Editor
JAKARTA, KOMPAS.com — Rezeki tidak hanya diukur dari banyak atau sedikitnya harta. Rezeki juga dapat hadir dalam bentuk kesehatan, ketenangan, keberkahan hidup, serta kesempatan memberikan manfaat kepada orang lain.
Wakil Ketua Majelis Pembinaan Kesejahteraan Sosial (MPKS) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Faozan Amar mengatakan, terdapat tiga sikap yang perlu dibangun seorang Muslim dalam menjemput kelapangan rezeki, yakni tekun bekerja, bertawakal kepada Allah SWT, dan gemar bersedekah.
“Jangan hanya berdoa agar pintu rezeki dibuka. Kita juga harus bergerak mengetuk pintu-pintu ikhtiar yang halal. Setelah itu, bertawakal dan jangan lupa berbagi,” ujar Faozan saat menyampaikan khutbah Jumat di Masjid At-Tanwir PP Muhammadiyah, Jakarta, Jumat (11/9/2026).
Baca juga: Khutbah Jumat: 4 Penyebab Kehancuran Negeri Menurut Al Quran dan Hadis
Faozan menjelaskan, Islam tidak mengajarkan umatnya berdoa tanpa melakukan ikhtiar. Al-Qur’an justru memerintahkan manusia untuk bekerja dan mencari karunia Allah SWT.
Ia merujuk Surah Al-Jumu’ah ayat 10 yang memerintahkan umat Islam untuk bertebaran di muka bumi setelah menunaikan shalat Jumat dan mencari karunia Allah.
“Setelah shalat, Allah memerintahkan kita bertebaran di muka bumi dan mencari karunia-Nya. Ini menunjukkan bahwa ibadah dan ikhtiar ekonomi tidak boleh dipisahkan,” katanya.
Menurut Faozan, ikhtiar merupakan langkah penting dalam menjemput rezeki. Setiap orang perlu bekerja dengan sungguh-sungguh, meningkatkan kemampuan, menyusun rencana, dan memanfaatkan peluang yang tersedia.
Namun, usaha tersebut harus ditempuh melalui jalan yang halal. Keinginan memperoleh rezeki tidak boleh membuat seseorang mengabaikan kejujuran, tanggung jawab, dan ketentuan agama.
Bekerja juga tidak semata-mata ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pribadi. Hasil dari pekerjaan dapat digunakan untuk mencukupi keluarga, membantu orang lain, dan memberikan manfaat yang lebih luas.
Karena itu, aktivitas ekonomi dan pekerjaan yang dijalankan secara halal serta bertanggung jawab dapat menjadi bagian dari ibadah.
Baca juga: Dzikir dan Doa Pagi Pembuka Pintu Rezeki, Lengkap Arab, Latin, dan Artinya
Setelah melakukan ikhtiar secara maksimal, seorang Muslim perlu menyerahkan hasilnya kepada Allah SWT.
Faozan mengutip hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan Umar bin Khattab. Dalam hadis tersebut, Rasulullah menerangkan bahwa apabila manusia bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya, Allah akan memberikan rezeki sebagaimana burung memperoleh rezeki.
Burung pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar, kemudian pulang pada sore hari dalam keadaan kenyang.
Menurut Faozan, hadis tersebut menunjukkan bahwa tawakal tidak sama dengan berdiam diri dan menunggu datangnya rezeki.
“Burung saja keluar dari sarangnya untuk mencari rezeki. Karena itu, tawakal bukan berarti berhenti berusaha. Tawakal adalah bekerja dengan sungguh-sungguh, kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah,” ujarnya.
Manusia berkewajiban merencanakan, bekerja, meningkatkan kompetensi, dan memanfaatkan peluang. Namun, hasil akhirnya tetap berada dalam ketentuan Allah SWT.
Kesadaran tersebut diperlukan agar keberhasilan tidak membuat seseorang menjadi sombong. Sebaliknya, kegagalan juga tidak semestinya membuat seseorang kehilangan harapan.
“Ketika rezeki lapang, kita bersyukur. Ketika rezeki terasa sempit, kita tetap berikhtiar dan tidak berputus asa. Allah mengetahui waktu dan ukuran yang terbaik bagi setiap hamba-Nya,” kata Faozan.
Selain bekerja dan bertawakal, Faozan mengajak umat Islam membangun kebiasaan berbagi melalui infak dan sedekah.
Dalam rilisnya, ia merujuk Surah Saba ayat 39 yang menerangkan bahwa Allah akan memberikan pengganti atas harta yang diinfakkan.
Faozan juga mengutip hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan Abu Hurairah:
مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ
Artinya: “Sedekah tidaklah mengurangi harta.” (HR Muslim)
Menurut Faozan, hadis tersebut tidak harus dimaknai bahwa setiap uang yang disedekahkan akan langsung kembali dalam jumlah yang sama.
“Kelapangan rezeki tidak selalu berbentuk bertambahnya angka di rekening. Rezeki juga bisa berupa kesehatan, ketenteraman, hubungan sosial yang baik, terbukanya peluang, dan keberkahan dalam kehidupan,” tuturnya.
Sedekah juga memiliki dimensi sosial. Harta yang dikeluarkan untuk membantu orang lain dapat memperkuat solidaritas dan membantu mengurangi kesenjangan di tengah masyarakat.
Karena itu, ikhtiar, tawakal, dan berbagi perlu dijalankan secara seimbang.
Faozan mengingatkan, bekerja tanpa tawakal dapat melahirkan kesombongan. Sebaliknya, tawakal tanpa usaha dapat berubah menjadi kemalasan.
Sementara itu, harta yang tidak disertai kepedulian kepada sesama berisiko kehilangan dimensi keberkahannya.
“Semoga kita menjadi hamba yang tekun bekerja, benar dalam bertawakal, ringan tangan dalam bersedekah, serta memperoleh rezeki yang halal, cukup, luas, dan penuh keberkahan,” ujar Faozan.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.