Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

5 Ruang Keteladanan Orangtua dalam Mendidik Anak di Era Digital

Kompas.com, 2 September 2026, 12:07 WIB
Puji Sri Rahayu,
Reni Susanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com — Anak-anak saat ini tidak lagi hanya belajar dari orangtua dan guru. Media sosial, influencer, gim, hingga kecerdasan buatan (AI) turut memengaruhi pengetahuan, perilaku, bahkan cara mereka memandang dunia.

Di tengah perubahan tersebut, orangtua perlu memperkuat kembali perannya sebagai pendidik pertama dalam keluarga. Salah satu caranya bukan dengan memperbanyak larangan, melainkan memberikan keteladanan.

Anggota Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah Mhd. Lailan Arqam mengatakan, salah satu tantangan keluarga saat ini adalah krisis keteladanan.

Baca juga: Quality Time Saja Tak Cukup, Ini Pentingnya Quantity Time Bersama Anak

Menurutnya, anak membutuhkan figur yang dapat dicontoh, bukan hanya aturan yang mengendalikan perilakunya.

Keteladanan tersebut dapat dibangun melalui kehidupan sehari-hari, mulai dari ibadah, komunikasi dalam keluarga, penggunaan teknologi, akhlak, hingga kemauan orangtua untuk terus belajar.

Berikut lima bentuk keteladanan yang dapat dibangun orangtua dalam mendidik anak di era digital.

1. Menjadi Teladan dalam Ibadah

Keteladanan dapat dimulai dari kehidupan spiritual di rumah. Anak tidak hanya belajar dari nasihat, tetapi juga dari perilaku orangtua yang mereka lihat setiap hari.

Ketika orangtua menjaga salat, membaca Al-Qur'an, berzikir, dan menjadikan ibadah sebagai bagian dari keseharian keluarga, anak dapat mengenal nilai-nilai agama melalui pengalaman langsung.

Lailan menilai pendidikan karakter yang kuat dapat tumbuh dari contoh nyata yang dilakukan orangtua secara konsisten di rumah.

Dengan demikian, orangtua tidak hanya meminta anak beribadah, tetapi terlebih dahulu memperlihatkan bagaimana ibadah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Baca juga: Cegah Anak Salah Pergaulan, Ini Pentingnya “Kurikulum Keluarga”

2. Membangun Komunikasi yang Hangat

Keteladanan juga dapat dibangun melalui komunikasi antara orangtua dan anak.

Di tengah kesibukan dan penggunaan perangkat digital, orangtua perlu menyediakan ruang bagi anak untuk berbicara tanpa merasa dihakimi.

Lailan mendorong keluarga meluangkan waktu setiap hari untuk berdialog tanpa gangguan telepon genggam.

Percakapan sederhana saat makan, sebelum tidur, atau dalam perjalanan dapat menjadi kesempatan bagi anak untuk menceritakan pengalaman dan persoalan yang dihadapinya.

Komunikasi yang hangat juga membantu orangtua memahami dunia anak, termasuk pergaulan dan aktivitas mereka di ruang digital.

3. Memberi Contoh Menggunakan Teknologi Secara Sehat

Meminta anak mengurangi waktu menggunakan gawai akan sulit dilakukan apabila orangtua sendiri terus menggunakan telepon genggam ketika sedang bersama keluarga.

Karena itu, menurut Lailan, keteladanan perlu dimulai dari cara orangtua menggunakan teknologi.

Orangtua dapat memberikan contoh sederhana, seperti meletakkan gawai ketika makan bersama, tidak terus-menerus membuka media sosial ketika berbicara dengan anak, serta memanfaatkan internet untuk kegiatan yang bermanfaat.

Dengan melihat perilaku tersebut, anak dapat belajar bahwa teknologi bukan sesuatu yang harus dijauhi sepenuhnya, tetapi perlu digunakan secara bijak dan proporsional.

Persoalan utamanya bukan sekadar berapa lama anak menggunakan teknologi, melainkan bagaimana keluarga membangun kebiasaan digital yang sehat.

4. Menunjukkan Akhlak dalam Kehidupan Sehari-hari

Keteladanan tidak berhenti pada ibadah. Cara orangtua berbicara, meminta maaf, menghargai pasangan, memperlakukan orang lain, hingga menyelesaikan konflik juga menjadi pelajaran bagi anak.

Lailan mengingatkan orangtua agar tidak menuntut anak melakukan perilaku yang justru tidak mereka contohkan.

Prinsip tersebut sejalan dengan firman Allah SWT dalam Surat Ash-Shaff ayat 2-3:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لِمَ تَقُوْلُوْنَ مَا لَا تَفْعَلُوْنَ ۝٢ كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللّٰهِ اَنْ تَقُوْلُوْا مَا لَا تَفْعَلُوْنَ ۝٣

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Sangat besarlah kemurkaan di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS Ash-Shaff: 2-3).

Ayat tersebut menjadi pengingat mengenai pentingnya kesesuaian antara perkataan dan perbuatan.

Dalam pengasuhan, sikap jujur, santun, bertanggung jawab, dan menghargai orang lain akan lebih mudah dipelajari anak ketika mereka melihatnya langsung dalam keseharian orangtua.

5. Menjadi Pembelajar Bersama Anak

Perubahan teknologi berlangsung cepat sehingga orangtua tidak selalu lebih mengetahui dunia digital dibandingkan anak.

Namun, orangtua tidak harus mengetahui semuanya. Yang diperlukan adalah kemauan untuk terus belajar dan memahami dunia yang sedang dihadapi anak.

Orangtua dapat mulai mengenal media sosial yang digunakan anak, memahami gim yang dimainkan, hingga mempelajari perkembangan AI.

Dengan demikian, percakapan mengenai teknologi tidak hanya berbentuk larangan, tetapi juga dialog.

Pendekatan tersebut dapat membuat anak merasa didampingi, bukan sekadar diawasi.

Lailan menegaskan, perubahan dalam pendidikan keluarga juga perlu dimulai dari orangtua sebagai pendidik pertama di rumah.

Ketika orangtua terus belajar sekaligus memberikan contoh dalam ibadah, akhlak, komunikasi, dan penggunaan teknologi, anak memiliki figur nyata yang dapat dijadikan rujukan di tengah banyaknya pengaruh yang mereka temui di dunia digital.

Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT



Terkini Lainnya
Beasiswa BeZakat 2026 Dibuka hingga 7 September, Ini Syarat dan Cara Daftarnya
Beasiswa BeZakat 2026 Dibuka hingga 7 September, Ini Syarat dan Cara Daftarnya
Aktual
5 Ruang Keteladanan Orangtua dalam Mendidik Anak di Era Digital
5 Ruang Keteladanan Orangtua dalam Mendidik Anak di Era Digital
Aktual
Ikhtiar Pemerataan Pendidikan 3T, Pemerintah Siapkan Listrik untuk 9.544 Sekolah
Ikhtiar Pemerataan Pendidikan 3T, Pemerintah Siapkan Listrik untuk 9.544 Sekolah
Aktual
Pelajar Muhammadiyah Diminta Berani Kuliah ke Luar Negeri, Ini yang Perlu Disiapkan
Pelajar Muhammadiyah Diminta Berani Kuliah ke Luar Negeri, Ini yang Perlu Disiapkan
Aktual
Amma Ba’du Muktamar NU
Amma Ba’du Muktamar NU
Aktual
Festival Film Santri Nasional 2026, Santri Mlangi Juara Film Dokumenter
Festival Film Santri Nasional 2026, Santri Mlangi Juara Film Dokumenter
Aktual
3 Pesan Al-Quran dalam Menghadapi Krisis Kemanusiaan
3 Pesan Al-Quran dalam Menghadapi Krisis Kemanusiaan
Aktual
Fajar Abad Kedua NU: Rekonsiliasi, Konsolidasi SDM, dan Pentingnya Persatuan
Fajar Abad Kedua NU: Rekonsiliasi, Konsolidasi SDM, dan Pentingnya Persatuan
Aktual
Dari Congklak hingga Gim Digital, Muhammadiyah Kenalkan Budaya dan Sains di London
Dari Congklak hingga Gim Digital, Muhammadiyah Kenalkan Budaya dan Sains di London
Aktual
Pascagempa NTT, 300 Tempat Ibadah dan 112 Fasilitas Pendidikan Keagamaan Mulai Ditangani
Pascagempa NTT, 300 Tempat Ibadah dan 112 Fasilitas Pendidikan Keagamaan Mulai Ditangani
Aktual
Kemenag Buka Bantuan Pesantren hingga Rp100 Juta, Pendaftaran sampai 4 September 2026
Kemenag Buka Bantuan Pesantren hingga Rp100 Juta, Pendaftaran sampai 4 September 2026
Aktual
Ahli Pemerintah: Aturan PPIU Tak Batasi Masyarakat Lakukan Ibadah Umrah Mandiri
Ahli Pemerintah: Aturan PPIU Tak Batasi Masyarakat Lakukan Ibadah Umrah Mandiri
Aktual
Puasa Ayyamul Bidh September 2026: Jadwal, Niat, Dalil, dan Keutamaannya
Puasa Ayyamul Bidh September 2026: Jadwal, Niat, Dalil, dan Keutamaannya
Aktual
Kemenag Imbau Masyarakat Tak Tergiur Jasa Nikah Siri di Media Sosial
Kemenag Imbau Masyarakat Tak Tergiur Jasa Nikah Siri di Media Sosial
Aktual
Masjid Agung Al Azhar Gelar Shalat Istisqa untuk Meminta Hujan di Tengah Musibah Kekeringan
Masjid Agung Al Azhar Gelar Shalat Istisqa untuk Meminta Hujan di Tengah Musibah Kekeringan
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar