Editor
KOMPAS.com - Hendaknya umat Muslim menutup shalat malamnya dengan shalat witir sebagai ibadah sunnah yang dikerjakan dalam jumlah rakaat ganjil.
Sholat witir dapat dilakukan setelah shalat Isya hingga sebelum masuk waktu Subuh, baik setelah Tarawih maupun setelah shalat malam lainnya.
Baca juga: Doa Setelah Sholat Fardhu Lengkap Arab, Latin, dan Artinya
Karena menjadi penutup rangkaian shalat malam, bacaan niat dan tata cara sholat witir perlu diketahui sebelum mengerjakannya.
Dilansir dari laman Nu Online, Muhammadiyah, Baznas, dan sumber lainnya, berikut ulasan terkait sholat Witir.
Baca juga: Doa Tolak Bala Agar Terhindar dari Bencana, Lengkap Arab, Latin, dan Artinya
Bagi umat Muslim yang hendak mengerjakan satu rakaat, bacaan niat sholat Witir dapat disesuaikan dengan pelaksanaannya. Berikut bacaan niat dalam bahasa Arab, tulisan Latin, serta arti yang dapat dijadikan panduan.
أُصَلِّيْ سُنَّةً مِنَ الْوِتْرِ رَكْعَةً لِلّٰهِ تَعَالَى
Ushallî sunnatan minal witri rak’atan lillahi ta’âlâ
Artinya: “Aku niat shalat sunnah witir satu rakaat karena Allah ta’ala.”
Ushallî sunnatan minal witri rak’atan lillahi ta’âlâ.
Artinya: “Aku niat shalat sunnah witir satu rakaat karena Allah ta’ala.”
Sholat Witir tiga rakaat dapat dikerjakan dengan beberapa pola pelaksanaan. Bacaan niatnya dapat disesuaikan dengan cara sholat Witir yang dipilih, sebagaimana uraian berikut.
Niat sholat Witir tiga rakaat sekaligus dapat dibaca:
أُصَلِّيْ سُنَّةً مِنَ الْوِتْرِ ثَلَاثَ رَكَعَاتٍ لِلّٰهِ تَعَالَى
Ushallî sunnatan minal witri tsalâtsa raka‘âtin lillâhi ta‘âlâ.
Artinya: “Aku niat shalat sunnah witir tiga rakaat karena Allah ta’ala.”
Jika sholat Witir tiga rakaat dikerjakan dengan dua rakaat kemudian dilanjutkan satu rakaat, niat disesuaikan dengan masing-masing pelaksanaan shalat.
Pada dua rakaat pertama, niat ditujukan untuk sholat sunnah Witir dua rakaat, kemudian setelah salam dilanjutkan dengan niat sholat Witir satu rakaat.
Niat sholat Witir dua rakaat yang dapat dibaca:
أُصَلِّيْ سُنَّةً مِنَ الْوِتْرِ رَكْعَتَيْنِ لِلّٰهِ تَعَالَى
Ushallî sunnatan minal witri rak’ataini lillahi ta’âlâ
Artinya: “Aku niat shalat sunnah witir dua rakaat karena Allah ta’ala.”
Arti niat sholat Witir tiga rakaat adalah menyengaja melaksanakan shalat sunnah Witir sebanyak tiga rakaat karena Allah ta’ala.
Shalat witir tidak dianjurkan berjamaah kecuali witir pada bulan Ramadhan. Pelaksanaan sholat Witir tersebut dapat dilakukan sendiri atau mengikuti imam ketika dikerjakan secara berjamaah pada bulan Ramadhan.
Ketika menjadi imam dalam sholat Witir berjamaah, niat disesuaikan dengan kedudukan sebagai imam. Pelaksanaannya mengikuti jumlah rakaat Witir yang akan dikerjakan.
Seperti saat menjadi imam dalam sholat Witir 1 rakaat berjamaah, bacaan niatnya adalah:
Ushalli sunnatal witri rak‘atan mustaqbilal qiblati adā’an imāman lillāhi ta‘ālā.
Artinya: “Aku berniat shalat sunnah Witir satu rakaat menghadap kiblat sebagai imam karena Allah Ta'ala.”
Makmum membaca niat sholat Witir dengan menyesuaikannya sebagai orang yang mengikuti imam. Niat tersebut digunakan ketika sholat Witir dilaksanakan secara berjamaah dengan mengikuti jumlah rakaat Witir yang akan dikerjakan.
Contohnya, bacaan niat sholat Witir 1 rakaat sebagai makmum adalah:
Ushalli sunnatal witri rak‘atan mustaqbilal qiblati adā’an ma’mūman lillāhi ta‘ālā.
Artinya: “Aku berniat shalat sunnah Witir satu rakaat menghadap kiblat sebagai makmum karena Allah Ta'ala.”
Jika sholat Witir dikerjakan sendiri, niat ditujukan untuk melaksanakan sholat sunnah Witir karena Allah ta’ala. Jumlah rakaatnya disesuaikan dengan pelaksanaan yang dipilih, seperti satu atau tiga rakaat.
Istilah Witir berkaitan dengan jumlah rakaat yang menjadi ciri khas shalat sunnah ini. Pengertian, hukum, dan alasan penyebutan Witir dapat dilihat melalui penjelasan berikut.
Secara bahasa kata ‘witir’ berarti ‘ganjil’. Artinya, shalat ini harus dilakukan dalam bilangan rakaat ganjil dengan minimal satu rakaat. Rasulullah SAW pernah bersabda:
اَلْوِتْرُ حَقٌّ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ، مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُوتِرَ بِخَمْسٍ فَلْيَفْعَلْ، وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُوتِرَ بِثَلَاثٍ فَلْيَفْعَلْ، وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُوتِرَ بِوَاحِدَةٍ فَلْيَفْعَلْ
Artinya: “(Shalat) witir adalah hak bagi semua umat Islam, maka barang siapa yang suka untuk melakukan witir dengan lima rakaat, maka lakukanlah. Barang siapa yang suka melakukan witir dengan tiga rakaat, maka lakukanlah. Dan, barang siapa yang yang suka melakukan shalat witir dengan satu rakaat, maka lakukanlah.” (HR Abu Dawud, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah).
Sholat Witir merupakan shalat sunnah yang dikerjakan dengan rakaat berjumlah ganjil. Pelaksanaannya menjadi penutup rangkaian shalat malam, sehingga umat Muslim dapat mengerjakannya setelah shalat malam yang dilakukan pada waktu tersebut.
Secara bahasa kata ‘witir’ berarti ‘ganjil’. Artinya, shalat ini harus dilakukan dalam bilangan rakaat ganjil dengan minimal satu rakaat.
Jumlah rakaat menjadi salah satu hal yang sering ditanyakan ketika hendak melaksanakan sholat Witir. Berikut pembagian jumlah rakaat dan pola pelaksanaan yang dapat diperhatikan.
Meskipun witir boleh dilaksanakan hanya satu rakaat (sebagai jumlah minimal) tetapi yang utama dilakukan tiga rakaat dan paling utama adalah lima rakaat, kemudian tujuh rakaat dan lalu sembilan rakaat dan yang paling sempurna adalah sebelas rakaat (sebagai jumlah maksimal). Tidak diperbolehkan shalat witir lebih dari jumlah tersebut.
Sholat Witir satu rakaat merupakan jumlah minimal dalam pelaksanaan Witir. Shalat ini dapat dilakukan sebagai penutup setelah rangkaian shalat malam selesai.
Sholat Witir tiga rakaat menjadi salah satu bentuk pelaksanaan yang dapat dipilih. Jika seseorang melaksanakan witir lebih tiga rakaat, maka dilakukan setiap dua rakaat salam dan ditutup dengan satu rakaat.
Bila melaksanakan tiga rakaat boleh dilakukan langsung rakaat seperti shalat Maghrib. Tetapi sebagian ulama melihat bahwa dipisah lebih utama, yaitu dua rakaat salam lalu satu rakaat.
Pola dua rakaat dan satu rakaat dilakukan dengan mengerjakan dua rakaat terlebih dahulu kemudian salam. Setelah itu, sholat dilanjutkan dengan satu rakaat sebagai penutup.
Pelaksanaan satu rakaat menjadi bentuk paling sederhana dari sholat Witir. Urutan shalat dapat diperhatikan mulai dari niat, takbiratul ihram, bacaan dan gerakan shalat hingga salam.
Sholat Witir satu rakaat diawali dengan niat, kemudian takbiratul ihram dan dilanjutkan dengan rangkaian gerakan shalat seperti membaca Al-Fatihah, bacaan setelahnya, rukuk, i'tidal, sujud, duduk di antara dua sujud, sujud kembali, kemudian duduk untuk membaca tahiyat dan diakhiri dengan salam.
Bacaan dalam sholat Witir satu rakaat mengikuti bacaan shalat pada umumnya. Setelah niat dan takbiratul ihram, shalat dilanjutkan dengan membaca Al-Fatihah dan bacaan Al-Quran, kemudian menyelesaikan rangkaian gerakan hingga tahiyat dan salam.
Setelah seluruh rangkaian satu rakaat selesai dan membaca tahiyat, sholat Witir diakhiri dengan salam. Dengan salam tersebut, pelaksanaan satu rakaat Witir selesai.
Sholat Witir tiga rakaat dapat dilakukan dengan dua pola pelaksanaan. Perbedaan keduanya terletak pada pembagian rakaat dan salam sebelum menyelesaikan rakaat terakhir.
Sholat Witir 3 rakaat lebih utama dikerjakan dengan memisahkan dua rakaat pertama dan satu rakaat terakhir. Pelaksanaannya dilakukan dengan mengerjakan dua rakaat terlebih dahulu, kemudian salam.
Setelah salam, shalat dilanjutkan dengan satu rakaat sebagai penutup Witir. Pada rakaat terakhir, rangkaian shalat dilakukan seperti biasa hingga duduk tasyahud akhir, kemudian ditutup dengan salam.
Sholat Witir tiga rakaat juga dapat dilakukan sekaligus dalam satu rangkaian. Pelaksanaannya dilakukan sebanyak tiga rakaat kemudian diakhiri dengan salam.
Sholat Witir 3 rakaat sekaligus dikerjakan secara kontinu dalam satu rangkaian shalat.
Pada rakaat pertama, shalat dimulai dengan takbiratul ihram, kemudian membaca Al-Fatihah dan surat pendek. Selanjutnya dilakukan rukuk, i'tidal, sujud, duduk di antara dua sujud, dan sujud kedua sebelum berdiri untuk rakaat berikutnya.
Memasuki rakaat kedua, membaca Al-Fatihah dan surat pendek, kemudian dilanjutkan dengan rukuk, i'tidal, sujud, duduk di antara dua sujud, dan sujud kedua. Setelah itu, langsung berdiri untuk rakaat ketiga tanpa melakukan tasyahud awal seperti pada shalat Maghrib.
Pada rakaat terakhir, membaca Al-Fatihah dan surat pendek, lalu menyelesaikan rangkaian rukuk, i'tidal, sujud, duduk di antara dua sujud, dan sujud kedua. Setelah selesai, duduk untuk membaca tasyahud akhir, kemudian menutup shalat Witir dengan satu kali salam.
Waktu pelaksanaan menjadi bagian penting yang perlu diperhatikan sebelum mengerjakan sholat Witir. Penjelasan berikut membahas awal dan batas waktu Witir serta posisinya setelah Tarawih atau Tahajud.
Pada dasarnya witir merupakan shalat penutup bagi shalat malam. Artinya, witir sebaiknya dilaksanakan setelah melakukan berbagai shalat sunah malam misalkan shalat tahajud, hajat, istikharah dan lain sebagainya. Itulah fungsi longgarnya waktu shalat witir semenjak usai shalat Isya’ hingga menjelang waktu subuh, dengan harapan menjadikan witir sebagai pungkasan segala shalat malam.
Batas waktu sholat Witir dimulai setelah shalat Isya dan berlangsung hingga menjelang waktu Subuh. Dengan rentang tersebut, Witir dapat dikerjakan pada malam hari sesuai rangkaian shalat yang dilakukan.
Pada bulan Ramadhan, sholat Witir dapat dikerjakan setelah rangkaian sholat Tarawih selesai. Dalam pelaksanaan berjamaah, Witir menjadi bagian penutup dari rangkaian shalat malam tersebut.
Jika seseorang mengerjakan sholat Tahajud pada malam hari, sholat Witir dapat dilakukan setelahnya sebagai penutup rangkaian shalat malam. Dengan demikian, Witir ditempatkan pada bagian akhir setelah shalat sunnah malam yang dikerjakan.
Waktu yang lebih utama dapat disesuaikan dengan kebiasaan seseorang dalam menjalankan shalat malam. Jika yakin dapat bangun pada akhir malam untuk mengerjakan Tahajud, Witir dapat ditempatkan setelah rangkaian shalat tersebut.
Setelah menyelesaikan sholat Witir, umat Muslim dapat melanjutkan dengan doa yang dianjurkan. Bacaan doa berikut dapat dibaca dalam tulisan Arab, Latin, dan dipahami melalui artinya.
Sedangkan setelah shalat witir disunahkan membaca doa sesuai hadist sahih riwayat Abu Dawud:
سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوْسِ ×٣ اَللّٰهُمَّ إنِّي أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ وَبِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوبَتِكَ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ لَا أُحْصِيْ ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ
Allahumma inni a'udzu biridhaka min sakhathika wa bi mu'afatika min 'uqubatika wa a'udzubika minka la uhshi tsana'an 'alaika anta kama atsnaita 'ala nafsika
Bacaan doa tersebut menjadi bentuk permohonan perlindungan kepada Allah dari kemurkaan dan hukuman-Nya, sekaligus pengakuan bahwa pujian kepada Allah tidak dapat dihitung dan Allah adalah sebagaimana Dia memuji diri-Nya sendiri.
Setelah salam, rangkaian ibadah dapat dilanjutkan dengan dzikir yang berkaitan dengan sholat Witir. Bacaan berikut dapat menjadi panduan untuk dzikir setelah Witir.
Salat witir disunahkan berdzikir dengan suara nyaring sebagai berikut:
سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ
“Maha suci Allah yang Maha Merajai dan yang Maha Bersih” (3x)
رَبِّ الْمَلَائِكَةِ وَالرُّوحِ
“Yang menguasai para Malaikat dan Ruh/Jibril” (1x)
Selain membaca Subhanal Malikil Quddus, dzikir setelah Witir dapat dilanjutkan dengan doa-doa lainnya, sesuai dengan harapan sebagai bagian dari amalan, sebelum melanjutkan aktivitas lainnya.
Sholat Witir memiliki posisi sebagai shalat sunnah yang mengakhiri rangkaian shalat malam. Beberapa hal berikut menjelaskan nilai ibadah yang dapat diperoleh dari membiasakan pelaksanaan sholat Witir.
Sholat Witir menjadi penutup rangkaian shalat malam. Pelaksanaannya dapat ditempatkan setelah shalat sunnah malam seperti Tahajud maupun rangkaian Tarawih.
Mengerjakan sholat Witir juga menjadi bagian dari upaya mengikuti amalan yang diajarkan Rasulullah SAW. Kebiasaan ini dapat diterapkan sebagai bagian dari ibadah sunnah pada malam hari.
Sholat Witir memberikan kesempatan untuk menambah amalan shalat sunnah dalam rutinitas ibadah. Pelaksanaannya dapat disesuaikan dengan kemampuan dan jumlah rakaat yang dikerjakan.
Posisi sholat Witir dapat berbeda sesuai rangkaian shalat malam yang dikerjakan seseorang. Pembahasan berikut menjelaskan pelaksanaan Witir setelah Tarawih, Tahajud, serta kondisi ketika seseorang kembali ingin melaksanakan shalat malam.
Pada bulan Ramadhan, sholat Witir dapat dilakukan setelah sholat Tarawih. Witir menjadi penutup rangkaian Tarawih ketika seseorang menyelesaikan shalat malamnya pada waktu tersebut.
Jika seseorang hendak melaksanakan Tahajud, Witir dapat dikerjakan setelah sholat Tahajud. Pola ini menempatkan Witir sebagai penutup rangkaian shalat malam.
Jika seseorang sudah mengerjakan Witir kemudian kembali bangun untuk melaksanakan Tahajud, sholat Tahajud tetap dapat dikerjakan. Witir yang sudah dilakukan tidak perlu diulang kembali.
Sholat Witir tidak dilakukan dua kali dalam satu malam. Karena Witir berfungsi sebagai penutup shalat malam, seseorang yang sudah mengerjakannya kemudian melakukan shalat malam kembali tidak perlu mengulang Witir.
Pertanyaan mengenai sholat Witir umumnya berkaitan dengan jumlah rakaat, bacaan niat, serta waktu pelaksanaannya. Berikut jawaban singkat untuk beberapa pertanyaan yang sering muncul tentang niat dan sholat Witir.
Niat sholat Witir satu rakaat adalah:
أُصَلِّيْ سُنَّةً مِنَ الْوِتْرِ رَكْعَةً لِلّٰهِ تَعَالَى
Ushallî sunnatan minal witri rak’atan lillahi ta’âlâ.
Artinya: “Aku niat shalat sunnah witir satu rakaat karena Allah ta’ala.”
Jika dikerjakan tiga rakaat sekaligus, niatnya dapat dibaca:
أُصَلِّيْ سُنَّةً مِنَ الْوِتْرِ ثَلَاثَ رَكَعَاتٍ لِلّٰهِ تَعَالَى
Ushallî sunnatan minal witri tsalâtsa raka‘âtin lillâhi ta‘âlâ.
Artinya: “Aku niat shalat sunnah witir tiga rakaat karena Allah ta’ala.”
Sholat Witir minimal dikerjakan satu rakaat. Sesuai pengertiannya, jumlah rakaat Witir harus berupa bilangan ganjil.
Sholat Witir tiga rakaat dapat dilakukan sekaligus hingga tiga rakaat kemudian diakhiri dengan satu salam. Selain itu, terdapat pola dua rakaat kemudian salam dan dilanjutkan satu rakaat sebagai penutup.
Witir dapat dilakukan setelah Tarawih pada bulan Ramadhan atau setelah Tahajud ketika seseorang mengerjakan shalat malam. Posisi Witir ditempatkan sebagai penutup rangkaian shalat malam.
Witir merupakan shalat penutup bagi shalat malam. Karena itu, Witir sebaiknya ditempatkan setelah rangkaian shalat malam yang hendak dikerjakan pada malam tersebut.
Sholat Witir merupakan sholat sunnah dengan jumlah rakaat ganjil yang dapat dikerjakan sebagai penutup rangkaian sholat malam
Sholat Witir merupakan sholat sunnah dengan jumlah rakaat ganjil, mulai dari satu rakaat dan dapat dikerjakan dalam jumlah rakaat lainnya sesuai ketentuan yang dijelaskan.
Waktunya berlangsung setelah shalat Isya hingga menjelang Subuh dan dapat ditempatkan setelah Tarawih atau Tahajud.
Dengan mengetahui niat, tata cara, doa, dan dzikir setelah Witir, umat Muslim dapat melaksanakan ibadah ini sebagai penutup rangkaian shalat malam.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.