Editor
KOMPAS.com - Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) kini semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari. Teknologi ini digunakan untuk mencari informasi, membantu pekerjaan, belajar, membuat konten, hingga mendukung pelayanan publik.
Namun, kemudahan yang ditawarkan AI juga membawa tantangan. Informasi yang dihasilkan AI belum tentu benar, data pribadi dapat terancam, sementara teknologi juga bisa disalahgunakan untuk membuat hoaks hingga deepfake.
Direktur Penerangan Agama Islam Kementerian Agama Muchlis M. Hanafi mengatakan, perkembangan AI perlu diarahkan dengan nilai-nilai yang menjaga kemaslahatan dan martabat manusia.
Baca juga: MUI Canangkan Jihad Digital: Waspada Belajar Agama dari AI Tanpa Guru
Setidaknya terdapat enam nilai Qur'ani yang menurutnya dapat menjadi pedoman dalam menggunakan AI, mulai dari tabayyun atau memeriksa kebenaran informasi hingga larangan menggunakan teknologi untuk menimbulkan kerusakan.
"AI adalah produk kecerdasan manusia, sedangkan Al-Qur'an adalah petunjuk yang mengarahkan kecerdasan manusia. Karena itu, persoalannya bukan lagi apakah AI akan digunakan, tetapi siapa yang mengarahkannya, nilai apa yang mengendalikannya, dan untuk tujuan apa ia digunakan," ujar Muchlis dikutip dari laman Kemenag, Rabu (26/8/2026).
Bahasan tersebut diulas dalam Seminar bertema "Al-Qur'an dan AI: Mengendalikan Teknologi dengan Nilai, Membangun Peradaban Digital Beretika" yang merupakan bagian dari rangkaian pembukaan MTQ VIII Korpri Tingkat Nasional 2026.
Muchlis mengatakan, Islam tidak menolak perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Wahyu pertama Al-Qur'an bahkan diawali dengan perintah membaca, iqra', dalam QS Al-'Alaq ayat 1.
Namun, perintah tersebut dilanjutkan dengan frasa bismi rabbik atau "dengan nama Tuhanmu".
Menurut Muchlis, hal itu menunjukkan bahwa membaca dan mengembangkan pengetahuan perlu disertai kesadaran ketuhanan dan tanggung jawab moral.
Hal tersebut menjadi penting ketika manusia berhadapan dengan perkembangan AI.
Baca juga: Perkebunan Mangga di Arab Saudi Gunakan AI untuk Dorong Produktivitas
AI saat ini mampu membaca dan mengolah teks, suara, gambar, data, hingga pola perilaku manusia dalam jumlah sangat besar. Namun, kemampuan mengolah informasi tidak membuat AI memiliki kesadaran moral seperti manusia.
Muchlis merujuk QS An-Nahl ayat 78 yang menyebut pendengaran, penglihatan, dan hati sebagai perangkat pengetahuan manusia.
AI dapat meniru sebagian kemampuan mendengar, melihat, dan mengolah informasi. Namun, AI tidak memiliki fu'ād dalam pengertian Qur'ani, yakni kesadaran batin, iman, nurani, dan tanggung jawab moral.
"AI dapat mengolah informasi, tetapi tidak memiliki iman; dapat mengenali pola, tetapi tidak memiliki nurani; dapat memberi rekomendasi, tetapi tidak memikul amanah," ujarnya.
"Tanggung jawab moral tetap berada pada manusia yang merancang, menyediakan, menggunakan, dan menyebarkan hasilnya," lanjut Muchlis.
Lantas, nilai-nilai Al-Qur'an apa saja yang dapat menjadi pedoman dalam menggunakan AI?
Prinsip pertama adalah tabayyun atau melakukan verifikasi.
Muchlis merujuk QS Al-Hujurat ayat 6 mengenai pentingnya memeriksa kebenaran suatu berita.
Prinsip tersebut semakin relevan pada era AI. Sebab, AI dapat menghasilkan jawaban yang terdengar meyakinkan meski informasi di dalamnya belum tentu benar.
Karena itu, pengguna tidak semestinya langsung mempercayai dan menyebarkan setiap informasi yang diberikan AI.
Sumber, konteks, dan kebenaran informasi tetap harus diperiksa, terutama ketika AI digunakan untuk mencari informasi keagamaan maupun membuat informasi resmi.
Prinsip tersebut juga sejalan dengan QS Al-Isra' ayat 36 yang mengingatkan manusia agar tidak mengikuti sesuatu yang tidak diketahui kebenarannya.
Nilai kedua adalah keadilan sebagaimana ditegaskan dalam QS Al-Ma'idah ayat 8.
Menurut Muchlis, sistem AI belajar dari data dalam jumlah besar. Persoalannya, data tersebut dapat mengandung ketimpangan maupun prasangka yang sebelumnya sudah ada dalam kehidupan manusia.
Tanpa pengawasan, AI berpotensi mengulang bahkan memperbesar diskriminasi terhadap kelompok tertentu.
Karena itu, penggunaan AI perlu memastikan teknologi tidak menghasilkan keputusan yang diskriminatif ataupun merugikan kelompok tertentu.
Prinsip berikutnya adalah amanah dan akuntabilitas yang merujuk pada QS An-Nisa' ayat 58.
Muchlis mengingatkan bahwa data masyarakat, informasi jabatan, maupun dokumen tertentu merupakan amanah yang harus dijaga.
Karena itu, data pribadi, dokumen internal, maupun informasi rahasia tidak boleh sembarangan dimasukkan ke platform AI publik.
Pesan tersebut tidak hanya relevan bagi aparatur sipil negara (ASN), tetapi juga dapat menjadi pengingat bagi masyarakat agar berhati-hati membagikan informasi pribadi ketika menggunakan layanan AI.
Nilai keempat adalah kemaslahatan dan kerahmatan.
Dengan merujuk QS Al-Anbiya' ayat 107, Muchlis mengatakan teknologi seharusnya digunakan untuk memudahkan, melindungi, mencerdaskan, memperluas pelayanan, dan memberikan manfaat bagi manusia.
Artinya, kecanggihan bukan satu-satunya ukuran keberhasilan sebuah teknologi.
Penggunaan AI juga perlu dilihat dari manfaat yang dihasilkan bagi manusia dan kehidupan masyarakat.
Prinsip kelima adalah menjaga privasi dan martabat manusia.
Muchlis mengaitkannya dengan larangan tajassus atau mencari-cari kesalahan dan keburukan orang lain sebagaimana disebutkan dalam QS Al-Hujurat ayat 12.
Pada era AI, persoalan privasi menjadi semakin kompleks.
Pelanggaran dapat terjadi melalui pengumpulan data tanpa persetujuan, pelacakan perilaku secara berlebihan, penyalahgunaan suara dan wajah, hingga pembuatan deepfake yang dapat merusak kehormatan seseorang.
Karena itu, kemampuan teknologi untuk mengakses atau memanipulasi data seseorang tidak berarti manusia bebas menggunakannya tanpa mempertimbangkan hak dan martabat orang tersebut.
Nilai keenam adalah larangan menimbulkan kerusakan sebagaimana disebutkan dalam QS Al-A'raf ayat 56.
Prinsip ini dapat diterapkan secara langsung dalam penggunaan AI.
Teknologi tersebut tidak semestinya digunakan untuk membuat dan menyebarkan hoaks, fitnah, penipuan, ujaran kebencian, manipulasi opini publik, maupun konten yang dapat merusak persatuan masyarakat.
Dengan demikian, pertanyaan dalam menggunakan AI bukan hanya "apakah teknologi ini mampu melakukannya?", tetapi juga "apakah hal tersebut baik dan membawa manfaat?".
Muchlis mengatakan, AI dapat memberikan banyak manfaat dalam bidang dakwah dan pendidikan Al-Qur'an.
Dalam dakwah, misalnya, AI dapat membantu memetakan tema, menyiapkan bahan awal, melakukan penerjemahan dan transkripsi, hingga membantu produksi serta penyebaran konten keislaman.
Dalam pembelajaran Al-Qur'an, teknologi dapat membantu latihan membaca dan menghafal, memberikan pengenalan awal terhadap kesalahan bacaan, mendukung pembelajaran adaptif, hingga memetakan tema-tema ayat.
Namun, kemampuan tersebut tidak membuat AI dapat menggantikan peran manusia sepenuhnya.
Menurut Muchlis, AI tidak dapat menggantikan kedalaman ilmu, keteladanan, hikmah, dan kepekaan sosial seorang dai.
Begitu pula dalam mempelajari Al-Qur'an. Aplikasi AI tidak dapat menggantikan guru dan proses talaqqi. Jawaban yang diberikan AI mengenai Al-Qur'an juga tidak dapat serta-merta dianggap sebagai tafsir yang otoritatif.
"AI dapat mempercepat pencarian pengetahuan, tetapi tidak otomatis melahirkan pemahaman, kebijaksanaan, dan adab," kata Muchlis.
"Dalam pendidikan Al-Qur'an, teknologi dapat memperluas akses, tetapi guru dan tradisi talaqqi tetap diperlukan untuk menjaga ketepatan dan kesinambungan ilmu," sambungnya.
Prinsip serupa berlaku ketika AI digunakan dalam pelayanan publik.
Teknologi tersebut dapat membantu menyediakan informasi, menyederhanakan regulasi, memetakan pengaduan, menerjemahkan informasi, mempercepat administrasi, hingga memperluas akses pelayanan.
Namun, keputusan yang dapat memengaruhi hak dan masa depan seseorang tidak semestinya diserahkan sepenuhnya kepada algoritma.
Muchlis menekankan AI sebaiknya ditempatkan sebagai asisten, bukan pengganti pertimbangan profesional manusia.
Hasil yang diberikan AI tetap perlu diverifikasi, dapat dijelaskan, terbuka terhadap koreksi, dan berada dalam pengawasan manusia.
"Al-Qur'an tidak mengajak manusia menjauhi kemajuan. Al-Qur'an mengajarkan agar kemajuan berjalan bersama petunjuk, ilmu bersama adab, dan kekuasaan bersama tanggung jawab," ujar Muchlis.
"AI harus tetap berada dalam kendali manusia, sedangkan manusia harus tetap berada dalam bimbingan nilai-nilai Ilahi," pungkasnya.
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT