Senin sebagai hari kelahiran Nabi Muhammad SAW juga terdapat dalam hadis:
ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيهِ, وَبُعِثْتُ فِيهِ, أَوْ أُنْزِلَ عَلَيَّ فِيهِ
“Itu (puasa Senin) hari aku dilahirkan, aku diutus, atau hari wahyu diturunkan,” (HR Muslim).
Allah memilih kelahiran Nabi Muhammad SAW pada Senin, 12 Rabiul Awwal. Kelahiran beliau tidak terjadi pada malam Lailatul Qadar, malam Nisfu Syaban, hari Jumat, maupun malam Jumat.
Begitu pula Nabi Muhammad SAW tidak dilahirkan pada bulan Ramadhan, saat Al-Qur'an diturunkan, ataupun pada asyhurul hurum, yakni bulan-bulan yang dimuliakan dalam Islam. Di balik pilihan waktu tersebut terdapat hikmah yang dijelaskan oleh sejumlah ulama.
Jalaluddin As-Suyuthi dalam karyanya Husnul Maqshid fi Amalil Mawlid mengutip penjelasan Ibnul Haj Al-Abdari Al-Maliki Al-Fasi mengenai hikmah kelahiran Nabi Muhammad SAW pada hari Senin dan bulan Rabiul Awwal.
Menurut Ibnul Haj, sebagaimana dikutip Jalaluddin As-Suyuthi, terdapat empat hikmah di balik kelahiran Nabi Muhammad SAW pada hari Senin dan bulan Rabiul Awwal. (As-Suyuthi, Husnul Maqshid fi Amalil Mawlid, [Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyyah: tanpa tahun], halaman 67-68).
Pertama, Senin merupakan hari ketika Allah menciptakan pohon. Hari tersebut mengingatkan manusia pada penciptaan makanan pokok, rezeki, berbagai buah, serta beragam kebaikan yang menjadi kebutuhan dan asupan manusia sekaligus memberikan kesenangan bagi mereka.
Kedua, secara etimologi, kata “Rabi” berarti musim semi. Makna tersebut menjadi isyarat dan optimisme jika dikaitkan dengan waktu kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Abu Abdirrahman As-Shaqli mengatakan, “Setiap orang memiliki ‘nasib’ (baik) dari namanya.”
Ketiga, musim semi atau Ar-Rabi’ merupakan musim yang dianggap paling pas, adil, dan terbaik. Makna tersebut kemudian dikaitkan dengan syariat yang dibawa Nabi Muhammad SAW yang juga dikenal paling adil dan toleran.
Keempat, Allah memang menghendaki waktu tersebut menjadi mulia karena kelahiran Nabi Muhammad SAW. Seandainya Nabi Muhammad SAW dilahirkan pada waktu yang telah memiliki kemuliaan sebelumnya, orang dapat mengira bahwa kemuliaan Nabi Muhammad SAW berasal dari kemuliaan waktu kelahirannya.
Dengan demikian, kemuliaan tersebut justru dikaitkan dengan kelahiran Nabi Muhammad SAW pada waktu yang sebelumnya tidak dianggap sebagai waktu paling mulia.
Penjelasan ini menjadi salah satu hikmah yang disampaikan Ibnul Haj mengenai waktu kelahiran Rasulullah SAW.
Kelahiran Nabi pada Senin, 12 Rabiul Awwal juga menjadi momentum bagi umat Islam untuk mengenang keteladanan dan ajaran beliau.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang