Editor
KOMPAS.com - Kemajuan teknologi informasi dinilai belum sepenuhnya diimbangi dengan ketangguhan mental, karakter, dan kemampuan kepemimpinan generasi muda.
Wakil Ketua MPR RI sekaligus Ketua Badan Wakaf Pondok Modern Darussalam Gontor, Hidayat Nur Wahid, menilai kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan yang perlu dijawab dunia pendidikan.
Menurut Hidayat, pendidikan tidak cukup hanya membekali generasi muda dengan kemampuan intelektual. Penguatan mental, moral, kemampuan berkolaborasi, etos kerja, hingga kepemimpinan juga diperlukan untuk menghadapi perubahan zaman.
"Kami melihat bahwa pendidikan holistik yang sejati itu ada di pesantren, tempat santri dibina mental, moral, dan soft skill-nya selama 24 jam penuh," ujar Hidayat dalam rilisnya, Jumat (21/8/2026).
Baca juga: 100 Tahun Gontor, Pesantren Ditawarkan Jadi Model Pendidikan Holistik Dunia
Persoalan ketangguhan mental dan karakter generasi muda tersebut akan menjadi salah satu pembahasan dalam Global Islamic Holistic Education Summit (GIHES) 2026.
Forum internasional itu akan berlangsung pada 5-6 September 2026 di Hotel Borobudur, Jakarta, sebagai bagian dari rangkaian peringatan 100 tahun Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG).
Ilustrasi pesantren. Santri di Gontor tengah bersiap untuk mengaji. Hidayat mengatakan, perkembangan teknologi informasi yang begitu cepat membawa tantangan tersendiri bagi generasi muda.
Menurut dia, kemajuan teknologi perlu diimbangi dengan kesiapan karakter dan kemampuan kepemimpinan.
Ia menyoroti sejumlah persoalan, mulai dari kemampuan berkolaborasi hingga etos kerja dan kepemimpinan.
Dalam konteks tersebut, Hidayat melihat sistem pendidikan pesantren memiliki pengalaman panjang dalam menggabungkan pendidikan intelektual dengan pembentukan karakter.
Baca juga: Generasi Muda Dinilai Tak Siap Kerja, Gontor Tawarkan Pendidikan Holistik Pesantren
Pendidikan di pesantren tidak hanya berlangsung di ruang kelas. Kehidupan santri selama 24 jam juga menjadi bagian dari proses pendidikan, mulai dari kemandirian, kedisiplinan, kehidupan bersama, hingga pembentukan nilai dan moral.
Model tersebut dinilai dapat menjadi salah satu bahan pembahasan dalam mencari formulasi pendidikan yang relevan dengan kebutuhan generasi mendatang.
"Kami ingin menegaskan bahwa di tengah gempuran teknologi, ketangguhan mental dan kekuatan karakter yang ditempa melalui sistem pesantren adalah kunci untuk mencetak pemimpin masa depan yang mampu membawa kejayaan bagi umat dan bangsa," kata Hidayat.
Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor KH Hasan Abdullah Sahal.GIHES 2026 akan mempertemukan sejumlah pemangku kepentingan pendidikan Islam, pimpinan lembaga pendidikan, rektor, dekan, hingga akademisi dari berbagai negara.
Forum tersebut diharapkan menjadi ruang untuk membahas model pendidikan holistik yang tidak hanya berorientasi pada kemampuan akademis, tetapi juga pembentukan karakter.
Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor KH Hasan Abdullah Sahal mengundang para pelaku dan pemangku kepentingan pendidikan untuk terlibat dalam forum tersebut.
"Dalam rangka satu abad Pondok Modern Darussalam Gontor, kami mengundang dan mengharapkan partisipasi serta kehadiran para pemangku pendidikan Islam, lembaga-lembaga Islam, para rektor, para dekan universitas, dan para pelaku pendidikan lembaga Islam untuk menghadiri GIHES 2026," ujar Hasan.
Ia berharap pertemuan tersebut dapat memberikan manfaat bagi perkembangan pendidikan Islam.
"Mudah-mudahan (pertemuan ini) membawa arti besar menuju kejayaan kita semua, fii dunya wal akhiroh, menuju rida Allah Subhanahu wa Ta'ala," katanya.
GIHES 2026 diharapkan dapat menghasilkan gagasan mengenai pendidikan yang mampu menjawab perubahan zaman sekaligus mempertahankan pembentukan mental, moral, dan karakter generasi muda.
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT