Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Mana yang Didahulukan, Ilmu atau Adab? Ini Penjelasan Ulama

Kompas.com, 3 Oktober 2026, 07:40 WIB
Puspasari Setyaningrum

Editor

KOMPAS.com - Perdebatan mengenai ilmu atau adab yang harus didahulukan dalam Islam berkaitan dengan bagaimana seseorang belajar, beramal, dan berinteraksi dengan orang lain.

Dalam program Ngasah di TVMu pada Kamis (1/10/2026), Anggota Majelis Tabligh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur Irwan Hasan menjelaskan bahwa ilmu perlu didahulukan sebelum beramal, sedangkan adab harus dikedepankan dalam menuntut ilmu dan kehidupan sosial.

Menurutnya, ilmu dan adab tidak perlu dipertentangkan karena keduanya memiliki fungsi berbeda sesuai konteks penerapannya.

Baca juga: Bedah Kitab Nashaihul Ibad, Ketua MUI Bidang Fatwa Ingatkan Pentingnya Adab Sebelum Ilmu

Kapan Ilmu Harus Didahulukan daripada Adab?

Irwan menjelaskan, ilmu merupakan landasan seseorang dalam menjalani kehidupan dan melaksanakan amal. Sebelum melakukan sesuatu, seseorang perlu memahami ilmunya agar tindakan yang dilakukan sesuai dengan tuntunan agama.

“Ilmu itu sebelum beramal. Kemudian ada ulama juga mengatakan, al-ilmu qabla al-qawl wal-‘amal. Ilmu itu sebelum kita berucap, sebelum kita berbuat, sebelum kita beramal, maka harus ada ilmunya dulu,” jelasnya.

Baca juga: Adab Meminta Maaf dalam Islam, Tidak Cukup Hanya Mengucap Maaf

Pentingnya ilmu juga berkaitan dengan wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad SAW, yakni iqra.

Menurut Irwan, perintah membaca tersebut menunjukkan pentingnya proses belajar, sementara Al-Qur’an memberikan kedudukan khusus kepada orang-orang yang beriman dan berilmu.

Ilmu diperlukan agar seseorang dapat memahami Al-Qur’an, hadis, dan tuntunan ibadah secara benar. Dalam pelaksanaan salat, misalnya, umat Islam perlu mengetahui tata cara, bacaan, serta ketentuannya sebelum menjalankan ibadah tersebut.

“Kalau kita konteks kita salat, maka kita harus punya ilmu. Bagaimana takbirnya? Bagaimana bacaan salatnya? Maka ilmu yang didahulukan,” ujarnya.

Mengapa Adab Harus Didahulukan dalam Kehidupan Sosial?

Berbeda dengan konteks beramal, Irwan menekankan bahwa adab perlu dikedepankan ketika seseorang berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain.

“Dalam konteks sosial, konteks berkomunikasi dengan audiens misalnya, maka kita dahulukan adab,” katanya.

Menurutnya, pengetahuan yang luas tanpa disertai adab dapat membuat seseorang merasa paling benar dan merendahkan orang lain. Sebaliknya, ilmu yang dibarengi adab akan membentuk pribadi yang tawaduk.

Contoh Penerapan Adab dalam Kehidupan Bertetangga

Irwan mencontohkan penggunaan pengeras suara masjid yang terlalu keras hingga berpotensi mengganggu kenyamanan masyarakat sekitar. Semangat menjalankan ibadah tetap perlu diiringi dengan penghormatan terhadap hak orang lain.

“Islam mengajarkan bagaimana kita beribadah ghairu mahdah, yaitu ibadah yang berhubungan dengan bermuamalah dengan sesama manusia, berinteraksi dengan sesama manusia dan tetangga,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa hak seseorang memiliki batas ketika bersinggungan dengan hak orang lain. Karena itu, aktivitas ibadah yang berpotensi mengganggu lingkungan perlu disikapi dengan cara yang baik.

Irwan juga mengingatkan bahwa menyampaikan nasihat harus tetap memperhatikan adab, termasuk ketika menegur orang yang melakukan kesalahan.

“Meskipun kita benar, orang itu kita anggap salah dan memang salah, tetap kita menyelesaikannya, membantahnya, menasihatinya dengan cara-cara yang baik. Dan itulah akhlak,” tuturnya.

Hubungan Adab, Akhlak, dan Kesempurnaan Iman

Lebih lanjut, Irwan menjelaskan bahwa akhlak menjadi bagian penting dalam kesempurnaan iman seseorang.

Ia mengutip hadis akmalul mu’minina imanan ahsanuhum khuluqan, yang menerangkan bahwa kesempurnaan iman berkaitan dengan baiknya akhlak.

Ia juga mengutip QS Al-Qalam ayat 4 tentang Nabi Muhammad SAW, wa innaka la’ala khuluqin ‘azhim. Menurutnya, ayat tersebut menunjukkan kedudukan akhlak dalam kepribadian Rasulullah SAW.

Mengapa Adab Didahulukan Saat Menuntut Ilmu?

Dalam konteks belajar atau menuntut ilmu, Irwan justru menegaskan bahwa adab harus ditempatkan di depan. Sikap yang baik ketika belajar akan membantu seseorang memperoleh ilmu yang membawa perubahan positif, bukan justru menumbuhkan kesombongan.

“Ketika kita konteksnya belajar, konteksnya taklim, konteksnya menuntut ilmu, maka yang kita dahulukan adalah adab. Karena dengan orang bertaklim mencari ilmu dengan adab yang baik, mendahulukan adab, maka lahirlah ilmu yang bermanfaat, ilmu yang barokah,” katanya.

Menurut Irwan, manfaat ilmu dapat dilihat dari perubahan perilaku orang yang memilikinya. Semakin tinggi ilmu seseorang, semestinya semakin tumbuh sikap tawaduk, khusyuk, saleh, dan takwa kepada Allah Swt.

Dengan demikian, ilmu dan adab memiliki kedudukan yang saling melengkapi dalam kehidupan seorang Muslim. Ilmu menjadi bekal sebelum seseorang beramal atau melakukan sesuatu, sedangkan adab dikedepankan saat belajar dan berinteraksi dengan sesama.

“Tempatkan ilmu ketika kita untuk beramal, untuk mengerjakan sesuatu, maka carilah ilmu sebanyak-banyaknya. Dan tempatkan adab di kala kita berkomunikasi dan berinteraksi dengan sesama manusia. Termasuk di saat kita bertaklim ataupun menuntut ilmu, maka dahulukan adab,” pungkasnya.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar