Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
KH. Imam Jazuli, Lc. MA
Akademisi dan Pengasuh Ponpes Bina Insan Mulia Cirebon

Alumni Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri; Alumni Universitas Al-Azhar, Mesir, Dept. Theology and Philosophy; Alumni Universiti Kebangsaan Malaysia, Dept. Politic and Strategy; Alumni Universiti Malaya, Dept. International Strategic and Defence Studies; Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon; Wakil Ketua Pimpinan Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah (Asosiasi Pondok Pesantren se-Indonesia); Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Periode 2010-2015.

Fajar Abad Kedua NU: Rekonsiliasi, Konsolidasi SDM, dan Pentingnya Persatuan

Kompas.com, 2 September 2026, 08:43 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

SELAMAT dan tahniah atas amanah besar yang diemban oleh KH. Miftachul Akhyar dan KH. Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) dalam memimpin Nahdlatul Ulama periode 2026-2031. Terpilihnya beliau berdua membawa harapan segar sekaligus tanggung jawab peradaban yang amat berat.

Memasuki fajar abad kedua jam'iyah, tugas primordial yang terbentang di hadapan PBNU baru bukanlah sekadar menjalankan rutinitas administratif, melainkan melakukan rekonsiliasi total dan meletakkan peta jalan penataan organisasi yang berorientasi ke depan.

Secara historis, kekuatan utama NU sejak dirintis pada tahun 1926 terletak pada daya rekat antara jam'iyah (organisasi) dan jama'ah (warga). Pendiri NU, Hadratussyaikh KH Hasyim Asy'ari, dalam Muqaddimah Qanun Asasi menegaskan bahwa persatuan (al-ittihad) adalah poros keselamatan dan syarat mutlak bagi kejayaan umat.

Sejarah mencatat bahwa setiap kali energi sosial NU "terhisab" ke dalam polemik internal dan faksionalisme (firqoh), peran strategis keumatan dan kebangsaan NU cenderung meredup. Harga yang harus dibayar untuk sebuah perselisihan internal terlalu mahal. Belajar dari dinamika pasca-Muktamar dari masa ke masa, residu politik dan benturan kepentingan sering kali meninggalkan luka sosial yang melambatkan laju organisasi.

Baca juga: Muktamar Ke-35 NU Selesai, Ini Sejumlah Keputusan Strategis yang Dihasilkan

Di tengah ketidakpastian global dan pergeseran lanskap sosial-ekonomi nasional, fragmentasi adalah kemewahan yang tidak boleh lagi ditoleransi. Rekonsiliasi (islah) harus menjadi langkah nol PBNU—sebuah ikhtiar sadar untuk menyembuhkan faksionalisme dan meletakkan kembali keutuhan jam'iyah di atas segala kepentingan kelompok.

Penataan NU ke depan menuntut kepengurusan baru untuk berdiri sebagai pengayom yang merangkul seluruh spektrum Nahdliyin tanpa sekat-sekat historis maupun faksional. PBNU harus meretas kembali komunikasi yang sempat tersumbat dan menghimpun kembali potensi-potensi yang berceceran.

Kebesaran NU tidak dibangun di atas prinsip penyeragaman yang kaku, melainkan pada keahlian mengarsitekturi keberagaman kader menjadi sebuah simfoni perjuangan yang harmonis. Potensi sumber daya manusia (SDM) NU saat ini berada pada titik puncak historisnya.

Struktur kepengurusan baru perlu menjadi rumah besar yang merekatkan seluruh keahlian unggul—mulai dari kedalaman ilmu kiai pesantren, keparipurnaan akademisi, kepiawaian teknokrat, hingga mobilitas aktivis muda. Mengonsolidasikan seluruh potensi SDM ini secara inklusif dan meritokratis akan mengubah potensi kuantitatif NU yang masif menjadi kekuatan kualitatif yang nyata dan diperhitungkan di tingkat global.

Langkah ini mendesak karena tantangan abad kedua NU jauh lebih kompleks ketimbang abad pertama. NU kini berhadapan dengan disrupsi teknologi, ketimpangan ekonomi, perubahan iklim, serta pergeseran peta geopolitik dunia yang berpotensi memicu krisis kemanusiaan. Tanpa konsolidasi internal yang solid dan tata kelola organisasi modern (tanzhim), NU akan kesulitan merespons dinamika zaman yang bergerak cepat dan sporadis.

Transformasi kelembagaan NU tidak boleh lagi bertumpu pada pola patronase personal semata, melainkan pada penguatan sistem yang akuntabel dan profesional. PBNU baru perlu membangun tata kelola berbasis data (data-driven governance), memperkuat kemandirian ekonomi warga melalui jejaring usaha berbasis pesantren, serta menegaskan kembali peran kebudayaan NU sebagai pengawal moderasi beragama di ranah domestik maupun internasional.

Khidmah NU pada abad kedua pada akhirnya menuntut kualifikasi kader yang berbeda. Rekonsiliasi dan penataan struktur organisasi harus bermuara pada satu tujuan: penyiapan kader-kader terbaik yang militan, adaptif, dan berwawasan luas. Militansi abad kedua tidak hanya berakar pada keteguhan akidah Ahlussunnah wal Jama'ah An-Nahdliyah, tetapi juga pada penguasaan sains, teknologi, serta tata kelola publik yang berintegritas.

Baca juga: Muktamar Ke-35 NU Ditutup Hari Ini, Prabowo Dijadwalkan Hadir

Kaderisasi yang militan dan terstruktur adalah kunci untuk memastikan sanad keilmuan dan perjuangan para pendiri NU tetap menyala di tengah arus modernitas. Kader abad kedua harus mampu menjadi penerjemah ajaran Islam Nusantara ke dalam bahasa-bahasa peradaban modern, baik di panggung kebijakan publik, laboratorium penelitian, hingga forum-forum diplomasi internasional.

Dengan kepemimpinan KH. Miftachul Akhyar dan Gus Kikin yang mengedepankan nilai-nilai keteladanan, kebersamaan, dan ketegasan visi, PBNU memiliki momentum emas untuk merapatkan kembali barisan. Mengakhiri polemik, merangkul semua elemen terbaik, dan melangkah bersama dalam satu derap napas adalah cara terbaik menghormati warisan para muassis, demi mewujudkan NU sebagai jangkar stabilitas kebangsaan dan Rahmatan lil 'Alamin bagi dunia. Wallahu'alam.

Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT



Terkini Lainnya
Shalat Tidak Khusyuk, Apakah Ibadahnya Sah dan Diterima?
Shalat Tidak Khusyuk, Apakah Ibadahnya Sah dan Diterima?
Aktual
Muhammadiyah: Islam Beri Ruang Perbedaan Pemikiran Selama Tak Langgar Dalil yang Pasti
Muhammadiyah: Islam Beri Ruang Perbedaan Pemikiran Selama Tak Langgar Dalil yang Pasti
Aktual
Dampak Erupsi Gunung Anak Krakatau, Garuda Indonesia Alihkan Penerbangan Jamaah Umrah ke Aceh
Dampak Erupsi Gunung Anak Krakatau, Garuda Indonesia Alihkan Penerbangan Jamaah Umrah ke Aceh
Aktual
Assalamualaikum: Tulisan Arab, Latin, Arti, Jawaban, dan Keutamaannya
Assalamualaikum: Tulisan Arab, Latin, Arti, Jawaban, dan Keutamaannya
Doa Harian
4 Adab Utama saat Berdoa, Apakah Mengusap Wajah Setelah Selesai Wajib Dilakukan?
4 Adab Utama saat Berdoa, Apakah Mengusap Wajah Setelah Selesai Wajib Dilakukan?
Aktual
Surat Al Kahfi Lengkap 110 Ayat: Arab, Latin, Arti, dan Tafsir
Surat Al Kahfi Lengkap 110 Ayat: Arab, Latin, Arti, dan Tafsir
Doa Harian
Kumpulan Doa Saat Gunung Meletus untuk Memohon Perlindungan dan Keselamatan
Kumpulan Doa Saat Gunung Meletus untuk Memohon Perlindungan dan Keselamatan
Doa dan Niat
Bencana Ini Musibah atau Azab? Simak Pengertian dan Perbedaannya dalam Islam
Bencana Ini Musibah atau Azab? Simak Pengertian dan Perbedaannya dalam Islam
Aktual
4 Sikap yang Diajarkan Rasulullah SAW Saat Menghadapi Musibah
4 Sikap yang Diajarkan Rasulullah SAW Saat Menghadapi Musibah
Aktual
Cemas dan Stres Mendengar Kabar Bencana, Amalkan Doa yang Diajarkan Rasulullah SAW
Cemas dan Stres Mendengar Kabar Bencana, Amalkan Doa yang Diajarkan Rasulullah SAW
Doa dan Niat
Anak Krakatau Erupsi, Ini Doa yang Dianjurkan Rasulullah Saat Gunung Meletus
Anak Krakatau Erupsi, Ini Doa yang Dianjurkan Rasulullah Saat Gunung Meletus
Doa dan Niat
Doa Saat Menghadapi Bencana Alam, Ini Bacaan yang Bisa Diamalkan Hari Ini
Doa Saat Menghadapi Bencana Alam, Ini Bacaan yang Bisa Diamalkan Hari Ini
Doa dan Niat
Di Tengah Pesatnya AI, Dunia Diingatkan untuk Tetap Menjaga Nilai Kemanusiaan
Di Tengah Pesatnya AI, Dunia Diingatkan untuk Tetap Menjaga Nilai Kemanusiaan
Aktual
1.344 Calon Petugas Haji Ikuti Tes CAT Serentak di 35 Titik BKN
1.344 Calon Petugas Haji Ikuti Tes CAT Serentak di 35 Titik BKN
Aktual
Haedar Nashir Ungkap Alasan Muhammadiyah Tidak Memiliki Dewan Syuro
Haedar Nashir Ungkap Alasan Muhammadiyah Tidak Memiliki Dewan Syuro
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar