KOMPAS.com - Ilmu dan adab merupakan dua hal yang sama-sama penting dalam Islam. Ilmu memberi seseorang pengetahuan untuk memahami dan melakukan sesuatu, sedangkan adab membentuk cara seseorang menggunakan ilmu dan berinteraksi dengan orang lain.
Lantas, jika harus memilih mana yang didahulukan, ilmu atau adab? Dalam konteks menuntut ilmu, adab perlu dikedepankan. Namun, hal itu bukan berarti ilmu menjadi kurang penting.
Keduanya saling melengkapi karena ilmu menjadi bekal untuk beramal, sedangkan adab mengarahkan seseorang dalam proses belajar dan menerapkan pengetahuan.
Al-Qur'an menunjukkan tingginya kedudukan orang berilmu. Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Mujadilah ayat 11:
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
Yarfa‘illāhullażīna āmanū minkum wallażīna ūtul-‘ilma darajāt, wallāhu bimā ta‘malūna khabīr.
Artinya: “Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS Al-Mujadilah: 11)
Baca juga: Apa Itu Peradaban Islam? Ini Prinsip yang Diajarkan Al-Quran
Ayat tersebut menunjukkan bahwa ilmu memiliki kedudukan tinggi dalam Islam. Karena itu, menuntut ilmu tetap menjadi bagian penting dari kehidupan seorang Muslim.
Namun, ayat tersebut juga berada dalam konteks adab di majelis, ketika orang beriman diperintahkan memberi kelapangan dan menaati arahan dalam majelis.
Muhammadiyah menjelaskan bahwa adab terhadap ilmu antara lain memperhatikan jenjang ilmu, menghindari perdebatan yang tidak perlu, tidak malu bertanya, serta menyelesaikan pembelajaran sebelum berpindah kepada kajian lain.
Dalam konteks ini, adab bukan sekadar sopan santun kepada guru. Adab juga mencakup sikap terhadap ilmu itu sendiri, seperti kesungguhan, kerendahan hati, dan kesediaan mengakui keterbatasan pengetahuan.
Baca juga: Nyai Machfudhoh Aly Ubaid Wafat, Jejak Pengabdian untuk Santri dan Perempuan NU
NU juga mengulas tradisi ulama yang menempatkan adab sebagai bagian penting dalam proses belajar.
Salah satu kitab yang membahasnya adalah Tadzkirotu as-Sami' wa al-Mutakallim karya Ibnu Jama'ah, yang memuat pembahasan tentang etika orang berilmu dan penuntut ilmu.
Pentingnya adab juga dapat dilihat dari hadis Rasulullah SAW. Abu Hurairah RA meriwayatkan:
أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ خُلُقًا
Akmalul-mu'minīna īmānan aḥsanuhum khuluqan, wa khiyārukum khiyārukum linisā'ihim khuluqan.
Artinya: “Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya. Dan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik akhlaknya terhadap istrinya.” (Jami' at-Tirmidzi Nomor 1162)
Hadis tersebut menunjukkan hubungan antara kualitas iman dan akhlak. Dalam proses belajar, ilmu yang diperoleh idealnya tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi tercermin dalam perilaku yang baik.
Baca juga: FAI UMS Hadir di IIEF 2026, Tawarkan Beasiswa dan Pengalaman VR
Ketika seseorang belajar, adab membantu menjaga tujuan dan sikapnya. Pengetahuan yang semakin luas tanpa kerendahan hati dapat membuat seseorang mudah merasa paling benar atau meremehkan orang lain.
Sebaliknya, adab membuat seseorang tetap terbuka terhadap nasihat, menghormati guru, tidak malu bertanya, serta bersedia mengoreksi kesalahan.
Karena itu, mendahulukan adab bukan berarti mengesampingkan ilmu, melainkan menyiapkan sikap yang tepat untuk memperoleh dan menggunakan ilmu.
Meski adab didahulukan dalam proses belajar, ilmu tetap menjadi dasar seseorang ketika hendak melakukan suatu perbuatan.
Seseorang tidak cukup hanya memiliki niat baik dan sikap santun jika tidak mengetahui apa yang benar untuk dilakukan.
Baca juga: Hukum Menjadi Makelar dalam Islam, Bolehkah Mengambil Komisi?
Hal ini membuat ilmu dan adab tidak tepat dipertentangkan. Ilmu memberikan dasar pengetahuan, sedangkan adab membantu seseorang belajar dan menggunakan pengetahuan tersebut dengan cara yang tepat.
Dengan demikian, pertanyaan tentang ilmu atau adab sebaiknya tidak dijawab dengan memisahkan keduanya.
Dalam konteks menuntut ilmu, adab perlu dikedepankan karena proses belajar membutuhkan sikap rendah hati, hormat, dan kesungguhan.
Sementara itu, ilmu tetap harus dicari dan diperdalam karena menjadi bekal untuk memahami ajaran dan menjalankan kehidupan.
Ukuran keberhasilan belajar bukan hanya bertambahnya pengetahuan, tetapi juga perubahan sikap yang membuat seseorang semakin bijak dalam menggunakan ilmu.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.