KOMPAS.com — Kemajuan teknologi dan terbukanya akses terhadap berbagai budaya global membawa perubahan dalam kehidupan generasi muda.
Derasnya arus informasi juga menghadirkan tantangan dalam menjaga moral, identitas, dan karakter religius.
Di tengah kondisi tersebut, Pendidikan Agama Islam (PAI) dinilai memiliki peran penting dalam membekali peserta didik agar mampu menghadapi pengaruh globalisasi tanpa kehilangan nilai-nilai agama.
Namun, pendidikan agama tidak cukup hanya berisi pengetahuan keagamaan. Pembelajaran perlu dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari, didukung kurikulum yang terintegrasi, serta melibatkan sekolah, keluarga, dan masyarakat.
Baca juga: Festival Jagat 2026 di Jombang, Jaringan GUSDURian Gaungkan Agama untuk Menjaga Alam
Hal tersebut dibahas dalam penelitian berjudul "Peran Pendidikan Agama Islam dalam Penguatan Karakter Religius di Tengah Kultur Globalisasi" yang diterbitkan Akhlak: Jurnal Pendidikan Agama Islam dan Filsafat pada Januari 2026.
Penelitian tersebut dilakukan Aulia Zahro, Nailil Muna, Dita Oktavia, Muhlisin, dan Abul Mafaakhir dari UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan.
Globalisasi membawa perubahan besar dalam kehidupan masyarakat, salah satunya melalui perkembangan teknologi informasi.
Kemudahan mengakses internet dan media sosial membuat generasi muda dapat berinteraksi dengan berbagai informasi, gagasan, dan budaya dari berbagai belahan dunia.
Globalisasi tidak selalu memberikan dampak negatif. Perkembangan teknologi dapat memperluas akses terhadap pengetahuan dan membuka kesempatan masyarakat mengenal berbagai kemajuan.
Namun, penggunaan teknologi tanpa pendampingan juga dapat menghadirkan tantangan terhadap moral dan karakter generasi muda.
Penelitian tersebut menyebut sejumlah tantangan pendidikan Islam pada era globalisasi, antara lain sekularisasi, homogenisasi budaya, dekadensi moral, serta melemahnya otoritas agama tradisional.
Tantangan juga muncul dari dalam sistem pendidikan, seperti dikotomi ilmu, persoalan kurikulum, metode pembelajaran yang kurang relevan, serta orientasi pendidikan yang terlalu berfokus pada sertifikat.
Dalam menghadapi kondisi tersebut, PAI dinilai memiliki peran penting dalam memperkuat keimanan dan akhlak peserta didik.
Pendidikan agama diharapkan tidak hanya membuat siswa memahami materi keislaman, tetapi juga membangun keimanan, ketakwaan, dan karakter yang dapat menjadi bekal menghadapi pengaruh budaya global.
Karena itu, pendidikan Islam tidak seharusnya berhenti pada penyampaian teori di dalam kelas.
Penanaman nilai spiritual dan moral dapat diperkuat melalui berbagai kegiatan, mulai dari ekstrakurikuler, pembiasaan ibadah bersama, hingga pengembangan budaya sekolah yang mencerminkan nilai-nilai Islam.
Materi agama juga perlu dihubungkan dengan persoalan yang ditemui peserta didik dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan pendekatan tersebut, nilai agama tidak hanya diketahui dan dihafalkan, tetapi juga dipahami serta digunakan sebagai pedoman dalam menentukan sikap.
Penelitian tersebut juga menyoroti pentingnya kurikulum dalam penguatan pendidikan agama.
Kurikulum yang terlalu kaku dinilai dapat menjadi hambatan bagi pengembangan pendidikan yang mampu menjawab kebutuhan zaman.
Karena itu, peneliti mendorong pembaruan kurikulum yang holistik dan integratif, disertai metode pembelajaran yang kontekstual.
Kurikulum yang integratif memungkinkan pendidikan agama terhubung dengan berbagai bidang ilmu dan persoalan kehidupan. Sementara itu, pembelajaran kontekstual membantu peserta didik memahami penerapan nilai agama dalam situasi nyata.
Guru juga tidak hanya berperan sebagai penyampai materi, tetapi sebagai fasilitator sekaligus teladan bagi peserta didik.
Lingkungan sekolah turut menentukan keberhasilan proses tersebut. Budaya sekolah yang mendukung nilai-nilai Islami dapat membantu peserta didik membiasakan perilaku religius dalam kehidupan sehari-hari.
Penguatan karakter religius bukan hanya menjadi tanggung jawab guru agama.
Penelitian tersebut menekankan perlunya keterlibatan guru, orangtua, dan masyarakat dalam membangun karakter moral dan religius peserta didik.
Keteladanan guru menjadi salah satu unsur penting. Nilai agama akan lebih mudah dipahami ketika peserta didik dapat melihat penerapannya dalam perilaku sehari-hari.
Hal serupa berlaku di lingkungan keluarga dan masyarakat. Nilai-nilai yang diperoleh siswa di sekolah perlu mendapatkan dukungan dari lingkungan tempat mereka tumbuh.
Dengan demikian, pembentukan karakter religius dapat berlangsung secara berkelanjutan dan tidak berhenti ketika kegiatan belajar di sekolah selesai.
Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa Pendidikan Agama Islam memiliki peran penting dalam memperkuat karakter religius peserta didik di tengah tantangan globalisasi.
"Pendidikan Agama Islam tidak hanya berfungsi mentransmisikan pengetahuan tentang agama, tapi turut serta menjadi benteng moral yang menuntun peserta didik untuk tetap beridentitas religius, berakhlak mulia, serta mampu menyaring pengaruh budaya global secara bijaksana," tulis peneliti.
Untuk mencapai tujuan tersebut, diperlukan kurikulum yang integratif, metode pengajaran yang kontekstual, serta lingkungan pendidikan yang mendukung.
Ketiganya diharapkan dapat membantu membentuk generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kekuatan spiritual dan moral dalam menghadapi perubahan zaman.
Dengan demikian, globalisasi tidak harus dihadapi dengan menutup diri dari perkembangan dunia. Pendidikan agama justru dapat menjadi bekal bagi generasi muda untuk memilah berbagai pengaruh yang datang sekaligus tetap berpegang pada nilai-nilai agama.
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT