Editor
KOMPAS.com - Sekretaris Daerah Provinsi Banten Deden Apriandhi mengajak kafilah MTQ dan pengurus LPTQ mendoakan lima jurnalis serta tiga kru kapal yang dilaporkan hilang kontak saat melakukan peliputan di kawasan Gunung Anak Krakatau.
Deden berharap seluruh jurnalis dan kru kapal tersebut segera ditemukan dalam kondisi sehat dan selamat.
"Mari kita bersama-sama mendoakan agar lima orang jurnalis dan tiga kru kapal segera ditemukan dalam keadaan sehat," kata Sekda Deden dalam keterangannya di Serang, Jumat (11/9/2026).
Baca juga: Polda Metro Gelar Doa Bersama untuk Rombongan Jurnalis Hilang di Anak Krakatau
Deden mengatakan, Gubernur Banten Andra Soni pada Jumat turut terjun langsung dalam proses pencarian delapan orang yang hilang kontak tersebut.
Andra Soni menyisir perairan di sekitar lokasi kejadian menggunakan KN SAR 247 Tetuka. Sebelumnya, Gubernur Banten bertolak dari Pelabuhan Ciwandan, Kota Cilegon, untuk memantau langsung jalannya operasi pencarian.
Baca juga: Tim SAR Sudah Turun ke Pulau Sertung Cari Rombongan Jurnalis Hilang, Hasilnya Nihil
Selain memantau proses pencarian, Andra juga memonitor komunikasi radio untuk memastikan koordinasi antar-kapal yang terlibat dalam misi penyelamatan berjalan.
"Ini adalah bagian dari ikhtiar yang dilaksanakan Pemprov Banten untuk percepatan menemukan delapan orang tersebut," ujarnya.
Di tengah proses pencarian tersebut, Deden mengatakan seluruh kafilah Provinsi Banten telah siap mengikuti MTQ XXXI tingkat Nasional 2026 di Semarang, Jawa Tengah.
Menurut Deden, kompetisi tingkat nasional membutuhkan keseriusan dan konsentrasi tinggi dari setiap perwakilan daerah.
Ia berharap kafilah Banten dapat meraih hasil terbaik, tetapi meminta peserta tidak menjadikan target sebagai beban.
"Semua pasti berharap yang terbaik, termasuk kami dari para pengurus dan pembina LPTQ (Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur'an). Namun, yang terpenting pertama adalah anak-anak fokus, konsentrasi, kemudian menampilkan yang terbaik. Hasilnya nanti sepenuhnya bergantung pada penilaian dewan juri," ujarnya.
Deden menilai suasana perlombaan yang berlangsung hingga 10 hari akan berbeda dengan kondisi selama peserta menjalani latihan. Karena itu, ia menekankan pentingnya kedisiplinan, terutama bagi peserta yang masih berusia remaja.
Selain menjaga kekompakan dan keselamatan, peserta diminta memperhatikan waktu istirahat agar kondisi fisik tetap terjaga selama mengikuti seluruh rangkaian perlombaan.
"Kalian nanti di sana akan melaksanakan perlombaan 10 hari dan situasinya pasti berbeda dengan tempat latihan. Pesan saya, jaga kekompakan, keselamatan, dan tentu jaga kesehatan. Jangan tidur larut malam, istirahatlah sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan," kata Deden mengingatkan.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.