Editor
KOMPAS.com - Bencana alam seperti gempa, kekeringan, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), hingga erupsi gunung berapi dapat membawa dampak besar bagi kehidupan masyarakat.
Kondisi tersebut tidak hanya menimbulkan kerugian, tetapi juga dapat memunculkan rasa kehilangan, kesedihan, dan tekanan bagi orang-orang yang terdampak.
Dalam Islam, seorang Muslim dianjurkan tetap berpegang pada tuntunan Allah SWT dan Rasulullah SAW ketika menghadapi kondisi sulit akibat musibah.
Baca juga: Doa Saat Menghadapi Bencana Alam, Ini Bacaan yang Bisa Diamalkan Hari Ini
Dilansir dari laman MUI, berikut lima sikap yang dianjurkan Rasulullah SAW ketika seorang Muslim tengah ditimpa atau menghadapi musibah.
Dalam Islam, musibah dipahami sebagai ujian atau cobaan yang dapat mengandung hikmah, baik untuk meneguhkan keimanan maupun menghapus dosa. Karena itu, sikap pertama seorang Muslim ketika tertimpa musibah adalah bersabar dengan menyadari bahwa setiap ujian memiliki tujuan dan hikmah dari Allah SWT.
Baca juga: Cemas dan Stres Mendengar Kabar Bencana, Amalkan Doa yang Diajarkan Rasulullah SAW
Kesabaran tidak hanya berarti menerima keadaan, tetapi juga mempertahankan keteguhan hati dan keyakinan kepada Allah SWT.
Dengan pemahaman tersebut, seorang mukmin dapat melihat musibah bukan sebagai akhir dari kebaikan, melainkan sebagai kesempatan memperoleh rahmat, meningkatkan derajat, menambah pahala, dan menghapus dosa.
Bahkan, ujian sekecil apa pun dapat bernilai di sisi Allah SWT, sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
مَا يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ مِنْ شَوْكَةٍ فَمَا فَوْقَهَا إِلَّا رَفَعَهُ اللهُ بِهَا دَرَجَةً، أَوْ حَطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةً
Artinya: “Tidaklah seorang mukmin tertimpa duri atau sesuatu yang lebih menyakitkan darinya, melainkan Allah mengangkat derajatnya atau menghapus satu kesalahannya.” (HR Muslim)
Hadits tersebut memberikan landasan bahwa musibah dapat membawa dua manfaat bagi seorang mukmin, yakni mengangkat derajat dan menghapus dosa. Al-Hafizh Ibn Hajar Al-‘Asqalani (wafat 852 H) dalam kitabnya Fath al-Bary menegaskan:
وَهَذَا يَقْتَضِي حُصُولَ الأَمْرَيْنِ مَعًا: حُصُولَ الثَّوَابِ، وَرَفْعَ العِقَابِ
Artinya: “Hadits ini menunjukkan bahwa dua hal tersebut (pengangkatan derajat dan penghapusan dosa dapat terjadi secara bersamaan.” (Fath Al-Bari Syarh Sahih Al-Bukhari [Beirut: Dar Al-Ma’rifah], vol 10, h 105)
Dengan demikian, musibah tidak semata-mata dipandang sebagai beban, tetapi juga dapat menjadi proses pendidikan ilahi yang mengandung nilai pahala sekaligus penyucian diri.
Pemahaman ini dapat menumbuhkan keteguhan dan optimisme karena seorang mukmin meyakini bahwa setiap cobaan dapat menjadi kesempatan untuk semakin dekat kepada Allah SWT.
Jika sabar menjadi langkah awal ketika menghadapi musibah, maka ridha merupakan tingkatan spiritual yang lebih tinggi.
Setelah mampu menahan keluh kesah, seorang hamba dituntut menerima ketentuan Allah SWT dengan lapang dada sebagai bentuk penyerahan diri kepada-Nya.
Ridha bukan sekadar lanjutan dari kesabaran, tetapi juga menjadi sikap yang dapat mengubah cara seorang Muslim memandang musibah. Dengan ridha, ujian tidak hanya dilihat sebagai beban, tetapi juga sebagai bagian dari ketentuan Allah SWT yang dapat menghadirkan ketenangan.
Sikap tersebut menegaskan bahwa ujian bukanlah tanda kebencian Allah SWT. Rasulullah SAW menyatakan bahwa besarnya balasan sebanding dengan besarnya ujian dan Allah menguji hamba-hamba yang dicintai-Nya. Dalam salah satu redaksi hadits disebutkan:
إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاءِ، وَإِنَّ اللَّهَ ﷿ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاهُمْ، فَمَنْ رَضِيَ، فَلَهُ الرِّضَا، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ
Artinya: “Sesungguhnya besarnya balasan sesuai besarnya ujian. Dan sesungguhnya apabila Allah mencintai suatu kaum, Dia menguji mereka. Maka barang siapa ridha, baginya keridaan Allah dan barang siapa murka, baginya kemurkaan Allah.” (HR Tirmidzi)
Syekh Mulla Al-Qari (wafat 1014 H) menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan hubungan timbal balik antara sikap seorang hamba dan balasan dari Allah.
Bila seorang mukmin menerima ketentuan Allah dengan ikhlas, maka Allah pun akan meridhainya. Sebaliknya, bila ia merespons dengan amarah dan keluhan, maka kemurkaan Allah lebih layak menimpanya:
أَنَّ نُزُولَ الْبَلَاءِ عَلَامَةُ الْمَحَبَّةِ فَمَنْ رَضِيَ بِالْبَلَاءِ صَارَ مَحْبُوبًا حَقِيقِيًّا لَهُ تَعَالَى، وَمَنْ سَخِطَ صَارَ مَسْخُوطًا عَلَيْهِ
Artinya: “Turunnya bala’ (cobaan) merupakan tanda cinta Allah. Maka barangsiapa yang ridha terhadap ujian itu, akan menjadi hamba yang benar-benar dicintai oleh-Nya. Sebaliknya, siapa yang membencinya (tidak rela), maka ia akan menjadi orang yang dimurkai.” (Mirqah Al-Mafatih Syarh Misykah Al-Masabih [Beirut: Dar Al-Fikr], vol 3, h 114)
Karena itu, ridha bukan hanya tentang menerima musibah, tetapi juga proses menyelaraskan hati dengan kehendak Allah SWT.
Pada tahap ini, seorang mukmin dapat menemukan ketenangan karena memahami bahwa setiap ujian merupakan bagian dari perjalanan spiritual menuju kedewasaan dan peningkatan iman.
Selain bersabar dan ridha, seorang Muslim dianjurkan menjadikan musibah sebagai momentum untuk mengevaluasi diri.
Sikap ini penting karena tidak semua musibah dapat langsung dipahami sebagai hukuman, tetapi keadaan tersebut tetap dapat menjadi pengingat untuk memperbaiki kesalahan dan kembali kepada Allah SWT.
Jika seseorang menyadari pernah terjatuh dalam maksiat atau kesalahan, maka musibah dapat menjadi momentum untuk segera bertobat dengan sungguh-sungguh.
Dengan demikian, musibah tidak hanya dihadapi dengan kesabaran, tetapi juga menjadi dorongan untuk memperbaiki diri dan meningkatkan ketaatan.
Rasulullah SAW bersabda bahwa orang yang bertobat dari dosa bagaikan tidak pernah melakukan dosa sama sekali:
التَّائِبُ مِنَ الذَّنْبِ كَمَنْ لَا ذَنْبَ لَهُ
Artinya: “Seseorang yang bertobat dari dosa seperti orang yang tidak punya dosa.” (HR Ibn Majah)
Menurut Syekh Mulla Al-Qari, hadits tersebut bermakna bahwa kondisi seseorang setelah bertobat tidak sekadar kembali seperti sebelumnya, justru dapat menjadi lebih tinggi derajatnya. Sebab, tobat yang tulus mampu mengubah dosa menjadi kebaikan, hal ini menggambarkan betapa luas kasih sayang Allah kepada hamba yang kembali kepada-Nya:
كَمَنْ لَا ذَنْبَ لَهُ أَيْ: فِي عَدَمِ الْمُؤَاخَذَةِ، بَلْ قَدْ يَزِيدُ عَلَيْهِ بِأَنَّ ذُنُوبَ التَّائِبِ تُبَدَّلُ حَسَنَاتٍ
Artinya: “Seperti orang yang tidak memiliki dosa, yakni dalam hal tidak adanya pertanggungjawaban atas dosa-dosanya. Bahkan bisa lebih dari itu, karena dosa-dosa orang yang bertobat dapat diganti menjadi kebaikan.” (Mirqah Al-Mafatih Syarh Misykah Al-Masabih [Beirut: Dar Al-Fikr], vol 4, h 1636)
Karena itu, introspeksi, memperbaiki kesalahan, dan memohon ampun kepada Allah SWT menjadi langkah penting agar musibah dapat memberikan pelajaran bagi kehidupan seorang Muslim. Pada tahap ini, musibah tidak hanya menjadi beban, tetapi juga dapat menjadi jalan untuk memperbarui iman dan mempererat kedekatan dengan Allah SWT.
Sikap berikutnya ketika tertimpa musibah adalah mengucapkan istirja’ (Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn), yakni mengakui bahwa seluruh kehidupan berada dalam kuasa Allah SWT. Istirja’ menjadi bentuk nyata keyakinan tauhid bahwa manusia merupakan milik Allah dan pada akhirnya akan kembali kepada-Nya.
Keutamaan istirja’ semakin jelas melalui sabda Rasulullah SAW bahwa orang yang mengucapkannya ketika tertimpa musibah, disertai doa memohon pahala dan pengganti yang lebih baik, akan memperoleh rahmat Allah:
مَا مِنْ مُسْلِمٍ تُصِيبُهُ مُصِيبَةٌ، فَيَقُولُ مَا أَمَرَهُ اللهُ: إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ، اللَّهُمَّ اجْرُنِي فِي مُصِيبَتِي، وَاخْلُفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا، إِلَّا أَجَرَهُ اللهُ فِي مُصِيبَتِهِ، وَأَخْلَفَ اللهُ لَهُ خَيْرًا مِنْهَا
Artinya: “Tidaklah seorang Muslim tertimpa musibah lalu ia mengucapkan apa yang Allah perintahkan: ‘Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya kami kembali. Ya Allah, berilah aku pahala dalam musibahku dan gantilah dengan yang lebih baik, melainkan Allah akan memberinya pahala atas musibah tersebut dan Allah akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik.” (HR Muslim)
Selain keutamaannya, para ulama menjelaskan bahwa istirja’ berfungsi sebagai perisai spiritual bagi hati yang sedang rapuh.
Imam As-Safirini Al-Hanbali menuturkan bahwa ucapan istrija lebih dari sebatas doa, namun juga pelindung dari godaan setan yang kerap memanfaatkan keguncangan jiwa untuk menanamkan pikiran negatif, membangkitkan kembali kesedihan, atau menyalakan keresahan yang telah mereda:
قَالَ الشَّيْخُ شَمْسُ الدِّينِ الْمِينَحِيُّ فِي كِتَابِهِ (تَسْلِيَةِ أَهْلِ الْمَصَائِبِ)، وَهُوَ مِنْ أَئِمَّةِ الْمَذْهَبِ: قَدْ جَعَلَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ كَلِمَاتِ الِاسْتِرْجَاعِ وَهِيَ قَوْلُ الْمُصَابِ إنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إلَيْهِ رَاجِعُونَ مَلْجَأً وَمَلَاذًا لِذَوِي الْمَصَائِبِ .وَعِصْمَةً لِلْمُمْتَحَنِينَ مِنْ الشَّيْطَانِ، لِئَلَّا يَتَسَلَّطَ عَلَى الْمُصَابِ فَيُوَسْوِسَ لَهُ بِالْأَفْكَارِ الرَّدِيئَةِ، فَيَهِيجَ مَا سَكَنَ وَيَظْهَرَ مَا كَمَنَ، فَإِذَا لَجَأَ إلَى هَذِهِ الْكَلِمَاتِ الْجَامِعَاتِ لِمَعَانِي الْخَيْرِ وَالْبَرَكَةِ فَقَدْ اعْتَصَمَ بِهَا مِنْ وَسْوَسَةِ الشَّيْطَانِ، فَإِنَّ قَوْلَهُ إنَّا لِلَّهِ تَوْحِيدٌ وَإِقْرَارٌ بِالْعُبُودِيَّةِ وَالْمُلْكِ
Artinya: “Syekh Syamsuddin Al-Mīnahī dalam kitabnya Tasliyat Ahl Al-Maṣhā’ib, salah satu ulama besar mazhab, berkata: Allah SWT telah menjadikan kalimat-kalimat istirja‘ yaitu ucapan orang yang tertimpa musibah Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn sebagai tempat berlindung dan sandaran bagi mereka yang ditimpa musibah. Kalimat ini juga menjadi penjaga bagi orang-orang yang diuji, agar setan tidak menguasainya lalu membisikkan pikiran-pikiran buruk, yang dapat membangkitkan kembali apa yang sudah tenang, dan menampakkan apa yang tersembunyi.
Ketika seseorang berlindung kepada kalimat-kalimat yang mengandung berbagai makna kebaikan dan keberkahan ini, maka ia telah menyelamatkan dirinya dari bisikan setan.
Sebab ucapannya ‘Innā lillāh’ adalah pernyataan tauhid dan pengakuan atas kehambaan serta kepemilikan Allah terhadap dirinya.” (Ghidza Al-Albab Fi Syarh Mandzumah Al-Adab [Mesir: Muassasah Qurtubhah], vol 2, h 332)
Oleh karena itu, bacaan istirja’ bukan hanya menjadi ungkapan ketika seseorang tertimpa musibah, tetapi juga mengembalikan kesadaran seorang hamba kepada hakikat hubungannya dengan Allah SWT.
Ucapan tersebut meneguhkan keyakinan bahwa manusia sepenuhnya milik Allah dan segala sesuatu yang diberikan, diambil, atau menjadi ujian merupakan bagian dari ketentuan-Nya.
Keempat sikap tersebut menunjukkan bahwa menghadapi musibah dalam Islam tidak berhenti pada penerimaan terhadap keadaan.
Seorang Muslim dianjurkan bersabar, ridha terhadap ketentuan Allah SWT, bertobat dan melakukan introspeksi, mengucapkan istirja’ serta memohon pertolongan Allah.
Semoga kita semua diberi kemampuan untuk meneladani tuntunan mulia ini dan menjadi hamba yang senantiasa dekat dengan Allah SWT dalam setiap keadaan.
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT