Editor
KOMPAS.com — Rais Aam terpilih Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Miftachul Akhyar mengingatkan bahwa keramat bukanlah puncak keberhasilan seseorang dalam menjalani perjalanan spiritual.
Menurut Kiai Miftach, keramat justru menjadi sarana bagi seorang wali atau salik untuk melanjutkan langkah menuju kebaikan yang lebih tinggi.
“Keramat itu bukan sebuah puncak kesuksesan, tetapi sesuatu yang masih punya kelanjutan,” kata Kiai Miftach, dikutip dari NU Online, Senin (21/9/2026).
Baca juga: Miftachul Akhyar dan Gus Kikin Pimpin PBNU, Apa Perbedaan Tugas Keduanya?
Penjelasan tersebut disampaikan Kiai Miftach dalam pengajian rutin Syarah Al-Hikam setiap bakda shalat Jumat di Pondok Pesantren Miftachus Sunnah, Surabaya.
Kiai Miftach menjelaskan, keramat merupakan kemampuan di luar kewajaran manusia yang dianugerahkan Allah kepada wali atau hamba-Nya yang saleh.
Namun, perjalanan spiritual tidak dapat ditempuh hanya dengan mengharapkan pengalaman luar biasa tersebut. Seorang salik tetap harus menjalani laku lahir dan batin secara sungguh-sungguh.
“Caranya ya kudu mengaji dulu, keterangan yang didapatkan dari pengajian direnungkan kemudian diamalkan,” ujar Pengasuh Pondok Pesantren Miftachus Sunnah itu.
Kiai Miftach meminta umat Islam agar tidak terlalu terobsesi mengejar keramat. Sebab, keramat bukan tujuan utama dalam mendekatkan diri kepada Allah.
Menurut dia, keramat merupakan penguat yang diberikan kepada seorang wali untuk mendukung penyampaian ilmu, kebenaran, dan kasih sayang kepada masyarakat.
“Keramat itu diberikan kepada seorang wali karena wali itu masih punya kelemahan, makanya diberikan penguat,” katanya.
Ia mengibaratkan hubungan antara wali dan keramat seperti seseorang yang menghadapi perkara dengan didampingi pengacara dalam persidangan.
Pengacara membantu membela dan memperkuat argumentasi orang yang sedang menghadapi suatu perkara. Demikian pula keramat, yang dapat menjadi penguat bagi seorang wali dalam menyampaikan kebenaran.
“Keramat itu seperti juru bicara atau pengacara, karena ada wali kelas tertentu yang membutuhkan penguat untuk menyampaikan suatu kebenaran,” jelasnya.
Kiai Miftach kemudian mencontohkan sejumlah ulama terkemuka yang pada mulanya meragukan kewalian guru mereka.
Di antaranya ialah Ibnu Athaillah yang sempat meragukan Syekh Abul Abbas Al-Mursi serta Syekh Izzuddin bin Abdissalam terhadap Syekh Abu Hasan As-Syadzili.
Keraguan itu kemudian berangsur hilang setelah mereka menyaksikan tanda-tanda kewalian, termasuk keramat yang terdapat dalam perjalanan spiritual gurunya.
Meski demikian, Kiai Miftach mengingatkan seseorang yang memperoleh keramat agar tidak terlena dengan pengalaman tersebut.
Keramat harus disikapi secara bijaksana dengan tetap menjaga laku lahir dan batin. Seseorang juga harus terus menjauhi keburukan dan mengembangkan kebaikan.
Dengan demikian, keramat tidak berhenti sebagai pengalaman luar biasa, tetapi menjadi penguat untuk melanjutkan perjalanan spiritual menuju kebaikan.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.