Editor
JEMBER, KOMPAS.com — Pondok Pesantren Baitul Arqom di Balung, Kabupaten Jember, Jawa Timur, membekali para santri dengan keterampilan bercocok tanam, beternak, dan mengelola usaha mandiri.
Program tersebut menjadi bagian dari pendidikan aplikatif bagi santri sekaligus upaya pesantren mendukung ketahanan pangan dan kemandirian ekonomi masyarakat.
“Para santri di Baitul Arqom tidak hanya dibekali ilmu agama, tetapi juga dilatih secara langsung untuk bercocok tanam dan beternak,” ujar Pengasuh Pondok Pesantren Baitul Arqom KH Izzat Fahd dalam keterangan tertulis, Jumat (11/9/2026).
Baca juga: Festival Film Santri Nasional 2026, Santri Mlangi Juara Film Dokumenter
Menurut Izzat, hasil pertanian dan peternakan pesantren memberikan manfaat langsung bagi lingkungan sekitar.
Hasil usaha itu antara lain digunakan untuk mendukung keberlanjutan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Program tersebut juga menjadi bentuk dukungan pesantren terhadap Asta Cita pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, khususnya dalam bidang ketahanan pangan nasional.
Melalui kegiatan pertanian dan peternakan, santri tidak hanya memperoleh pengetahuan secara teori.
Mereka juga belajar mengelola sumber daya, bekerja sama, serta membangun kemandirian yang dapat menjadi bekal setelah menyelesaikan pendidikan di pesantren.
Baca juga: 100 Tahun Gontor, Pesantren Ditawarkan Jadi Model Pendidikan Holistik Dunia
Seorang santri Pondok Pesantren Baitul Arqom Jember sedang memanen hasil tanam pesantrennya sebagai salah satu cara ketahanan pangan. Badan Pengelola Penelitian dan Pengembangan Pesantren (BP3) Wakaf dan Amal Usaha Pondok Pesantren Baitul Arqom, Muhammad Imaduddin, mengatakan, kemandirian ekonomi menjadi salah satu fondasi pesantren.
Kemandirian tersebut dikembangkan melalui pengelolaan wakaf serta sejumlah unit usaha yang dimiliki pesantren.
“Pondok Pesantren Baitul Arqom memiliki fondasi yang kuat dalam kemandirian usaha, baik melalui pengelolaan wakaf maupun pengembangan potensi unit bisnis pesantren,” kata Imaduddin.
Menurut dia, potensi tersebut dapat dikembangkan untuk mendukung kebijakan pemerintah sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Kami siap bersinergi dan berkontribusi dalam program pemerintah untuk mewujudkan Indonesia yang berdikari, maju, dan sejahtera,” ujarnya.
Perpaduan pendidikan agama, keterampilan mengelola pangan, dan pengembangan usaha diharapkan dapat memperkuat peran pesantren sebagai pusat pemberdayaan masyarakat.
Pesantren tidak hanya menjadi tempat santri memperdalam ilmu agama, tetapi juga ruang untuk menumbuhkan etos kerja, kemandirian, dan kepedulian terhadap kebutuhan masyarakat.
Pondok Pesantren Baitul Arqom berharap model kemandirian pangan yang dikembangkan dapat diterapkan oleh pesantren, lembaga pendidikan, dan komunitas lainnya.
Upaya tersebut dinilai penting untuk memperkuat pasokan pangan masyarakat di tengah tantangan kenaikan harga sejumlah bahan pokok dan perubahan kondisi iklim.
“Kami berharap sistem kemandirian pangan ala pesantren dapat ditiru oleh lembaga pendidikan dan masyarakat lainnya untuk membantu menjaga ketahanan pangan,” kata Imaduddin.
Melalui langkah tersebut, pesantren diharapkan turut berkontribusi membangun kedaulatan pangan dari tingkat komunitas.
Bagi para santri, kegiatan bertani, beternak, dan mengelola usaha juga menjadi bagian dari ikhtiar mengamalkan ilmu.
Mereka dipersiapkan tidak hanya memiliki pemahaman agama, tetapi juga keterampilan yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.