Editor
KOMPAS.com – Muhammadiyah menghimpun dana sebesar Rp 6,09 miliar untuk membantu masyarakat terdampak gempa bermagnitudo 7,7 yang mengguncang tujuh kabupaten di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Hingga 3 September 2026, sebanyak Rp 3,45 miliar dari dana tersebut telah disalurkan untuk mendukung layanan kesehatan, dapur umum, pendampingan psikososial, serta distribusi bantuan logistik.
“Kami mengapresiasi seluruh relawan Muhammadiyah di lapangan. Kami juga berterima kasih kepada para donatur dan jemaah shalat Jumat atas kepercayaannya sehingga layanan kemanusiaan bagi penyintas bencana di NTT dapat terus dilanjutkan,” ujar Direktur Utama Lazismu Barry Adhitya dalam rilisnya, Sabtu (5/9/2026).
Baca juga: Menag Ajak Siswa Seminari Doakan Korban Gempa Flores
Muhammadiyah merespons gempa yang terjadi pada 15 Agustus 2026 dengan mengerahkan relawan dari Lembaga Resiliensi Bencana (LRB) atau Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC), Lazismu, serta sejumlah rumah sakit Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah.
Respons kemanusiaan difokuskan pada tiga klaster pelayanan, yakni kesehatan, nonkesehatan, dan logistik.
Pada layanan kesehatan, Emergency Medical Team (EMT) Type-1 Fixed dan EMT Mobile telah menangani 3.702 penyintas, terdiri atas 2.215 perempuan dan 1.487 laki-laki.
Berdasarkan kelompok usia, pasien yang mendapatkan penanganan terdiri atas 85 bayi, 229 balita, 266 anak-anak, 150 remaja, 2.173 orang dewasa, dan 799 lansia. Selain itu, terdapat 22 ibu hamil yang mendapat pelayanan kesehatan.
Hasil pemeriksaan di rumah sakit lapangan menunjukkan infeksi saluran pernapasan menjadi keluhan yang paling banyak ditemukan, yakni dialami 437 penyintas.
Keluhan lainnya berupa nyeri otot dan pegal-pegal yang dialami 372 orang, hipertensi 233 orang, rasa tidak nyaman atau nyeri di sekitar perut 186 orang, serta sakit kepala dan nyeri pada leher hingga tengkuk sebanyak 153 orang.
Pada klaster kesehatan, Muhammadiyah mengerahkan 50 personel EMT Type-1 Fixed untuk mendirikan rumah sakit lapangan di Puskesmas Dampek, Kabupaten Manggarai Timur.
Fasilitas kesehatan tersebut mengalami kerusakan akibat gempa.
Tim yang bekerja menggunakan standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tersebut diterjunkan bersama Kementerian Kesehatan dan dijadwalkan bertugas selama 30 hari sejak 17 Agustus 2026.
Selain rumah sakit lapangan, layanan kesehatan diberikan melalui EMT Mobile yang mendatangi lokasi pengungsian dan wilayah yang sulit dijangkau.
Tim tersebut berasal dari sejumlah rumah sakit Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah di berbagai daerah. Mereka turut membawa dukungan logistik dan obat-obatan yang diperlukan dalam pelayanan kesehatan.
Pada layanan nonkesehatan, dapur umum Muhammadiyah telah melayani kebutuhan konsumsi bagi 1.750 orang.
Relawan juga membangun fasilitas sanitasi dan air bersih di dua titik serta memberikan pendampingan psikososial kepada 1.773 penyintas.
Sementara itu, bantuan logistik yang disalurkan meliputi mobil dapur umum, mobil taktis, 500 paket perlengkapan keluarga, 600 paket perlengkapan sekolah, 1.440 kaleng Rendangmu, serta terpal sepanjang 500 meter.
Untuk mengoordinasikan seluruh pelayanan, Muhammadiyah mendirikan Pos Koordinasi Wilayah di Klinik Muhammadiyah Ende, Jalan Mahoni, Kelurahan Kota Ratu, Kecamatan Ende Utara, Kabupaten Ende.
Pos tersebut digunakan untuk merencanakan dan mengevaluasi layanan kemanusiaan. Hingga kini, tujuh pos koordinasi daerah dan 10 pos pelayanan telah didirikan di kabupaten terdampak.
Pengumpulan dana untuk korban gempa dilakukan antara lain melalui infak shalat Jumat di masjid-masjid Muhammadiyah.
Pimpinan Pusat Muhammadiyah sebelumnya menerbitkan Surat Edaran Nomor 18/EDR/I.0/H/2026 tertanggal 20 Agustus 2026. Surat itu menginstruksikan masjid-masjid Muhammadiyah menggalang infak untuk korban gempa NTT pada Jumat, 21 Agustus 2026.
Hingga 3 September 2026, dana yang terhimpun mencapai Rp 6.099.163.820.
Dari jumlah tersebut, sebesar Rp 3.455.958.814 telah digunakan untuk mendukung layanan kemanusiaan di wilayah terdampak.
Barry mengatakan, penggunaan dana masyarakat akan terus dipantau dan dievaluasi. Penyaluran bantuan juga akan dilanjutkan hingga masa pemulihan.
“Penyaluran dana donasi dan infak shalat Jumat masih akan terus dilaksanakan untuk melanjutkan respons, tahapan rehabilitasi dan rekonstruksi, serta membangun ketangguhan masyarakat,” kata Barry.
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT