Editor
PURWAKARTA, KOMPAS.com — Eceng gondok yang kerap dianggap sebagai tanaman pengganggu di Waduk Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, menjadi bahan bagi Tanissa Puti Rahmadiva untuk mengembangkan produk sekaligus membuka peluang ekonomi masyarakat.
Melalui Bumi Kreasi Jatiluhur, lulusan Program Studi Pengembangan Masyarakat Islam, Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung itu melibatkan warga, terutama kelompok perempuan, untuk mengolah eceng gondok menjadi kerajinan dan pupuk.
“Saya percaya, masalah lingkungan di sekitar kita bisa menjadi titik awal lahirnya solusi dan peluang bagi masyarakat,” ujar Tanissa dikutip dari laman UIN SGD Bandung, Minggu (4/10/2026).
Baca juga: UIN Sunan Kalijaga Peringkat Kedua Nasional di THE WUR 2027, Tepat di Bawah UI
Inisiatif tersebut berangkat dari keresahannya terhadap eceng gondok yang memenuhi permukaan waduk dan mengganggu aktivitas masyarakat.
Tanissa melihat tanaman itu sebagai potensi yang dapat dimanfaatkan. Selain kerajinan dan pupuk, Bumi Kreasi Jatiluhur mengembangkan inovasi polybag berbahan eceng gondok yang masih dalam tahap riset.
Bagi Tanissa, pengolahan eceng gondok menjadi kesempatan untuk mengajak masyarakat mengenali potensi lingkungan sekaligus mengembangkan keterampilan.
Keterlibatan kelompok perempuan menjadi bagian dari upaya membuka peluang ekonomi melalui pemanfaatan bahan yang tersedia di sekitar mereka.
Dalam perkembangannya, Bumi Kreasi Jatiluhur mendapat pendampingan dari Agile Innovation Labs dan INCREASE Inclusive.
Pendampingan tersebut mencakup pelatihan, mentoring, serta pengembangan inovasi untuk memperkuat model usaha berbasis lingkungan dan membuka ruang kolaborasi.
Baca juga: UIN Sunan Kalijaga Kini Selevel UGM, Tembus 1.000 Kampus Terbaik Dunia
Pengembangan Bumi Kreasi Jatiluhur kemudian membawa Tanissa terpilih mengikuti Climate Skills Global Collaboration Programme di Inggris, yang dijadwalkan pada 27 September hingga 3 Oktober 2026.
Program tersebut diinisiasi British Council melalui kolaborasi dengan Lancaster University Management School, INCREASE Inclusive, dan Agile Innovation Labs.
Wakil Dekan III Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Asep Shodiqin, menyambut positif kesempatan tersebut.
“Alhamdulillah, dalam program British Council Indonesia mengenai pengusaha hijau, Bumi Kreasi terpilih dari hasil penyaringan se-Jawa Barat untuk mewakili Indonesia ke Inggris dalam pembelajaran bersama Lancaster University,” kata Asep.
Rangkaian program mencakup sesi akademik, lokakarya, serta kunjungan ke kampus Lancaster University dan organisasi yang bergerak di bidang keberlanjutan.
Kesempatan itu menjadi ruang bagi Tanissa untuk memperdalam pengetahuan, bertukar pengalaman, dan memperluas jejaring dalam pengembangan inovasi berbasis solusi iklim.
Ia juga membawa pengalaman pemberdayaan masyarakat di Jatiluhur sebagai bahan pertukaran pengetahuan dengan peserta dan mitra program.
Tanissa berkomitmen memanfaatkan pengetahuan dan jejaring dari program tersebut untuk memperkuat Bumi Kreasi Jatiluhur.
Ia berharap pengolahan eceng gondok dapat terus dikembangkan sehingga memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat dan lingkungan.
Perjalanannya menunjukkan bagaimana keterampilan pemberdayaan masyarakat dapat diterapkan untuk menjawab persoalan di sekitar warga.
Eceng gondok yang semula dipandang sebagai gangguan menjadi bahan pengembangan produk dan peluang usaha bersama.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.