KOMPAS.com - Doa yang belum terwujud sesuai harapan bukan berarti Allah tidak mendengar atau menolak permohonan seorang hamba.
Al-Qur’an menegaskan, Allah dekat dan menyatakan akan mengabulkan doa orang yang berdoa kepada-Nya.
Rasulullah SAW juga mengingatkan agar orang yang berdoa tidak tergesa-gesa ketika jawaban belum terlihat.
Dalam Islam, persoalan doa tidak hanya berkaitan dengan kapan keinginan terwujud, tetapi juga sikap seorang Muslim ketika menunggu pengabulannya.
Allah berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 186:
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِى عَنِّى فَإِنِّى قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ ٱلدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا۟ لِى وَلْيُؤْمِنُوا۟ بِى لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
Wa idzā sa’alaka ‘ibādī ‘annī fa innī qarīb, ujību da‘watad-dā‘i idzā da‘ān, fal-yastajībū lī wal-yu’minū bī la‘allahum yarsyudūn.
Baca juga: UIN Sunan Kalijaga Kini Selevel UGM, Tembus 1.000 Kampus Terbaik Dunia
Artinya: “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran.” (QS Al-Baqarah: 186).
Ayat ini menegaskan kedekatan Allah dan pengabulan doa. Namun, ayat yang sama juga menghubungkan doa dengan ketaatan dan keimanan. Karena itu, pengabulan doa tidak tepat dipahami bahwa setiap permintaan harus terwujud persis seperti yang diminta.
Rasulullah SAW bersabda:
يُسْتَجَابُ لِأَحَدِكُمْ مَا لَمْ يَعْجَلْ فَيَقُولَ قَدْ دَعَوْتُ رَبِّي فَلَمْ يَسْتَجِبْ لِي
Yustajābu li-ahadikum mā lam ya‘jal, fa yaqūlu qad da‘awtu rabbī fa lam yastajib lī.
Artinya: “Doa salah seorang dari kalian akan dikabulkan selama ia tidak tergesa-gesa dengan mengatakan, ‘Aku telah berdoa kepada Tuhanku, tetapi Dia belum mengabulkannya.’” (Sahih Muslim 2735a).
Baca juga: Mengambil Barang Saat Masih Kecil, Apakah Tetap Wajib Mengembalikannya?
Hadis ini mengarahkan seorang Muslim agar tidak berhenti berdoa hanya karena hasil belum terlihat.
Sikap tergesa-gesa dapat membuat seseorang menganggap doanya sia-sia, padahal ia tidak mengetahui bagaimana dan kapan Allah memberikan jawaban.
Mengutip dari laman NU Online, keterlambatan pengabulan tidak semestinya membuat seseorang berputus asa.
Seorang Muslim dianjurkan tetap bersabar, berbaik sangka kepada Allah, dan melanjutkan ikhtiar.
Terkabulnya doa tidak harus diukur hanya dari satu bentuk hasil yang diharapkan. Manusia mengetahui apa yang diminta, sedangkan penentuan waktu dan bentuk jawaban berada di luar pengetahuan manusia.
Sikap yang tepat adalah tetap memohon sambil menerima bahwa hasil akhirnya berada dalam ketetapan Allah.
Al-Baqarah ayat 186 tidak hanya menyebut pengabulan doa. Pada bagian akhir ayat, Allah juga memerintahkan hamba-Nya untuk memenuhi perintah-Nya dan beriman kepada-Nya. Bagian ini menunjukkan bahwa doa berjalan bersama hubungan seorang hamba dengan Allah.
Baca juga: PPJI: Sekitar 85 Persen Anggota Bersertifikat Halal, Apa Tantangannya?
Karena itu, orang yang merasa doanya belum dikabulkan dapat menjadikan keadaan tersebut sebagai kesempatan untuk mengevaluasi diri.
Ia dapat memperbaiki ibadah, menjaga ketaatan, memperbaiki niat, dan tetap berusaha mencari jalan keluar dari persoalan yang dihadapi.
Riwayat dalam Sahih Muslim 2735a memperingatkan agar seseorang tidak meninggalkan doa karena merasa permintaannya belum dijawab. Kesabaran menjadi bagian penting dalam proses tersebut.
Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang tetap dapat berdoa sambil menjalankan ikhtiar yang sesuai dengan masalahnya. Memohon kelancaran rezeki dapat disertai usaha mencari pekerjaan atau mengembangkan kemampuan. Memohon kemudahan belajar dapat diiringi dengan belajar secara teratur.
Baca juga: Antrean Haji Dipangkas, Apa yang Dikorbankan? Dari Bersihkan Data hingga Tambahan Kuota
Menunggu pengabulan doa bukan alasan untuk berhenti berusaha. Doa dan ikhtiar dapat berjalan bersama. Seorang Muslim memohon pertolongan Allah sekaligus melakukan tindakan yang berada dalam kemampuannya.
Menerima ketetapan Allah tidak sama dengan meninggalkan usaha. Yang diterima adalah hasil setelah manusia menjalankan kewajibannya, bukan kemalasan sebelum berusaha.
Ketika doa belum menghasilkan sesuatu sesuai harapan, tetaplah berdoa, jangan tergesa-gesa menyimpulkan bahwa Allah tidak mendengar, dan lanjutkan ikhtiar. Periksa pula apakah cara yang ditempuh sudah sesuai dengan kemampuan dan tanggung jawab yang dimiliki.
Baca juga: Innalillahi Wa Inna Ilaihi Rajiun Allahummaghfirlahu Warhamhu: Arab dan Artinya
Pada akhirnya, doa bukan sekadar sarana untuk mendapatkan sesuatu. Doa juga menjadi bentuk penghambaan dan pengakuan bahwa manusia membutuhkan pertolongan Allah.
Karena itu, belum terwujudnya permintaan tidak harus menjadi alasan untuk berhenti memohon. Sikap yang ditunjukkan Nabi adalah tidak tergesa-gesa dan tetap menjaga harapan kepada Allah.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.