MUKTAMAR ke-35 NU di tanah penuh berkah, Jombang, telah menuntaskan episodenya. Di bumi tempat Hadratussyaikh KH Hasyim Asy'ari, KH Wahab Chasbullah, dan KH Bisri Syansuri menanam benih Nahdlatul Ulama, dinamika serta perbedaan pandangan telah melintasi ruang-ruang ijtihad. Kini, ketika perhelatan telah usai, saatnya para kiai, masyayikh, dan seluruh kader NU menata kembali niat awal: khidmat keumatan.
Di dalam rumah besar jam'iyyah ini, tidak ada yang benar-benar menang atau kalah. Yang ada hanyalah amanah yang kian berat di tengah gelombang zaman. Memperpanjang sisa-sisa ketegangan hanya akan menguras energi dan merenggangkan ikatan batin yang telah dirajut oleh para muassis dengan riyadhah dan tetesan keringat.
Warisan besar ini didirikan bukan dengan perhitungan dunia, melainkan dengan khidmat, dan sujud-sujud panjang di sepertiga malam para pendahulu. Menjaga keutuhan Nahdlatul Ulama adalah bentuk penghormatan tertinggi kita atas perjuangan dan doa yang telah dicurahkan para muassis. Terlalu mahal harga yang harus dibayar jika ikatan batin yang sakral ini menjadi renggang hanya karena riak perbedaan pendapat yang sifatnya sementara.
Baca juga: Amma Ba’du Muktamar NU
Dalam kaidah fiqih ditegaskan bahwa al-khuruju minal khilafi mustahabbun—keluar dari perselisihan menuju jalan yang aman dan damai adalah sebuah kesunnahan. Mengambil jalan lapang untuk merajut kembali silaturahmi bukanlah bentuk kekalahan, melainkan tanda kematangan jiwa dan keluhuran budi pekerti. Saatnya kita menepi dari polemik yang memecah konsentrasi, lalu kembali merapatkan barisan.
Rasulullah SAW memberikan petunjuk yang sangat menyejukkan bagi hati yang merindukan kedamaian: "Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam." Di tengah hiruk-pikuk informasi, menahan diri dari ucapan atau prasangka yang dapat memperkeruh suasana adalah bentuk ibadah. Dengan menjaga diri dari hal-hal yang samar dan meragukan, kita sedang menjaga kesucian agama dan kehormatan jam'iyyah.
Jombang bukan sekadar tempat bertemunya para kader NU, melainkan mimbar suci tempat jejak doa para pendiri masih bergetar hingga hari ini. Betapa pedihnya rasa jika anak-cucu spiritual para muassis harus saling mengunci pintu maaf hanya karena perhelatan beberapa hari. Tanah Tebuireng, Denanyar, Tambakberas, dan Rejoso telah mengajarkan bahwa keberkahan tidak pernah lahir dari kepalan tangan yang tertutup, melainkan dari jemari yang saling bertaut dalam keikhlasan.
Di luar ruang sidang yang sempat riuh, jutaan warga Nahdliyin di pelosok desa, para santri di bilik pesantren, dan umat yang merindukan petunjuk sedang menengadah. Mereka tidak menanti siapa yang memangku posisi, melainkan menanti kehangatan pengayoman dari para ulamanya. Tangis dan harapan masyarakat akar rumput adalah pengingat paling nyaring bahwa keutuhan jam'iyyah ini jauh lebih berharga daripada sekadar perbedaan pandangan yang fana.
Maka melangkah untuk saling memeluk bukanlah tanda kelemahan, melainkan puncak dari kedewasaan berorganisasi dan keluhuran akhlak. Mari tanggalkan sisa-sisa perdebatan, duduk bersama dalam satu majelis, dan saling menatap dengan pandangan kasih sayang. Saatnya yang sepuh membimbing dengan kearifan penuh keteladanan, dan yang muda berkhidmat dengan kesantunan serta energi positif untuk kemajuan bersama.
Fajar baru telah terbit di atas bumi Nahdlatul Ulama. Mari basuh sisa-sisa debu arena Muktamar dengan air wudu dan ketulusan niat untuk kembali berjalan berdampingan. Semoga setiap jabat tangan hari ini menjadi pelebur prasangka, setiap senyuman menjadi pembuka pintu keberkahan, dan setiap langkah khidmat selanjutnya senantiasa diridhai oleh Allah SWT demi kejayaan agama, bangsa, dan kemanusiaan.
Mari kita runtuhkan dinding pemisah dan saling membuka dada dengan kelapangan tanpa syarat. Dalam kebersamaan yang tulus, beban peradaban seberat apa pun akan terasa ringan, dan tantangan zaman yang rumit akan mampu dilalui bersama.
Dengan merapatkan kembali shaf khidmat ini, kita tidak hanya menyembuhkan luka masa lalu, tetapi juga mempersembahkan senyum kedamaian bagi para pendiri di alam barzah serta menghadirkan peneduh bagi jutaan umat yang senantiasa menanti bimbingan jam'iyyah.
Baca juga: Fajar Abad Kedua NU: Rekonsiliasi, Konsolidasi SDM, dan Pentingnya Persatuan
Sekali lagi, mari kita saling melepaskan ego, dan bergandengan tangan. Perbedaan pandangan di arena muktamar adalah dinamika biasa, namun keutuhan NU dan kemaslahatan umat adalah hal yang utama. Pengabdian kepada pesantren, masyarakat, dan peradaban terlalu berharga untuk tertunda oleh perdebatan masa lalu.
Semoga Allah SWT menyatukan hati para ulama dan kader Nahdlatul Ulama, melimpahkan kelembutan dalam jiwa kita, serta membimbing setiap langkah khidmat ini agar senantiasa menghadirkan kemanfaatan bagi seluruh alam. Saatnya kembali satu barisan, saling mendukung, dan merawat jam'iyyah dengan penuh cinta. Wallahu'alam bishawab.
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT