Editor
BALI, KOMPAS.com – Perdamaian tidak selalu lahir dari keputusan besar ataupun forum tingkat dunia. Ia dapat bermula dari ketenangan dalam diri, kepedulian kepada sesama, dan kesediaan manusia menjaga seluruh kehidupan.
Pesan tersebut mengemuka dalam Tri Hita Karana Universal Reflection Ceremony 2026 yang menjadi puncak rangkaian Bali Harmony Encounter Week 2026 di Sunset Mandala, Sira Village, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura Kura Bali, Senin (7/9/2026).
Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Arskal Salim mengibaratkan perubahan besar sebagai cahaya yang terhimpun dari banyak nyala kecil.
“Transformasi besar tidak lahir dari satu cahaya raksasa, melainkan dari lilin-lilin kecil yang kita bawa bersama,” kata Arskal, mewakili Menteri Agama Nasaruddin Umar dalam rilisnya, Senin.
Baca juga: Kemenag Izinkan Madrasah dan Pesantren Terdampak Erupsi Beralih ke PJJ
Ia mengajak generasi muda dan umat beragama menjaga nyala perdamaian tersebut dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari rumah hingga lingkungan kerja.
“Saya mengajak generasi muda dan seluruh umat beragama untuk menjaga nyala cahaya ini di rumah dan lingkungan kerja kita,” ujarnya.
Upacara refleksi tersebut mengangkat tema Holding Space for Peace: Peace Within, Peace Among Us, Peace with All Life.
Tema itu membawa tiga lapis pesan perdamaian, yakni berdamai dengan diri sendiri, membangun kedamaian bersama orang lain, serta menjaga hubungan yang selaras dengan seluruh kehidupan.
Menurut Arskal, ketiga pesan tersebut tidak semestinya berhenti sebagai slogan dalam sebuah forum.
“Kedamaian dalam diri, kedamaian antarsesama, dan kedamaian dengan seluruh kehidupan bukan sekadar slogan,” katanya.
“Ini merupakan seruan untuk melakukan tindakan nyata yang dimulai dari diri kita sendiri hari ini,” lanjut Arskal.
Baca juga: Di Tengah Pesatnya AI, Dunia Diingatkan untuk Tetap Menjaga Nilai Kemanusiaan
Forum tersebut diikuti delegasi dari lebih dari 70 negara. Mereka berasal dari unsur pemerintah, perusahaan teknologi, perguruan tinggi, masyarakat sipil, serta komunitas lokal.
Di tengah perkembangan teknologi dan menguatnya perpecahan di berbagai belahan dunia, pertemuan itu menjadi ruang bagi para peserta untuk berhenti sejenak dan memaknai kembali arti kedamaian.
Wakil Presiden United In Diversity Foundation Suyoto mengatakan, perdamaian bukan hanya tujuan akhir yang hendak dicapai melalui gagasan dan teori.
Lebih dari itu, perdamaian merupakan hubungan yang perlu dirawat manusia melalui sikap dan perbuatan sehari-hari.
“Kedamaian bukanlah sekadar tujuan akhir yang dicapai melalui teori, melainkan sebuah hubungan yang harus kita rawat secara aktif setiap hari,” kata Suyoto.
Menurut dia, semangat tersebut sejalan dengan filosofi Tri Hita Karana yang menekankan keharmonisan hubungan manusia dengan Tuhan, antarsesama manusia, dan alam.
Nilai-nilai serupa, lanjut Suyoto, juga hidup dalam berbagai agama dan tradisi di Indonesia.
“Melalui THK Universal Reflection Forum, Yayasan UID mengemban semangat Tri Hita Karana yang kami yakini menjadi inti ajaran di seluruh agama dan tradisi di Indonesia,” ujarnya.
Bali Harmony Encounter Week 2026 berlangsung pada 2–7 September 2026 dengan membawa perhatian utama pada hubungan antara perkembangan teknologi dan nilai-nilai kemanusiaan.
Salah satu rangkaiannya adalah Bali Harmony Dialogue yang diselenggarakan di United In Diversity (UID) Bali Campus, KEK Kura Kura Bali, pada Kamis (3/9/2026).
Dialog tersebut mempertemukan perwakilan pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat sipil untuk membahas kesenjangan penguasaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) di tingkat global.
Dalam kuliah umum bertajuk Intelligence: Natural and Artificial, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie memaparkan langkah yang dapat ditempuh negara berkembang dalam menghadapi kemajuan AI.
Negara berkembang, menurut Stella, tidak seharusnya hanya menjadi konsumen teknologi. Mereka juga perlu berperan aktif dalam penelitian serta penyusunan tata kelola AI global.
Persoalan AI turut dibahas dalam Consultative Dialogue on Youth. Melalui forum tersebut, para inovator muda dan perintis industri mendorong lahirnya sistem pendidikan yang tidak hanya membekali peserta didik dengan kemampuan teknis.
Pendidikan juga perlu menumbuhkan kepemimpinan yang beretika dan menempatkan manusia sebagai pusat perkembangan teknologi.
Sementara itu, World Encounter Summit Bali: XI International Scholas Chairs Congress diselenggarakan pada 4–6 September 2026.
Forum bertema Artificial Intelligence and Human Meaning tersebut mempertemukan perwakilan lebih dari 140 perguruan tinggi dari 70 negara.
Para peserta membahas pentingnya melibatkan generasi muda dan kearifan lokal dalam merumuskan etika serta arah perkembangan teknologi masa depan.
Rangkaian pertemuan itu membawa pesan bahwa kemajuan teknologi perlu berjalan bersama keadilan sosial, pelestarian budaya, dan penghormatan terhadap martabat manusia.
Sebab, kecerdasan teknologi tidak dengan sendirinya menghadirkan kehidupan yang damai. Manusia tetap membutuhkan kejernihan hati, kepemimpinan moral, dan kesediaan merawat hubungannya dengan sesama serta alam.
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT