Editor
MAKASSAR, KOMPAS.com — Sedikitnya 50 jemaah dari dua rombongan umrah tertahan di Makassar, Sulawesi Selatan, setelah penerbangan menuju Jakarta dibatalkan akibat sebaran abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau, Minggu (6/9/2026).
Sebanyak 20 jemaah dari sejumlah kabupaten untuk sementara diinapkan di Asrama Haji Sudiang.
Sementara itu, 30 jemaah asal Luwu Timur masih menunggu kepastian penerbangan lanjutan dari maskapai dan pihak perusahaan perjalanan.
Baca juga: Anak Krakatau Erupsi, Ini Doa yang Dianjurkan Rasulullah Saat Gunung Meletus
Liaison Officer Kementerian Haji dan Umrah Sulawesi Selatan di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Rizal, mengatakan, pihaknya telah menyiapkan tempat menginap bagi rombongan pertama.
“Kita sudah siapkan lima kamar, masing-masing berisi empat tempat tidur, di asrama,” kata Rizal dikutip dari Tribunnews, Senin (7/9/2026).
Sebagian jemaah lainnya memilih kembali ke rumah masing-masing untuk menunggu pemberitahuan lebih lanjut dari pihak travel.
Biaya akomodasi selama masa penantian ditanggung perusahaan perjalanan.
Rombongan pertama yang berjumlah sekitar 20 orang berasal dari sejumlah kabupaten di Sulawesi Selatan.
Mereka semula dijadwalkan terbang menuju Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, menggunakan Pelita Air pada pukul 10.10 WITA.
Para jemaah telah tiba di Bandara Sultan Hasanuddin sejak sekitar pukul 06.00 WITA. Hingga pukul 14.30 WITA, mereka masih menunggu kepastian keberangkatan di selasar terminal.
Setelah tiba di Jakarta, rombongan tersebut sedianya bergabung dengan jemaah lain dari sejumlah perusahaan perjalanan di Jawa, Sumatera, dan Kalimantan sebelum melanjutkan perjalanan menuju Tanah Suci.
Namun, hingga Minggu siang, pihak travel belum memperoleh kepastian mengenai jadwal penerbangan pengganti. Para jemaah kemudian diminta menunggu di Asrama Haji Sudiang.
Baca juga: Dampak Erupsi Gunung Anak Krakatau, Garuda Indonesia Alihkan Penerbangan Jamaah Umrah ke Aceh
Secara terpisah, sebanyak 30 jemaah umrah asal Luwu Timur juga tertahan di Bandara Sultan Hasanuddin.
Rombongan yang diberangkatkan Towuti Travel itu dijadwalkan terbang menuju Jakarta menggunakan Garuda Indonesia pada pukul 11.10 WITA.
Pemilik Towuti Travel, Mansur Taswin, mengatakan, pembatalan penerbangan baru diketahui setelah dirinya bersama para jemaah berada di bandara. Mereka bahkan telah mendapatkan kartu naik pesawat dan memasuki ruang tunggu.
“Kami mau berangkat umrah sesuai jadwal, yaitu pukul 11.10 dari Makassar ke Jakarta,” kata Mansur saat ditemui di Bandara Sultan Hasanuddin.
“Sudah boarding, sudah dapat boarding pass. Setelah masuk ke ruang tunggu, ternyata ada informasi dari Jakarta bahwa penerbangan dibatalkan,” lanjutnya.
Sebagian jemaah telah berada di bandara sejak pukul 08.00 WITA, sedangkan yang lain datang sekitar pukul 09.00 WITA.
Pihak travel masih menunggu kepastian dari Garuda Indonesia mengenai penerbangan pengganti ataupun kemungkinan pengembalian biaya tiket.
“Kami menunggu dari pihak penerbangan, dari Garuda. Belum ada informasi pasti setelah dikatakan dibatalkan sementara. Kami diminta melakukan konfirmasi ke bagian ticketing,” ujar Mansur.
“Belum ada pembicaraan mengenai refund atau reschedule,” sambungnya.
Untuk sementara, 30 jemaah tersebut masih berada di area ruang tunggu Bandara Sultan Hasanuddin.
Mengingat banyak jemaah berasal dari luar daerah, pihak travel akan berkoordinasi dengan maskapai apabila mereka harus menginap.
“Kami belum tahu. Kalau nantinya harus diinapkan, kami akan berkonsultasi dengan pihak penerbangan atau maskapai,” kata Mansur.
Pembatalan tidak hanya dialami dua rombongan jemaah umrah. Sejumlah penerbangan dari Bandara Sultan Hasanuddin menuju Jakarta juga dibatalkan pada Minggu.
Berdasarkan informasi pada papan keberangkatan, sedikitnya enam penerbangan dibatalkan, yakni:
• Citilink QG-345 tujuan Jakarta, pukul 06.15 WITA;
• Batik Air ID-6265 tujuan Jakarta, pukul 06.25 WITA;
• Garuda Indonesia GA-617 tujuan Jakarta, pukul 07.15 WITA;
• Batik Air ID-6267 tujuan Jakarta, pukul 10.05 WITA;
• Pelita Air IP-807 tujuan Jakarta, pukul 10.10 WITA;
• Citilink QG-351 tujuan Surabaya, pukul 10.45 WITA.
Pada papan informasi Bandara Sultan Hasanuddin, alasan pembatalan penerbangan tercantum sebagai cuaca buruk.
Sementara itu, pembatalan penerbangan menuju Jakarta terjadi setelah operasional Bandara Soekarno-Hatta dihentikan sementara karena terdeteksi sebaran abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau.
Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan sebelumnya menyatakan, penutupan dilakukan setelah paper test di Bandara Soekarno-Hatta menunjukkan indikasi positif keberadaan abu vulkanik.
Operasional bandara semula dihentikan pada pukul 01.30–05.30 WIB. Penutupan kemudian diperpanjang hingga pukul 09.30 WIB.
Kondisi tersebut menyebabkan kepadatan penumpang di Terminal Keberangkatan Bandara Sultan Hasanuddin. Kursi di ruang tunggu dipenuhi penumpang yang menanti kepastian, sedangkan puluhan orang mendatangi konter pelayanan maskapai.
Hingga Minggu siang, pihak pengelola Bandara Sultan Hasanuddin belum menyampaikan jumlah keseluruhan penerbangan yang dibatalkan.
Salah seorang penumpang yang terdampak pembatalan penerbangan adalah Bupati Maros Chaidir Syam.
Chaidir telah berada di bandara sejak pukul 04.00 WITA atau sekitar dua jam sebelum jadwal keberangkatannya menggunakan Batik Air.
“Sebenarnya saya menggunakan pesawat Batik Air pukul 06.20 WITA, tetapi dibatalkan sehingga gagal berangkat,” kata Chaidir.
Menurut dia, pihak maskapai memberikan dua pilihan kepada penumpang, yakni pengembalian biaya tiket atau penjadwalan ulang penerbangan.
Chaidir memilih pengembalian dana sebesar Rp2,1 juta karena belum ada kepastian mengenai jadwal penerbangan pengganti.
“Ada opsi reschedule, hanya saja belum ada jadwal pastinya. Jadi, saya memilih refund,” ujarnya.
Chaidir sedianya pergi ke Jakarta untuk memenuhi undangan berkaitan dengan hasil revalidasi Geopark Maros-Pangkep. Kegiatan tersebut dijadwalkan berlangsung Senin (7/9/2026), sedangkan registrasi dilakukan sehari sebelumnya.
Sebelum berangkat ke bandara, Chaidir mengaku telah memperoleh informasi mengenai erupsi Gunung Anak Krakatau dari media sosial.
“Kami sudah mendapat berita di TikTok dan ditanya oleh anak saya. Namun, kami mengatakan tidak apa-apa, mungkin tetap bisa terbang,” ucapnya.
Chaidir mengapresiasi keputusan otoritas penerbangan dan maskapai yang mengutamakan keselamatan penumpang.
“Kita tidak menyangka ada kejadian luar biasa ketika Gunung Anak Krakatau meletus dan berdampak langsung terhadap penerbangan,” katanya.
“Lebih baik kita menghindari dampak buruk daripada memaksakan terbang yang dapat berakibat fatal, bahkan menimbulkan korban jiwa,” sambung Chaidir.
Artikel ini telah tayang di Tribun-Timur.com dengan judul Efek Krakatau: Tertahan di Bandara, 30 Jamaah Umrah Asal Luwu Timur Batal Terbang ke Jakarta
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT