Editor
KOMPAS.com - Setiap manusia membutuhkan rezeki untuk memenuhi kebutuhan hidup, sementara Allah SWT telah menjamin rezeki bagi setiap makhluk-Nya.
Ketika menghadapi kesulitan ekonomi, utang, atau pekerjaan yang belum kunjung datang, umat Islam dianjurkan mengimbanginya dengan ikhtiar, memperbaiki ketaatan, dan memanjatkan doa kepada Allah SWT.
Baca juga: Doa Pembuka Pintu Rezeki yang Halal dan Berkah Lengkap dengan Artinya
Dilansir dari laman PDM Kota Semarang, dalam Islam, Allah dikenal sebagai ar-Razzâq (Maha Pemberi Rezeki), ar-Raḩmân (Maha Pengasih), dan al-Wahhâb (Maha Pemberi).
Keyakinan tersebut menjadi pengingat bahwa manusia perlu terus berusaha sekaligus bertawakal dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan.
Baca juga: 4 Doa Memohon Rezeki, Lengkap Arab, Latin, Arti, serta Keutamaannya
Rasulullah SAW mengajarkan doa agar umat Islam berlindung kepada Allah SWT dari sifat malas, lemah, kikir, serta berbagai kesulitan hidup. Doa ini dapat diamalkan sebagai ikhtiar spiritual untuk memperbaiki diri dan memohon pertolongan Allah.
Doa pertama berisi permohonan perlindungan dari kelemahan, kemalasan, rasa takut, kondisi buruk pada usia tua, serta siksa kubur dan fitnah kehidupan maupun kematian.
اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْجُبْنِ وَالْهَرَمِ وَالْبُخْلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ
Artinya: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, rasa malas, rasa takut, kejelekan di waktu tua, dan sifat kikir. Dan aku juga berlindung kepada-Mu dari siksa kubur serta bencana kehidupan dan kematian.” (HR. Bukhari: 6367, Muslim: 2706).
Selain memohon perlindungan dari kemalasan, umat Islam dapat membaca doa agar dijauhkan dari kegelisahan, kesedihan, kelemahan, sifat pengecut, dan kesulitan akibat utang.
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ، وَقَهْرِ الرِّجَالِ
Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari bingung dan sedih. Aku berlindung kepada Engkau dari lemah dan malas. Aku berlindung kepada Engkau dari pengecut dan kikir. Dan aku berlindung kepada Engkau dari lilitan hutang dan kesewenang-kesewenang-wenangan manusia.” (HR Ahmad: 11778).
Kedua doa tersebut mengandung pengingat agar umat Islam tidak larut dalam kemalasan dan keputusasaan ketika menghadapi kesulitan. Doa perlu disertai usaha untuk bangkit, bekerja, dan mencari jalan keluar dari persoalan yang dihadapi.
Kesulitan rezeki dapat menjadi momentum untuk mengevaluasi diri, termasuk memperbaiki hubungan dengan Allah SWT dan sesama manusia. Dalam ajaran Islam, maksiat dan perilaku buruk menjadi hal yang perlu dihindari karena dapat menghilangkan keberkahan hidup.
Beberapa perilaku yang perlu dijauhi antara lain berbohong, melalaikan shalat, durhaka kepada orang tua, serta bersikap kikir. Kebiasaan malas, zina, menunda pembayaran zakat, dan enggan bersedekah juga perlu diperbaiki sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas keimanan.
Selain memperbaiki hubungan spiritual, umat Islam tetap perlu melakukan ikhtiar nyata untuk memenuhi kebutuhan hidup. Ketaatan dan usaha yang sungguh-sungguh menjadi bagian dari upaya menjemput rezeki yang halal dan berkah.
Bagi generasi Z, persoalan rezeki dan masa depan kerap berkaitan dengan overthinking atau pikiran berlebihan. Kekhawatiran mengenai pekerjaan, penghasilan, dan tuntutan hidup dapat memicu kegelisahan hingga mengganggu waktu istirahat.
Dalam kondisi tersebut, sebagian orang mungkin mencari pelarian melalui tindakan yang justru merugikan diri sendiri. Islam mengajarkan umatnya untuk tidak berputus asa dan menghindari perbuatan maksiat ketika menghadapi kesulitan.
Kegelisahan mengenai kondisi ekonomi juga pernah dirasakan para sahabat Nabi Muhammad SAW. Pada masa itu, sebagian sahabat yang miskin merasa sedih karena tidak memiliki harta untuk disedekahkan, meskipun mereka telah tekun menjalankan ibadah wajib.
Mereka khawatir tidak memperoleh keutamaan yang sama dengan orang-orang berharta yang mampu bersedekah. Rasulullah SAW kemudian memberikan tuntunan berupa doa yang dapat diamalkan untuk memohon perlindungan dari kelemahan, kemalasan, dan sifat buruk lainnya.
Dalam mencari rezeki, umat Islam dianjurkan menjaga keseimbangan antara doa, ikhtiar, dan tawakal. Permohonan kepada Allah SWT juga perlu diarahkan pada hal-hal yang membawa manfaat, bukan semata-mata mengejar urusan dunia.
Salah satu doa yang dapat diamalkan adalah permohonan ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik, dan amal yang diterima Allah SWT.
َاَللّٰهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً
Artinya: “Ya Allah, sungguh aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang halal, dan amal yang diterima.” (HR. Ibnu Majah: 925).
Rasulullah SAW juga mengingatkan umatnya agar tidak menjadikan urusan dunia sebagai satu-satunya tujuan hidup.
وَمَنْ تَشَعَّبَتْ بِهِ الْهُمُومُ فِي أَحْوَالِ الدُّنْيَا لَمْ يُبَالِ اللَّهُ فِي أَيِّ أَوْدِيَتِهِ هَلَكَ
Artinya: “Dan barangsiapa yang keinginannya beraneka ragam pada urusan dunia, maka Allah tidak akan memperdulikan dimanapun ia binasa.” (HR. Ibnu Majah: 4096).
Dengan demikian, ikhtiar mencari rezeki perlu berjalan beriringan dengan ibadah dan pengendalian diri. Umat Islam dapat memperbanyak zikir, termasuk menyebut nama Allah Ya Razzâq, sembari menjalankan pekerjaan secara sungguh-sungguh dan profesional.
Al-Qur'an menjelaskan bahwa keimanan dan ketakwaan menjadi jalan untuk memperoleh keberkahan dari Allah SWT. Salah satu janji tersebut tercantum dalam surah al-A'raf ayat 96.
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ
Artinya: “Jikalau penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi.” (QS al-A'raf: 96).
Janji mengenai jalan keluar dan rezeki juga disebutkan dalam surah ath-Thalaq ayat 2-3.
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
Artinya: “Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS ath-Thalaq: 2-3).
Ayat tersebut menjadi pengingat agar umat Islam senantiasa menjaga ketakwaan ketika menghadapi persoalan kehidupan, termasuk kesulitan ekonomi dan pekerjaan.
Pada akhirnya, doa pembuka rezeki jalur langit perlu disertai usaha yang sungguh-sungguh dan perilaku yang sesuai ajaran Islam.
Kisah seorang pengusaha yang merasakan manfaat tahajud dan membaca surah ad-Duha menjadi gambaran keyakinan bahwa pencapaian hidup merupakan karunia Allah SWT.
Karena itu, umat Islam dianjurkan menjauhi maksiat, memperbaiki kualitas ibadah, dan terus berusaha menjemput rezeki halal dengan hati yang ikhlas.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.