Editor
BOGOR, KOMPAS.com — Bambu memiliki tempat dekat dalam kehidupan masyarakat Sunda. Selain menjadi bahan alat musik, tumbuhan ini juga hadir dalam praktik budaya dan ritual, menyimpan cerita tentang hubungan manusia dengan alam.
Hubungan tersebut diangkat melalui tema “Bambu dan Bunyi Ritus” dalam Festival Musik Tradisi Indonesia (FMTI) 2026 bertajuk Sangitaloka di Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
“Bunyi yang lahir dari bambu membawa cerita tentang hubungan manusia dengan alam dan kebudayaannya,” kata Menteri Kebudayaan Fadli Zon dalam rilisnya, Selasa (6/10/2026).
Baca juga: Ketika Musik Bertemu Ibadah, Rhoma Irama Jadi Imam Shalat Jumat di Pestapora 2025
Tema itu mengajak masyarakat mengenali musik tradisi melalui lingkungan dan kehidupan komunitas tempat kesenian tersebut tumbuh.
Pelestariannya juga menjadi upaya menjaga pengetahuan dan pengalaman yang diwariskan antargenerasi.
Merawat keragaman budaya sejalan dengan ajaran Islam tentang saling mengenal.
Dalam Surat Al-Hujurat ayat 13, Allah menjelaskan bahwa manusia diciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal.
Nilai ini dapat menjadi landasan untuk menghargai tradisi serta mempererat hubungan antarmasyarakat melalui seni.
Baca juga: Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Menurut Fadli, kekuatan musik tradisi Indonesia terletak pada ekosistem masyarakat yang terus menjaganya.
Ia menyebut Indonesia memiliki lebih dari 1.000 jenis musik tradisional yang tersebar di berbagai daerah.
Ia mencontohkan Didong di Gayo, Dol di Bengkulu, Talempong di Tanah Datar, Gendang Beleq di Lombok, Bundengan di Wonosobo, hingga Angklung Gubrag di Bogor.
Dalam Sangitaloka, sejumlah kelompok musik tradisi dari Bogor dan sekitarnya tampil, antara lain Jagat Layung, Kalingga, Gamelan Cibatokan, Angklung Gubrag Dogdog Lojor, Bilik Jasinga, Gamelan Ajeng, dan Bajidoran. Penyanyi Rita Tila turut hadir sebagai bintang tamu.
Karya-karya yang ditampilkan tetap berakar pada tradisi, sekaligus membuka ruang bagi penafsiran artistik baru agar dapat menjangkau penonton masa kini.
Fadli menekankan bahwa musik tradisi perlu dikembangkan agar tidak hanya bertahan sebagai warisan, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat dan pelaku seni.
“Bukan hanya kita jaga dan lindungi, lebih dari itu, harus kita kembangkan dengan kreasi-kreasi baru, inovasi-inovasi baru. Dan kemudian kita manfaatkan menjadi ekonomi budaya, menjadi industri budaya,” ujarnya.
Menurutnya, masyarakat yang selama ini menjaga dan menghidupkan tradisi perlu turut merasakan manfaat dari pengembangan tersebut.
Kreativitas menjadi bagian penting dalam upaya itu, sekaligus membuka kesempatan bagi generasi muda untuk terlibat dalam keberlanjutan musik tradisi.
FMTI merupakan program tahunan yang berjalan sejak 2021. Kegiatan diselenggarakan Kementerian Kebudayaan melalui Direktorat Film, Musik, dan Seni, Direktorat Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan.
Setelah Bogor, festival dijadwalkan berlangsung di Wonosobo pada 17 Oktober, Maumere pada 24 Oktober, serta Makassar pada 28–29 Oktober 2026.
Rangkaian berikutnya direncanakan berlangsung di Kuningan pada 7 November, Aceh pada 14–15 November, dan Mataram pada 5 Desember 2026. Festival kemudian dijadwalkan berlanjut pada 2027 di Batusangkar, Pontianak, dan Bengkulu.
Kementerian Kebudayaan juga menempatkan pengembangan musik tradisi dalam program Manajemen Talenta Nasional, mulai dari pembibitan, peningkatan kemampuan, hingga pengenalan di tingkat internasional.
Program tersebut diarahkan untuk memperkuat komunitas, membuka kolaborasi lintas generasi, mendukung dokumentasi dan residensi musik, serta memperluas kesempatan tampil di panggung global.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.