Penulis
السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ الْمُؤْمِنِينَ إِخْوَةً، وَأَمَرَ بِالتَّعَاوُنِ عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، الْمَبْعُوثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، صَلَاةً دَائِمَةً مَقْبُولَةً تُؤَدِّي بِهَا عَنَّا حَقَّهُ الْعَظِيمَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ، فَاتَّقُوا اللهَ تَعَالَى وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ.
قَالَ اللهُ تَعَالَى:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللهَ ۚ إِنَّ اللهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok. Bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr: 18)
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Islam mengajarkan kepada kita bahwa iman bukan hanya hubungan antara seorang hamba dengan Allah SWT. Iman juga harus tercermin dalam hubungan kita dengan sesama manusia.
Baca juga: Khutbah Jumat 2 Oktober 2026: Memutus Rantai Dendam dengan Memaafkan
Kita bisa rajin shalat, memperbanyak puasa, membaca Al-Qur'an, dan bersedekah. Namun, semua ibadah itu semestinya melahirkan akhlak yang semakin baik.
Semakin dekat seseorang kepada Allah, semestinya semakin lembut pula hatinya kepada sesama.
Karena itu, salah satu tanda kesempurnaan iman adalah kemampuan kita mencintai dan memperlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan.
Rasulullah SAW bersabda:
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّىٰ يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
“Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Hadis ini adalah sebuah kaidah emas dalam kehidupan.
Jika kita ingin dihormati, maka hormatilah orang lain.
Jika kita tidak ingin dihina, janganlah menghina.
Jika kita tidak ingin disakiti, jangan menyakiti.
Jika kita ingin dibantu ketika mengalami kesulitan, maka bantulah orang lain ketika mereka membutuhkan.
Dengan demikian, iman tidak berhenti di dalam hati dan tidak hanya terdengar melalui ucapan. Iman harus terlihat dalam perilaku.
Allah SWT berfirman:
وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا
“Dan ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia.” (QS. Al-Baqarah: 83)
Ayat ini mengajarkan kepada kita betapa pentingnya menjaga ucapan. Sebab, terkadang luka yang ditimbulkan oleh lisan jauh lebih lama sembuh dibandingkan luka pada tubuh.
Satu kalimat dapat membuat seseorang bahagia.
Namun satu kalimat pula dapat menghancurkan harga diri seseorang.
Karena itu, orang beriman harus belajar memilih kata, menahan amarah, dan berpikir sebelum berbicara.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Di zaman sekarang, menjaga lisan bukan hanya ketika kita berbicara secara langsung. Menjaga lisan juga berarti menjaga jari-jari kita ketika menggunakan media sosial.
Jangan mudah menyebarkan berita yang belum jelas kebenarannya.
Jangan menyebarkan fitnah.
Jangan menghina orang lain.
Jangan menjadikan media sosial sebagai tempat melampiaskan kebencian.
Sebelum menekan tombol “kirim”, bertanyalah kepada diri sendiri:
Apakah tulisan ini benar? Apakah bermanfaat? Apakah akan menyakiti orang lain?
Jika tidak membawa kebaikan, diam sering kali menjadi pilihan yang lebih selamat.
Rasulullah SAW juga mengajarkan bahwa seorang Muslim adalah orang yang membuat Muslim lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya.
Maka, jangan sampai tangan kita digunakan untuk menyakiti, sementara lisan kita digunakan untuk mencela.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Mencintai sesama juga berarti memiliki empati.
Ketika saudara kita mendapatkan kebahagiaan, kita ikut bersyukur.
Ketika tetangga kita tertimpa musibah, kita hadir untuk membantu.
Ketika ada orang yang sedang kesulitan, kita tidak berpaling.
Allah SWT berfirman:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara. Karena itu, damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-Hujurat: 10)
Persaudaraan dalam Islam bukan sekadar hubungan darah.
Ukhuwah juga bukan hanya karena kesamaan suku, daerah, organisasi, atau kelompok.
Persaudaraan yang dibangun di atas iman mengajarkan kita untuk saling menjaga, saling membantu, dan saling memaafkan.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Ada kalanya kita disakiti oleh orang lain.
Ada kalanya kita dikecewakan.
Ada kalanya perkataan seseorang membuat hati kita terluka.
Tetapi Islam mengajarkan kita untuk tidak menjadikan luka sebagai alasan untuk terus memelihara kebencian.
Memaafkan bukan berarti membenarkan kesalahan.
Memaafkan adalah cara kita membebaskan hati dari beban dendam.
Orang yang mampu memaafkan bukan berarti lemah. Justru ia sedang menunjukkan kekuatan hati.
Karena itu, marilah kita belajar menjadi manusia yang mudah meminta maaf dan mudah memberikan maaf.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Cinta kepada sesama harus diwujudkan dalam tindakan nyata.
Tidak harus menunggu menjadi kaya untuk membantu.
Tidak harus menunggu menjadi pejabat untuk berbuat baik.
Tidak harus menunggu memiliki banyak harta untuk berbagi.
Kadang-kadang kebaikan cukup berupa senyuman.
Kadang cukup dengan mendengarkan orang yang sedang menghadapi masalah.
Kadang cukup dengan membantu tetangga.
Kadang cukup dengan tidak membalas keburukan dengan keburukan.
Dan terkadang, kebaikan terbesar adalah memilih diam agar tidak menyakiti hati orang lain.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Mari kita jadikan cinta dan kasih sayang sebagai bagian dari kehidupan kita.
Hormati yang lebih tua.
Sayangi yang lebih muda.
Bantu mereka yang lemah.
Hargai perbedaan.
Jaga lisan.
Jaga tangan.
Jaga jari-jari kita di ruang digital.
Baca juga: Khutbah Jumat 2 Oktober 2026: Mengambil Ibrah dari Cuaca Panas
Jangan biarkan ibadah kita hanya terlihat di masjid, tetapi tidak terasa manfaatnya bagi orang-orang di sekitar kita.
Sebab, hakikat iman juga tercermin dari bagaimana manusia lain merasa aman, dihormati, dan mendapatkan kebaikan dari keberadaan kita.
Rasulullah SAW diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia. Dan di antara akhlak yang paling mulia adalah kasih sayang.
Karena itu, marilah kita bertanya kepada diri sendiri:
Sudahkah kehadiran kita menjadi kebaikan bagi orang lain?
Sudahkah keluarga kita merasakan kelembutan akhlak kita?
Sudahkah tetangga kita merasakan manfaat dari keberadaan kita?
Sudahkah media sosial kita menjadi tempat menyebarkan kebaikan, bukan kebencian?
Semoga jawaban atas pertanyaan itu membawa kita semakin dekat kepada Allah SWT.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الذِّكْرِ الْحَكِيمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
---
الْحَمْدُ لِلَّهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّي وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ.
اعْلَمُوا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيمِ، فَقَالَ تَعَالَى:
إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَاجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الَّذِينَ يَنْشُرُونَ الْمَحَبَّةَ وَالرَّحْمَةَ وَالْخَيْرَ.
اللَّهُمَّ طَهِّرْ قُلُوبَنَا مِنَ الْحِقْدِ وَالْحَسَدِ وَالْكِبْرِ وَالْبَغْضَاءِ.
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا سَبَبًا لِلسَّلَامِ، وَلَا تَجْعَلْنَا سَبَبًا لِلْخُصُومَةِ وَالْعَدَاوَةِ.
اللَّهُمَّ ارْحَمْ ضُعَفَاءَنَا، وَاشْفِ مَرْضَانَا، وَعَافِ مُبْتَلَانَا، وَاقْضِ حَوَائِجَ الْمُحْتَاجِينَ مِنَّا.
اللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ، وَادْفَعْ عَنَّا الشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ.
اللَّهُمَّ احْفَظْ بَلَدَنَا وَأَهْلَنَا وَمُجْتَمَعَنَا، وَاجْعَلْ بِلَادَنَا بَلَدًا آمِنًا مُطْمَئِنًّا، وَارْزُقْ أَهْلَهَا الْأَمْنَ وَالسَّلَامَ وَالْعَافِيَةَ.
اللَّهُمَّ وَفِّقْنَا لِطَاعَتِكَ، وَاجْعَلْنَا مِنْ أَهْلِ الْإِيمَانِ وَالتَّقْوَى وَالْإِحْسَانِ.
عِبَادَ اللهِ،
إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.
فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.
أَقِمِ الصَّلَاةَ.
*Disadur dari Khutbah Jumat karya Dr. KH. Ahmad Suja’i Mughni, MM, Ketua 2 MUI Kota Tangerang
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.