Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Bambu dan Bunyi, Jejak Hubungan Manusia dengan Alam dalam Musik Tradisi

Kompas.com, 6 Oktober 2026, 08:57 WIB
Reni Susanti

Editor

BOGOR, KOMPAS.com — Bambu memiliki tempat dekat dalam kehidupan masyarakat Sunda. Selain menjadi bahan alat musik, tumbuhan ini juga hadir dalam praktik budaya dan ritual, menyimpan cerita tentang hubungan manusia dengan alam.

Hubungan tersebut diangkat melalui tema “Bambu dan Bunyi Ritus” dalam Festival Musik Tradisi Indonesia (FMTI) 2026 bertajuk Sangitaloka di Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

“Bunyi yang lahir dari bambu membawa cerita tentang hubungan manusia dengan alam dan kebudayaannya,” kata Menteri Kebudayaan Fadli Zon dalam rilisnya, Selasa (6/10/2026).

Baca juga: Ketika Musik Bertemu Ibadah, Rhoma Irama Jadi Imam Shalat Jumat di Pestapora 2025

Tema itu mengajak masyarakat mengenali musik tradisi melalui lingkungan dan kehidupan komunitas tempat kesenian tersebut tumbuh.

Pelestariannya juga menjadi upaya menjaga pengetahuan dan pengalaman yang diwariskan antargenerasi.

Merawat keragaman budaya sejalan dengan ajaran Islam tentang saling mengenal.

Dalam Surat Al-Hujurat ayat 13, Allah menjelaskan bahwa manusia diciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal.

Nilai ini dapat menjadi landasan untuk menghargai tradisi serta mempererat hubungan antarmasyarakat melalui seni.

Baca juga: Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi

Tradisi hidup bersama masyarakat

Menurut Fadli, kekuatan musik tradisi Indonesia terletak pada ekosistem masyarakat yang terus menjaganya.

Ia menyebut Indonesia memiliki lebih dari 1.000 jenis musik tradisional yang tersebar di berbagai daerah.

Ia mencontohkan Didong di Gayo, Dol di Bengkulu, Talempong di Tanah Datar, Gendang Beleq di Lombok, Bundengan di Wonosobo, hingga Angklung Gubrag di Bogor.

Dalam Sangitaloka, sejumlah kelompok musik tradisi dari Bogor dan sekitarnya tampil, antara lain Jagat Layung, Kalingga, Gamelan Cibatokan, Angklung Gubrag Dogdog Lojor, Bilik Jasinga, Gamelan Ajeng, dan Bajidoran. Penyanyi Rita Tila turut hadir sebagai bintang tamu.

Karya-karya yang ditampilkan tetap berakar pada tradisi, sekaligus membuka ruang bagi penafsiran artistik baru agar dapat menjangkau penonton masa kini.

Menjaga warisan, mendukung penghidupan

Fadli menekankan bahwa musik tradisi perlu dikembangkan agar tidak hanya bertahan sebagai warisan, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat dan pelaku seni.

“Bukan hanya kita jaga dan lindungi, lebih dari itu, harus kita kembangkan dengan kreasi-kreasi baru, inovasi-inovasi baru. Dan kemudian kita manfaatkan menjadi ekonomi budaya, menjadi industri budaya,” ujarnya.

Menurutnya, masyarakat yang selama ini menjaga dan menghidupkan tradisi perlu turut merasakan manfaat dari pengembangan tersebut.

Kreativitas menjadi bagian penting dalam upaya itu, sekaligus membuka kesempatan bagi generasi muda untuk terlibat dalam keberlanjutan musik tradisi.

Berlanjut ke berbagai daerah

FMTI merupakan program tahunan yang berjalan sejak 2021. Kegiatan diselenggarakan Kementerian Kebudayaan melalui Direktorat Film, Musik, dan Seni, Direktorat Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan.

Setelah Bogor, festival dijadwalkan berlangsung di Wonosobo pada 17 Oktober, Maumere pada 24 Oktober, serta Makassar pada 28–29 Oktober 2026.

Rangkaian berikutnya direncanakan berlangsung di Kuningan pada 7 November, Aceh pada 14–15 November, dan Mataram pada 5 Desember 2026. Festival kemudian dijadwalkan berlanjut pada 2027 di Batusangkar, Pontianak, dan Bengkulu.

Kementerian Kebudayaan juga menempatkan pengembangan musik tradisi dalam program Manajemen Talenta Nasional, mulai dari pembibitan, peningkatan kemampuan, hingga pengenalan di tingkat internasional.

Program tersebut diarahkan untuk memperkuat komunitas, membuka kolaborasi lintas generasi, mendukung dokumentasi dan residensi musik, serta memperluas kesempatan tampil di panggung global.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar