Penulis
JAKARTA, KOMPAS.com – Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof Haedar Nashir resmi mengantongi kartu wartawan utama khusus yang dikeluarkan Dewan Pers.
Kartu tersebut bukan sembarang kartu bagi Haedar. Kartu itu menjadi bagian perjalanannya 42 tahun sebagai seorang wartawan.
Kecintaannya pada dunia tulis menulis dan ilmu pengetahuan membawanya ke Suara Muhammadiyah (SM) pada tahun 1984.
Hampir lima tahun ia digojlok oleh redakturnya. Tulisannya dicoret-coret oleh redaktur. Pernah juga tulisannya dirobek lalu dimasukkan ke tong sampah.
“Kan sakit hati ya,” ujar Haedar diiringi gelak tawa peserta puncak peringatan Hari Pers dan Literasi Muhammadiyah di Auditorium KH Ahmad Azhar Basyir, Gedung Cendekia Universitas Muhammadiyah Jakarta, Kamis (13/8/2026).
Baca juga: Intip Toko Oleh-Oleh 1915 di Yogyakarta, Wadah Baru Produk UMKM Muhammadiyah
Namun ia tidak menyerah. Ia terus belajar menulis. Begitupun saat liputan, ia kerap berjalan kaki, naik bus, semua dilakukannya untuk memberikan berita berkualitas.
Karirnya terus bertumbuh. Ia menjadi redaktur, penulis opini, bahkan penulis buku.
Saat menjadi dosen muda di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), ia pun menulis di kolom opini Kompas. Semua penulis tahu, menulis di kolom Kompas itu susah, karena penyeleksiannya ketat.
Di masa-masa selanjutnya, ia yang diminta Kompas untuk menulis di kolom Kompas.
Kini, meski sudah menjadi Ketua Umum PP Muhammadiyah, kecintaannya pada bidang jurnalis tidak hilang. Ia tetap menjadi pemred Suaramu dan meminta untuk tetap jadi pemred Suaramu.
“Karena inilah dunia saya,” tutur dia.
Dalam perjalanan panjang ini, ia akhirnya berpikir, ingin juga punya kartu wartawan.
“Dulu tidak (terpikir untuk memiliki kartu), tapi kok pengen juga ya sekarang,” seloroh dia, lagi-lagi diikuti gelak tawa peserta.
Akhirnya, hari ini, Kamis 13 Agustus 2026, ia mendapatkan Kartu Wartawan Utama Khusus yang diserahkan langsung oleh Ketua Dewan Pers Prof Komaruddin Hidayat.
Baca juga: Muhammadiyah Soroti Tantangan Hafalan Surah Ad-Dhuha Berhadiah Miras di Festival Musik
Dikutip dari SM, Haedar memandang dunia pers sebagai dunia yang mulia.
Dalam sejarah demokrasi modern, pers ditempatkan sebagai salah satu pilar penting kehidupan bernegara karena memiliki kekuatan menghadirkan informasi publik sekaligus menjadi alternatif dari kekuatan-kekuatan lainnya.
Menurutnya, pers memiliki tugas menghadirkan berbagai informasi dan perspektif kepada masyarakat. Karena itu, prinsip cover both sides menjadi penting dalam kerja jurnalistik.
Haedar menyadari dunia pers saat ini menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks. Pers telah menjadi bagian dari industri yang di dalamnya terdapat kepentingan ekonomi, pemilik modal, hingga kepentingan politik.
Situasi tersebut semakin kompleks ketika pemilik media memiliki kekuatan ekonomi sekaligus politik.
“Di situlah bagaimana pers memainkan peran,” katanya.
Sementara itu, media sosial berkembang sebagai ruang informasi yang sangat terbuka dan cenderung sulit dikendalikan.
“Kalau media sosial, itu memang sudah liar, tapi itulah dunia kita saat ini,” ujar Haedar.
Karena itu, menurutnya, kemampuan literasi masyarakat menjadi semakin penting.