Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Gus Ipang Wahid
Pimpinan Pesantren

Wakil Pengasuh Pesantren Trensains Jombang dan Komisaris Telkomsel. 

Kiai Imam Jazuli, Tokoh Transformatif Pesantren

Kompas.com, 16 Agustus 2026, 10:09 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

SAYA selalu terpukau oleh orang yang memulai sesuatu dari angka nol. Bukan dari satu. Apalagi dari fasilitas warisan.Membangun pesantren dari bawah, di tengah persaingan zaman digital, itu seperti mendaki Everest tanpa tabung oksigen. Sulit. Berdarah-darah. Tapi KH Imam Jazuli—yang akrab dipanggil Kiai Imjaz—membuktikan itu bukan kemustahilan. Dalam 13 tahun santrinya lebih dari 5000, lahan pesantren 92 Hektar dan alumninya 70% beasiswa kampus top dunia dan 30% sisanya diterima di PTN.

Lewat Pesantren Bina Insan Mulia (BIMA), ia tidak hanya mendirikan bangunan fisik, tapi sedang meruntuhkan tembok stagnasi tradisi. Sebab itu, ia sangat layak menyandang gelar Tokoh Transformatif Pesantren. Kenapa? Setidaknya ada beberapa alasan.

Pertama, radikalisme kurikulum: Keluar dari Zona Nyaman, banyak orang terjebak romantisasi masa lalu. Kiai Imjaz tidak. Di BIMA, ia melakukan gebrakan luar biasa. Ia menyadari dunia berubah secepat kedipan mata. Kurikulum, visi, dan misi pesantren dirombak total. Mengapa? Karena tuntutan zaman tidak bisa dilawan dengan sekadar meratap.

Santri hari ini tidak boleh hanya fasih membaca kitab kuning. Mereka harus menguasai teknologi, paham komunikasi global, dan mandiri secara ekonomi. Kiai Imjaz memadukan keikhlasan pesantren dengan profesionalisme modern. Ini bukan sekadar kompromi, ini adalah revolusi dari dalam.

Baca juga: Muktamar Ke-35 NU Siapkan 3 Posko Kesehatan, Layanan Medis Siaga 24 Jam

Kedua, bukan egoisme, tapi gerakan massal: Banyak kiai hebat di Indonesia. Pesantrennya maju, santrinya puluhan ribu. Tapi kehebatan itu sering kali berhenti di pagar pesantrennya sendiri. Mereka maju sendirian. Kiai Imjaz berbeda. Sifat aslinya keluar di sini: ia tidak ingin maju sendiri. Ia tidak ingin selamat sendiri menghadapi ombak zaman.

Sejak tahun 2024, ia memulai langkah gila. Mengadakan workshop gratis untuk para pengasuh pesantren. Gerakan ini konsisten menggelinding. Sampai tahun 2026 ini, angkanya hampir menyentuh 5.000 pengasuh pesantren yang sudah ikut.

Semua itu dibiayai sendiri dari A-Z, tanpa ada sponsor dan mitra. Kiai Imjaz membuat modul dan memberi materi sekitar 14 jam non stop. Bayangkan dampaknya. Satu pengasuh membawa pulang virus transformasi ke daerahnya. Jika ada 5.000 pengasuh, maka ada 5.000 episentrum perubahan baru di seluruh penjuru negeri. Ini bukan lagi sekadar program kerja, ini adalah gerakan nasional pembaharuan berbasis kultural.

Ketiga, ia prototipe Pemimpin masa depan NU. Nahdlatul Ulama (NU) adalah kapal tanker yang sangat besar. Untuk menggerakkannya, butuh nakhoda yang punya otot keberanian dan otak inovasi.Karakter Kiai Imjaz adalah cetak biru pemimpin masa depan NU.

Ia memiliki akar tradisi yang kuat, namun kepalanya mendongak menatap masa depan. Ia tidak alergi pada perubahan, justru ia yang mendikte perubahan itu. Pemimpin NU masa depan tidak boleh lagi hanya sibuk dengan urusan domestik organisasi, melainkan harus menjadi arsitek sosial yang mampu mengubah wajah pendidikan umat secara massal.

Kiai Imjaz telah menyalakan lilinnya dari Cirebon. Kini, lilin-lilin itu telah menyebar ke ribuan pesantren lain. Pesantren tidak lagi menjadi tempat pelarian, melainkan menjadi pabrik masa depan. Begitulah seharusnya transformasi bekerja. Tidak berisik di media, tapi berdampak nyata di dunia nyata.

Di balik setiap lompatan besar, selalu ada keberanian untuk keluar dari zona nyaman. Kiai Imjaz paham betul risiko itu. Ketika tradisi ratusan tahun disandingkan dengan inovasi modern, skeptisisme tentu berdatangan. Namun, ia memilih terus bergerak, membungkam keraguan dengan hasil kerja nyata.

Ia mengajarkan satu pelajaran krusial: keikhlasan tidak pernah berseteru dengan profesionalisme. Keduanya adalah sepasang sayap. Tanpa keikhlasan, sebuah gerakan akan kehilangan roh. Tanpa profesionalisme, niat mulia hanya akan berakhir menjadi impian yang lumpuh.

Baca juga: Jelang Muktamar NU, Ali Masykur Musa: Semangat Kebangsaan Tak Boleh Luntur

Dampaknya kini menjalar langsung ke dalam jiwa para santri. Mereka tak lagi memandang kemajuan zaman dengan rasa minder atau asing. Dengan kedalaman spiritual di dada dan penguasaan teknologi di jemari, para santri kini melangkah percaya diri menantang dunia.

Ini adalah narasi baru pendidikan Islam yang sudah lama kita rindukan. Sebuah pembaharuan yang tidak membebankan harapan pada janji manis pejabat, melainkan merajut kekuatan mandiri secara nyata dari akar rumput.

Perjalanan Kiai Imjaz adalah pengingat bahwa masa depan tidak ditunggu, melainkan diciptakan. Dari Cirebon, sebuah kompas baru telah diarahkan. Dan di tangan para pembaharu seperti dialah, wajah peradaban pesantren Indonesia sedang dilukis ulang. Wallahu'alam.

Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT



Terkini Lainnya
Haedar Nashir: Indonesia Milik Bersama, Kemerdekaan Harus Bermuara pada Kemakmuran Rakyat
Haedar Nashir: Indonesia Milik Bersama, Kemerdekaan Harus Bermuara pada Kemakmuran Rakyat
Aktual
100 Tahun Gontor, Pesantren Ditawarkan Jadi Model Pendidikan Holistik Dunia
100 Tahun Gontor, Pesantren Ditawarkan Jadi Model Pendidikan Holistik Dunia
Aktual
Mendaki Gunung Bukan Sekadar Mengejar Puncak, Bisa Jadi Ruang Muhasabah
Mendaki Gunung Bukan Sekadar Mengejar Puncak, Bisa Jadi Ruang Muhasabah
Aktual
Unsur Islam di Balik Pemilihan Tanggal Proklamasi 17 Agustus 1945
Unsur Islam di Balik Pemilihan Tanggal Proklamasi 17 Agustus 1945
Aktual
HUT ke-81 RI, MUI Ajak Masyarakat Perkuat Moral dan Ketahanan Keluarga
HUT ke-81 RI, MUI Ajak Masyarakat Perkuat Moral dan Ketahanan Keluarga
Aktual
HUT RI, Menag Ajak Umat Bantu Korban Gempa: Agama Tak Hanya Bicara Langit
HUT RI, Menag Ajak Umat Bantu Korban Gempa: Agama Tak Hanya Bicara Langit
Aktual
Menko Polkam Sebut Bendera Merah Putih Wajib Dihormati, Bagaimana Pandangan Islam?
Menko Polkam Sebut Bendera Merah Putih Wajib Dihormati, Bagaimana Pandangan Islam?
Aktual
Kisah Umar bin Khattab, Menolak Kenikmatan yang Tak Dirasakan Rakyat
Kisah Umar bin Khattab, Menolak Kenikmatan yang Tak Dirasakan Rakyat
Aktual
Gempa M 7,7 NTT, Cerita Mahasiswa KKN UMY yang Putar Haluan Jadi Relawan
Gempa M 7,7 NTT, Cerita Mahasiswa KKN UMY yang Putar Haluan Jadi Relawan
Aktual
Suntiang dan Songket Minangkabau Hiasi Perlengkapan Ibadah pada HUT RI
Suntiang dan Songket Minangkabau Hiasi Perlengkapan Ibadah pada HUT RI
Aktual
Kisah Adzra, Siswi Madrasah yang Lari 3 Km Setiap Hari demi Jadi Paskibraka Nasional
Kisah Adzra, Siswi Madrasah yang Lari 3 Km Setiap Hari demi Jadi Paskibraka Nasional
Aktual
HUT ke-81 RI, Ini Dalil Cinta Tanah Air dalam Al-Quran dan Hadis
HUT ke-81 RI, Ini Dalil Cinta Tanah Air dalam Al-Quran dan Hadis
Aktual
Bukan Cocoklogi, Kenali Integrasi Islam dan Sains Ala Muhammadiyah
Bukan Cocoklogi, Kenali Integrasi Islam dan Sains Ala Muhammadiyah
Aktual
Ketua Komisi Fatwa MUI KH Junaidi Wafat, MUI Sampaikan Duka Mendalam
Ketua Komisi Fatwa MUI KH Junaidi Wafat, MUI Sampaikan Duka Mendalam
Aktual
Apakah Istri Wajib Taat pada Suami yang Bergaji di Bawah UMR? Ini Penjelasan Muhammadiyah
Apakah Istri Wajib Taat pada Suami yang Bergaji di Bawah UMR? Ini Penjelasan Muhammadiyah
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar