Editor
KOMPAS.com - Perdebatan mengenai ilmu atau adab yang harus didahulukan dalam Islam berkaitan dengan bagaimana seseorang belajar, beramal, dan berinteraksi dengan orang lain.
Dalam program Ngasah di TVMu pada Kamis (1/10/2026), Anggota Majelis Tabligh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur Irwan Hasan menjelaskan bahwa ilmu perlu didahulukan sebelum beramal, sedangkan adab harus dikedepankan dalam menuntut ilmu dan kehidupan sosial.
Menurutnya, ilmu dan adab tidak perlu dipertentangkan karena keduanya memiliki fungsi berbeda sesuai konteks penerapannya.
Baca juga: Bedah Kitab Nashaihul Ibad, Ketua MUI Bidang Fatwa Ingatkan Pentingnya Adab Sebelum Ilmu
Irwan menjelaskan, ilmu merupakan landasan seseorang dalam menjalani kehidupan dan melaksanakan amal. Sebelum melakukan sesuatu, seseorang perlu memahami ilmunya agar tindakan yang dilakukan sesuai dengan tuntunan agama.
“Ilmu itu sebelum beramal. Kemudian ada ulama juga mengatakan, al-ilmu qabla al-qawl wal-‘amal. Ilmu itu sebelum kita berucap, sebelum kita berbuat, sebelum kita beramal, maka harus ada ilmunya dulu,” jelasnya.
Baca juga: Adab Meminta Maaf dalam Islam, Tidak Cukup Hanya Mengucap Maaf
Pentingnya ilmu juga berkaitan dengan wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad SAW, yakni iqra.
Menurut Irwan, perintah membaca tersebut menunjukkan pentingnya proses belajar, sementara Al-Qur’an memberikan kedudukan khusus kepada orang-orang yang beriman dan berilmu.
Ilmu diperlukan agar seseorang dapat memahami Al-Qur’an, hadis, dan tuntunan ibadah secara benar. Dalam pelaksanaan salat, misalnya, umat Islam perlu mengetahui tata cara, bacaan, serta ketentuannya sebelum menjalankan ibadah tersebut.
“Kalau kita konteks kita salat, maka kita harus punya ilmu. Bagaimana takbirnya? Bagaimana bacaan salatnya? Maka ilmu yang didahulukan,” ujarnya.
Berbeda dengan konteks beramal, Irwan menekankan bahwa adab perlu dikedepankan ketika seseorang berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain.
“Dalam konteks sosial, konteks berkomunikasi dengan audiens misalnya, maka kita dahulukan adab,” katanya.
Menurutnya, pengetahuan yang luas tanpa disertai adab dapat membuat seseorang merasa paling benar dan merendahkan orang lain. Sebaliknya, ilmu yang dibarengi adab akan membentuk pribadi yang tawaduk.
Irwan mencontohkan penggunaan pengeras suara masjid yang terlalu keras hingga berpotensi mengganggu kenyamanan masyarakat sekitar. Semangat menjalankan ibadah tetap perlu diiringi dengan penghormatan terhadap hak orang lain.
“Islam mengajarkan bagaimana kita beribadah ghairu mahdah, yaitu ibadah yang berhubungan dengan bermuamalah dengan sesama manusia, berinteraksi dengan sesama manusia dan tetangga,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa hak seseorang memiliki batas ketika bersinggungan dengan hak orang lain. Karena itu, aktivitas ibadah yang berpotensi mengganggu lingkungan perlu disikapi dengan cara yang baik.
Irwan juga mengingatkan bahwa menyampaikan nasihat harus tetap memperhatikan adab, termasuk ketika menegur orang yang melakukan kesalahan.
“Meskipun kita benar, orang itu kita anggap salah dan memang salah, tetap kita menyelesaikannya, membantahnya, menasihatinya dengan cara-cara yang baik. Dan itulah akhlak,” tuturnya.
Lebih lanjut, Irwan menjelaskan bahwa akhlak menjadi bagian penting dalam kesempurnaan iman seseorang.
Ia mengutip hadis akmalul mu’minina imanan ahsanuhum khuluqan, yang menerangkan bahwa kesempurnaan iman berkaitan dengan baiknya akhlak.
Ia juga mengutip QS Al-Qalam ayat 4 tentang Nabi Muhammad SAW, wa innaka la’ala khuluqin ‘azhim. Menurutnya, ayat tersebut menunjukkan kedudukan akhlak dalam kepribadian Rasulullah SAW.
Dalam konteks belajar atau menuntut ilmu, Irwan justru menegaskan bahwa adab harus ditempatkan di depan. Sikap yang baik ketika belajar akan membantu seseorang memperoleh ilmu yang membawa perubahan positif, bukan justru menumbuhkan kesombongan.
“Ketika kita konteksnya belajar, konteksnya taklim, konteksnya menuntut ilmu, maka yang kita dahulukan adalah adab. Karena dengan orang bertaklim mencari ilmu dengan adab yang baik, mendahulukan adab, maka lahirlah ilmu yang bermanfaat, ilmu yang barokah,” katanya.
Menurut Irwan, manfaat ilmu dapat dilihat dari perubahan perilaku orang yang memilikinya. Semakin tinggi ilmu seseorang, semestinya semakin tumbuh sikap tawaduk, khusyuk, saleh, dan takwa kepada Allah Swt.
Dengan demikian, ilmu dan adab memiliki kedudukan yang saling melengkapi dalam kehidupan seorang Muslim. Ilmu menjadi bekal sebelum seseorang beramal atau melakukan sesuatu, sedangkan adab dikedepankan saat belajar dan berinteraksi dengan sesama.
“Tempatkan ilmu ketika kita untuk beramal, untuk mengerjakan sesuatu, maka carilah ilmu sebanyak-banyaknya. Dan tempatkan adab di kala kita berkomunikasi dan berinteraksi dengan sesama manusia. Termasuk di saat kita bertaklim ataupun menuntut ilmu, maka dahulukan adab,” pungkasnya.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.