Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Mewaspadai Bahaya Sifat Merasa Paling Benar dan Memaksakan Kehendak

Kompas.com, 20 September 2026, 22:19 WIB
Puspasari Setyaningrum

Editor

KOMPAS.com - Sikap merasa paling benar dan memaksakan kehendak kepada orang lain dapat mengganggu hubungan sosial serta berkembang menjadi karakter tughyan atau melampaui batas.

Dilansir dari muhammadiyah.or.id, Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DI Yogyakarta Yayan Suryana mengingatkan umat Islam agar mewaspadai sikap tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Baca juga: Khutbah Jumat 28 Agustus 2026: 3 Sifat Muslim Sejati

Pesan itu disampaikan Yayan dalam khutbah Jumat di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Jumat (18/9/2026).

Ia menjelaskan, ketakwaan tidak hanya berkaitan dengan menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah, tetapi juga kesadaran bahwa manusia selalu berada dalam pengawasan Allah SWT.

“Menurut para psikolog, pemaknaan takwa lebih pada bagaimana kita merasa diri selalu bersama dengan Allah, selalu merasa dikontrol oleh Allah. Itulah sejatinya orang bertakwa,” ujarnya.

Baca juga: Islam Melarang Berkata Kasar dan Menghina, Ini Dalil Al-Quran dan Hadisnya

Dalam kehidupan sosial, Yayan menyebut salah satu ancaman yang perlu diwaspadai adalah mentalitas merasa paling benar dan memaksakan kehendak kepada orang lain.

Sikap tersebut dapat berkembang dari persoalan pribadi menjadi perilaku yang memengaruhi hubungan antarmanusia.

“Ancaman itu adalah satu mental yang kita miliki yang selalu merasa diri paling benar dan sering memaksakan kehendak pada orang lain,” tuturnya.

Contoh dan Bentuk Sikap Merasa Paling Benar

Menurut Yayan, perasaan berlebihan terhadap diri sendiri dapat membuat seseorang merasa tidak membutuhkan orang lain.

Sikap itu dapat muncul dalam berbagai bentuk, seperti merasa paling pintar, paling berpengalaman, paling senior, paling berjasa, paling berkuasa, hingga merasa paling mengetahui agama.

Ketika seseorang menempatkan dirinya sebagai pihak yang paling benar, ego dapat mengambil alih posisi yang semestinya menjadi wilayah ketuhanan. Padahal, manusia tetap memiliki keterbatasan di hadapan Allah SWT.

“Orang yang merasa lebih daripada orang lain lalu tidak membutuhkan orang lain, pada saatnya nanti akan menimbulkan sikap-sikap eksploitatif yang merusak kehidupan sesama,” katanya.

Apa Hubungan Merasa Paling Benar dengan Tughyan?

Yayan mengaitkan sikap merasa paling benar dengan karakter tughyan, yakni perilaku melampaui batas. Ia menjelaskan hal tersebut melalui kisah Firaun dalam Al-Qur’an.

Yayan mengutip Surah Al-Qasas ayat 4 yang menggambarkan Firaun sebagai sosok yang berlaku sewenang-wenang di muka bumi, memecah masyarakat menjadi kelompok-kelompok, serta mengeksploitasi sebagian dari mereka.

Menurutnya, perilaku tersebut berawal dari kesombongan dan perasaan memiliki kekuasaan yang melampaui batas. Firaun bahkan sampai mengklaim dirinya sebagai tuhan yang paling tinggi.

“Ini berawal dari sikap angkuh Firaun yang merasa bahwa dia lebih hebat dari yang lain. Kekuatannya melampaui batas sehingga dia sampai kepada puncak tughyan-nya,” jelas Yayan.

Karakter seperti itu, lanjut Yayan, tidak hanya dapat muncul dalam bentuk kekuasaan besar seperti yang digambarkan dalam kisah Firaun. Dalam kehidupan sehari-hari, sikap serupa dapat muncul dalam berbagai hubungan sosial.

Sikap merasa paling benar dapat terjadi dalam relasi orang tua dan anak, suami dan istri, pemimpin dan anggota, hingga ulama dan masyarakat awam.

Yayan juga mencontohkan kecenderungan seseorang yang dianggap pintar atau berilmu untuk selalu diposisikan sebagai pihak yang benar. Jika hal itu terjadi, ruang untuk berdiskusi dan menerima kritik dapat semakin tertutup.

“Orang berdebat bukan persoalan menang debatnya. Sesungguhnya yang diperjuangkan adalah tentang kebenarannya. Bisa saja dia menang debatnya, tetapi dia memenangkan perdebatan di dalam keburukan,” ungkapnya.

Tauhid Mencegah Manusia Memutlakkan Diri

Yayan menekankan pentingnya tauhid sebagai landasan dalam membangun kehidupan sosial. Menurutnya, kalimat lā ilāha illallāh memiliki konsekuensi sosial karena membebaskan manusia dari penghambaan kepada selain Allah, termasuk kekuasaan, harga diri, maupun ego pribadi.

Tauhid juga mengajarkan bahwa manusia tidak dapat memutlakkan dirinya sebagai satu-satunya pemilik kebenaran.

Pengetahuan manusia memiliki keterbatasan sehingga keterbukaan terhadap orang lain menjadi bagian penting dari penghayatan tauhid.

“Orang yang bertauhid tidak akan pernah memutlakkan dirinya sebagai satu-satunya kebenaran. Tauhid akan memastikan kita bebas dari penghambaan terhadap manusia, penghambaan terhadap orang lain, juga penghambaan terhadap diri kita sendiri,” tegasnya.

Dalam hubungan sosial, umat tetap diperintahkan menghormati pemimpin, ulama, orang yang lebih senior, maupun orang tua. Namun, penghormatan tersebut tidak boleh menggeser kedudukan Allah sebagai satu-satunya Tuhan.

Yayan juga mengingatkan prinsip musyawarah sebagai bagian dari kehidupan bersama. Ia mengutip firman Allah, wa amruhum syūrā bainahum, bahwa urusan umat diselesaikan melalui musyawarah, bukan dengan penggunaan kekuasaan yang merusak hak orang lain.

Cara Mengevaluasi Sikap Merasa Paling Benar

Pada khutbah kedua, Yayan mengajak jamaah melakukan evaluasi terhadap diri sendiri. Menurutnya, karakter orang bertakwa juga tercermin dari kemampuan melakukan evaluasi dan menerima masukan.

Ia mengajak jamaah bertanya kepada diri masing-masing apakah masih sulit mendengarkan pendapat orang lain, sulit menerima kritik, atau mudah menghakimi orang lain secara sepihak.

“Jangan-jangan kita sekarang punya kewibawaan, tetapi kewibawaan itu sudah berubah menjadi ketakutan karena sifat yang kita miliki ini,” ujarnya.

Menurut Yayan, kondisi tersebut bertentangan dengan semangat Islam yang mengayomi dan menenteramkan. Karena itu, tauhid perlu diwujudkan sebagai karakter dalam kehidupan sehari-hari, bukan berhenti pada ucapan dan klaim keagamaan.

“Tauhid itu sekali lagi mari kita hadirkan sebagai suatu karakter yang membentuk sikap yang muncul di dalam kehidupan kita sehari-hari. Tidak cukup dengan kita ucapkan, kita klaim, tapi kita hadirkan melalui sikap yang jauh dari tughyan tadi itu,” katanya.

Yayan berharap penghayatan iman dan tauhid dapat melahirkan pribadi yang memberikan ketenangan dan ketenteraman bagi lingkungan sekitarnya.

Nilai-nilai Islam diharapkan tidak hanya tercermin dalam kehidupan pribadi, tetapi juga memberikan dampak positif bagi masyarakat dan bangsa.

“Mohon kita perlindungan kepada Allah Subhanahu wa taala agar kita memiliki karakter yang positif yang akan memberikan ketenangan dan ketenteraman dari Islam yang kita anut ini, dari diri kita dan untuk masyarakat kita, untuk bangsa kita ini,” pungkasnya.

Dengan demikian, sikap merasa paling benar perlu menjadi bahan evaluasi dalam kehidupan sosial agar tidak berkembang menjadi perilaku yang melampaui batas.

Tauhid, menurut Yayan, perlu hadir dalam sikap yang terbuka terhadap masukan, menghargai orang lain, dan tidak memutlakkan diri sebagai pemilik tunggal kebenaran.

Penghayatan tersebut diharapkan dapat menghadirkan Islam yang memberi ketenangan dan ketenteraman bagi masyarakat.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
Cara Shalat Berjamaah Saat Imam Sudah Rukuk untuk Makmum Masbuk
Cara Shalat Berjamaah Saat Imam Sudah Rukuk untuk Makmum Masbuk
Aktual
Kemenag Sulteng Perkuat Pembinaan 181 Eks Napiter di Poso
Kemenag Sulteng Perkuat Pembinaan 181 Eks Napiter di Poso
Aktual
Qanun Asasi NU Bantah Dana Korupsi ATR/BPN Mengalir ke Muktamar ke-35
Qanun Asasi NU Bantah Dana Korupsi ATR/BPN Mengalir ke Muktamar ke-35
Aktual
Mewaspadai Bahaya Sifat Merasa Paling Benar dan Memaksakan Kehendak
Mewaspadai Bahaya Sifat Merasa Paling Benar dan Memaksakan Kehendak
Aktual
Syamsuri Firdaus dan Makna “Tijarotan Lan Tabur” di MTQ Nasional 2026
Syamsuri Firdaus dan Makna “Tijarotan Lan Tabur” di MTQ Nasional 2026
Aktual
Libur Lebaran 2027 Bisa Sampai 10 Hari, Cek Tanggal Merah dan Cuti Bersama dan Potensi Libur Panjangnya
Libur Lebaran 2027 Bisa Sampai 10 Hari, Cek Tanggal Merah dan Cuti Bersama dan Potensi Libur Panjangnya
Aktual
Tangan-Tangan yang Tak Berhenti Bekerja, Ini Kisah di Balik Kesuksesan MTQ Nasional XXXI 2026
Tangan-Tangan yang Tak Berhenti Bekerja, Ini Kisah di Balik Kesuksesan MTQ Nasional XXXI 2026
Aktual
Jakarta Jadi Tuan Rumah MTQ Nasional XXXII 2027
Jakarta Jadi Tuan Rumah MTQ Nasional XXXII 2027
Aktual
Kalimantan Timur Jadi Juara Umum, Cek Daftar Lengkap 10 Besar MTQ Nasional XXXI 2026
Kalimantan Timur Jadi Juara Umum, Cek Daftar Lengkap 10 Besar MTQ Nasional XXXI 2026
Aktual
Kakak Beradik Jadi Juara MTQ Nasional XXXI 2026, Bawa Nama Rembang
Kakak Beradik Jadi Juara MTQ Nasional XXXI 2026, Bawa Nama Rembang
Aktual
Gontor 100 Tahun: Dari Hutan Ponorogo hingga Melahirkan Jaringan Pesantren di Indonesia
Gontor 100 Tahun: Dari Hutan Ponorogo hingga Melahirkan Jaringan Pesantren di Indonesia
Aktual
Waketum MUI Ingatkan Kufur dan Zalim Sebabkan Hilangnya Nikmat Allah
Waketum MUI Ingatkan Kufur dan Zalim Sebabkan Hilangnya Nikmat Allah
Aktual
Islam Melarang Berkata Kasar dan Menghina, Ini Dalil Al-Qur'an dan Hadisnya
Islam Melarang Berkata Kasar dan Menghina, Ini Dalil Al-Qur'an dan Hadisnya
Aktual
Kiai Hasan kepada Prabowo: Selama Bapak Husnuzan kepada Gontor, Kami pun Husnuzan
Kiai Hasan kepada Prabowo: Selama Bapak Husnuzan kepada Gontor, Kami pun Husnuzan
Aktual
Kisah Mushaf Al Quran yang Dicium Prabowo, Ditulis Santri Gontor Selama 3 Tahun
Kisah Mushaf Al Quran yang Dicium Prabowo, Ditulis Santri Gontor Selama 3 Tahun
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar