Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Generasi Muda Dinilai Tak Siap Kerja, Gontor Tawarkan Pendidikan Holistik Pesantren

Kompas.com, 20 Agustus 2026, 06:31 WIB
Reni Susanti

Editor

JAKARTA, KOMPAS.com - Model pendidikan pesantren dinilai dapat menjadi salah satu alternatif untuk menjawab persoalan kesiapan generasi muda menghadapi dunia kerja, mulai dari lemahnya etos kerja, kemampuan berkolaborasi, hingga kepemimpinan.

Ketua Panitia Peringatan 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor Prof. Hamid Fahmy Zarkasyi mengatakan, persoalan tersebut tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga menjadi perhatian di negara maju seperti Amerika Serikat.

"Tidak saja di Indonesia, di Amerika pun ada keluhan. Generasi sekarang ini, generasi yang tidak siap mental untuk bekerja. Tidak bisa berkolaborasi. Tidak mempunyai etos kerja. Tidak mempunyai leadership. Tidak mempunyai service orientation," kata Hamid dalam rilisnya, Rabu (19/8/2026).

Baca juga: 100 Tahun Gontor, Pesantren Ditawarkan Jadi Model Pendidikan Holistik Dunia

Menurut Hamid, persoalan tersebut salah satunya berkaitan dengan sistem pendidikan yang belum mengembangkan seluruh aspek manusia secara menyeluruh, mulai dari potensi, keterampilan, cara berpikir, hingga kemampuan yang menjadi bekal kehidupan.

Ia menilai konsep pendidikan yang menyentuh berbagai aspek tersebut justru telah lama diterapkan di lingkungan pesantren.

Sebab, pendidikan santri tidak hanya berlangsung di ruang kelas. Kehidupan santri selama 24 jam di pesantren juga menjadi bagian dari proses pendidikan, termasuk dalam pembentukan mental, moral, soft skill, etos kerja, dan kepemimpinan.

"Karena santri hidup 24 jam, dan di situ dibentuk mentalnya, moralnya, soft skill-nya, leadership-nya, dan segala macam kemampuan," ujar Hamid.

Menurut dia, sistem tersebut merupakan bentuk pendidikan holistik atau holistic education yang selama ini banyak dibicarakan di dunia pendidikan global.

Hamid bahkan menilai model pendidikan holistik yang diterapkan pesantren modern dapat ditawarkan sebagai alternatif sistem pendidikan kepada masyarakat internasional.

"Holistic education yang ada di dalam pondok pesantren modern ini merupakan alternatif pendidikan yang bisa ditawarkan secara global ke seluruh dunia," kata dia.

Baca juga: Cegah Kekerasan Seksual, Kemenag Wajibkan CCTV hingga Cabut Izin Pesantren Nakal

Dibawa ke Forum Internasional GIHES 2026

Gagasan mengenai pendidikan holistik pesantren tersebut akan menjadi salah satu pembahasan dalam Global Islamic Holistic Education Summit (GIHES) yang digelar di Jakarta pada 5-6 September 2026.

Forum internasional yang diselenggarakan Panitia Peringatan 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor bersama Forum Pondok Alumni Gontor (FPAG) tersebut merupakan bagian dari rangkaian peringatan satu abad Gontor.

GIHES dirancang menjadi ruang pertemuan lembaga pendidikan untuk membahas dan berbagi praktik mengenai pendidikan Islam holistik.

Hamid mengundang pimpinan pondok pesantren modern, Islamic boarding school, serta lembaga pendidikan dari Malaysia, Thailand, dan negara-negara Asia Tenggara lainnya untuk berpartisipasi.

Forum tersebut diharapkan menjadi ruang berbagi praktik pendidikan holistik yang telah diterapkan berbagai lembaga pendidikan Islam di sejumlah negara.

Ajak Pesantren dan Akademisi Terlibat

Ketua Forum Pondok Alumni Gontor (FPAG) KH Zulkifli Muhadli mengatakan, GIHES tidak hanya ditujukan kepada pengelola pesantren.

Pakar pendidikan Islam, rektor, dosen, dan pemerhati pendidikan juga diajak terlibat dalam forum tersebut untuk membicarakan masa depan pendidikan Islam.

"Saya mengajak seluruh pesantren ataupun lembaga pendidikan Islam untuk ikut hadir dan berpartisipasi dalam acara GIHES. Kita perbaiki pendidikan anak didik kita secara bersama," ujar Zulkifli.

Menurut dia, keterlibatan berbagai lembaga dan akademisi diharapkan dapat melahirkan gagasan untuk meningkatkan kualitas pendidikan generasi mendatang.

"Kita berharap dengan keikutsertaan kita dalam GIHES, menjadi berkah bagi kita sebagai pendidik generasi masa depan bangsa," kata Zulkifli.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
Menhaj Minta Calon Jemaah Haji Belajar dari Mereka yang Gagal Berangkat karena Kendala Kesehatan
Menhaj Minta Calon Jemaah Haji Belajar dari Mereka yang Gagal Berangkat karena Kendala Kesehatan
Aktual
Hukum Menerima Hadiah dari Orang yang Berutang, Apakah Termasuk Riba?
Hukum Menerima Hadiah dari Orang yang Berutang, Apakah Termasuk Riba?
Aktual
Bandara Riyadh Diserang, Keselamatan Jemaah Umrah Jadi Sorotan
Bandara Riyadh Diserang, Keselamatan Jemaah Umrah Jadi Sorotan
Aktual
Doa Belum Terkabul, Apakah Berarti Allah Tidak Menjawabnya?
Doa Belum Terkabul, Apakah Berarti Allah Tidak Menjawabnya?
Aktual
Hukum Menyebarkan Chat Pribadi Tanpa Izin dalam Islam
Hukum Menyebarkan Chat Pribadi Tanpa Izin dalam Islam
Aktual
Masa Tunggu Haji di Sulteng Jadi 14 Tahun, Kuota 2027 Malah Berkurang
Masa Tunggu Haji di Sulteng Jadi 14 Tahun, Kuota 2027 Malah Berkurang
Aktual
Kemenhaj Imbau Jemaah Umrah di Arab Saudi Waspada, Ini Pesan Penting bagi yang Belum Berangkat
Kemenhaj Imbau Jemaah Umrah di Arab Saudi Waspada, Ini Pesan Penting bagi yang Belum Berangkat
Aktual
Adzan di Telinga Bayi hingga di Atas Kuburan, Bagaimana Hukumnya?
Adzan di Telinga Bayi hingga di Atas Kuburan, Bagaimana Hukumnya?
Aktual
Apakah Anak Wajib Melunasi Utang Orangtua yang Meninggal?
Apakah Anak Wajib Melunasi Utang Orangtua yang Meninggal?
Aktual
Bagaimana Hukum Menjual Barang Halal untuk Maksiat? Ini Pandangan Islam
Bagaimana Hukum Menjual Barang Halal untuk Maksiat? Ini Pandangan Islam
Aktual
Viral Penghulu Marah Saat Akad Nikah, Kemenag Minta Maaf dan Evaluasi Pelayanan
Viral Penghulu Marah Saat Akad Nikah, Kemenag Minta Maaf dan Evaluasi Pelayanan
Aktual
Kemenkes Tetapkan Tarif Cek Kesehatan Jemaah Haji Rp800.000–1,3 Juta
Kemenkes Tetapkan Tarif Cek Kesehatan Jemaah Haji Rp800.000–1,3 Juta
Aktual
Adakah Fungsi Adzan Selain Memanggil Sholat Berjamaah? Ini Penjelasan Muhammadiyah
Adakah Fungsi Adzan Selain Memanggil Sholat Berjamaah? Ini Penjelasan Muhammadiyah
Aktual
Bolehkah Suami Pakai Tabungan Istri untuk Bayar Utang? Ini Penjelasannya
Bolehkah Suami Pakai Tabungan Istri untuk Bayar Utang? Ini Penjelasannya
Aktual
1 Jumadal Ula 1448 H Jatuh pada 12 Oktober 2026, Kenali Sejarah dan Amalannya
1 Jumadal Ula 1448 H Jatuh pada 12 Oktober 2026, Kenali Sejarah dan Amalannya
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar