Editor
KOMPAS.com - Riya merupakan perbuatan tercela dalam Islam yang berkaitan dengan niat seseorang saat melakukan amal atau ibadah.
Perbuatan ini disebut syirik kecil karena seseorang mencampurkan niat beribadah kepada Allah SWT dengan keinginan memperoleh pujian atau penghargaan dari manusia.
Dilansir dari laman muhammadiyah.or.id, simak pengertian, contoh, bahaya risa, serta pentingnya menjaga niat karena Allah.
Baca juga: 6 Perbuatan yang Diam-Diam Menghapus Pahala Muslim, Ghibah hingga Riya
Riya adalah tindakan memperlihatkan amal, ibadah, atau prestasi kepada orang lain dengan tujuan mendapatkan pujian dan penghargaan. Perbuatan ini termasuk penyakit hati yang sulit dikenali karena berkaitan dengan niat seseorang.
Riya disebut asy-syirk al-ashgar atau syirik kecil karena seseorang menyekutukan Allah dengan selain-Nya dalam suatu amal atau ibadah.
Orang yang melakukan riya tidak sepenuhnya ikhlas karena Allah SWT, melainkan juga mengharapkan pengakuan dari manusia.
Baca juga: 4 Cara Menghilangkan Sifat Riya Menurut Imam Al-Ghazali agar Ibadah Tetap Ikhlas
Riya dapat muncul dalam berbagai bentuk ibadah maupun perbuatan baik. Misalnya, seseorang mendirikan shalat dengan niat beribadah kepada Allah sekaligus ingin mendapat pujian dari calon mertua.
Contoh lainnya adalah seseorang memberikan infak kepada fakir miskin dengan niat beribadah kepada Allah sekaligus ingin dikenal dan dipuji sebagai orang dermawan.
Dalam kedua contoh tersebut, keinginan memperoleh pujian dari manusia bercampur dengan niat beribadah kepada Allah.
Riya dapat merusak keikhlasan amal dan menjadi sebab seseorang tidak memperoleh balasan sebagaimana yang diharapkannya. Dalam hadis qudsi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan peringatan Allah SWT kepada orang yang mencampurkan ibadah dengan tujuan selain-Nya.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: قَالَ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: “أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ، مَنْ عَمِلَ عَمَلاً أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ”. (رواه مسلم)
Artinya: Diriwayatkan dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman: “Aku Dzat yang paling tidak butuh kepada sekutu. Barangsiapa melakukan suatu amalan yang di dalamnya itu ia menyekutukan Aku dengan selain-Ku, niscaya Aku tinggalkan ia bersama sekutunya itu”. (HR. Muslim)
Hadis tersebut menegaskan bahwa Allah SWT tidak membutuhkan sekutu dalam ibadah. Orang yang mencampurkan amalnya dengan tujuan selain Allah akan ditinggalkan bersama sekutu yang ia sertakan dalam amal tersebut.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memperingatkan umatnya agar mewaspadai riya sebagai bentuk syirik kecil. Peringatan tersebut diriwayatkan dari Mahmud bin Labid dalam hadis berikut.
عَنْ مَحْمُودِ بْنِ لَبِيْدٍ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ اْلأَصْغَرُ. قَالُوا: وَمَا الشِّرْكُ اْلأَصْغَرُ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: الرِّيَاءُ”. يَقُولُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُمْ يَوْمَ اْلقِيَمَةِ إِذَا جُزِيَ النَّاسُ بِأَعْمَالِهِمْ: “اِذْهَبُوا إِلَى الَّذِينَ كُنْتُمْ تَرَاؤُنَ فِي الدُّنْيَا، فَانْظُرُوا هَلْ تَجِدُونَ عِنْدَهُمْ جَزَاءً”. (رواه أحمد)
Artinya: Diriwayatkan dari Mahmud bin Labid bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sungguh yang paling aku takuti atasmu adalah asy-syirk al-ashgar. Sahabat bertanya: Apa asy-syirk al-ashgar itu wahai Rasulullah? Beliau bersabda: Riya. Allah ketika membalas perbuatan manusia pada hari kiamat berfirman: “Pergilah kepada mereka yang engkau riya untuk mereka di dunia, dan lihatlah apakah engkau mendapatkan balasan pada mereka”. (HR. Ahmad)
Hadis tersebut mengingatkan bahwa orang yang beramal demi memperoleh pengakuan manusia tidak dapat mengandalkan pujian tersebut sebagai balasan di akhirat.
Keikhlasan menjadi hal penting dalam menentukan tujuan seseorang ketika beramal.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa amal yang benar-benar dilakukan di jalan Allah harus berlandaskan tujuan menegakkan agama-Nya, bukan demi memperoleh pengakuan manusia.
Penjelasan tersebut disampaikan ketika seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah mengenai orang yang berperang karena fanatisme, keberanian, atau riya.
عَنْ أَبِي مُوسَى قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: “اَلرَّجُلُ يُقَاتِلُ حَمِيَّةً، وَيُقَاتِلُ شَجَاعَةً، وَيُقَاتِلُ رِيَاءً، فَأَيُّ ذَلِكَ فِي سَبِيلِ اللهِ؟” قَالَ: “مَنْ قَاتَلَ لِتَكُونَ كَلِمَةُ اللهِ هِيَ اْلعُلْيَا فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللهِ” (رواه البخاري ومسلم)
Artinya: “Diriwayatkan dari Abu Musa, ia berkata: Seorang laki-laki datang menghadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu berkata: Ada orang berperang karena fanatik, berperang karena berani dan berperang karena riya, yang manakah di antara mereka itu yang di jalan Allah? Jawab beliau: Barangsiapa berperang supaya agama Allah itu yang paling tinggi maka ia berada di jalan Allah.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Hadis tersebut menunjukkan bahwa tujuan di balik suatu perbuatan menjadi hal mendasar. Amal yang terlihat baik di mata manusia belum tentu dilakukan dengan niat yang benar karena Allah SWT.
Dalam hadis lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan keadaan orang-orang yang diadili pada hari kiamat karena melakukan amal demi mendapatkan pengakuan manusia.
Mereka terdiri atas orang yang berperang hingga disebut pemberani, orang yang mempelajari ilmu dan membaca Al-Qur'an agar dikenal sebagai orang berilmu atau qari, serta orang yang menginfakkan hartanya agar dipuji sebagai dermawan.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: ” إِنَّ أَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا؟ قَالَ: قَاتَلْتُ فِيكَ حَتَّى اسْتُشْهِدْتُ، قَالَ: كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ لِأَنْ يُقَالَ جَرِيءٌ فَقَدْ قِيلَ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ، وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ وَعَلَّمَهُ وَقَرَأَ الْقُرْآنَ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا؟ قَالَ: تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ وَعَلَّمْتُهُ وَقَرَأْتُ فِيكَ الْقُرْآنَ، قَالَ: كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ عَالِمٌ وَقَرَأْتَ الْقُرْآنَ لِيُقَالَ هُوَ قَارِئٌ فَقَدْ قِيلَ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ، وَرَجُلٌ وَسَّعَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَأَعْطَاهُ مِنْ أَصْنَافِ الْمَالِ كُلِّهِ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا ؟ قَالَ: مَا تَرَكْتُ مِنْ سَبِيلٍ تُحِبُّ أَنْ يُنْفَقَ فِيهَا إِلَّا أَنْفَقْتُ فِيهَا لَكَ، قَالَ: كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ هُوَ جَوَادٌ فَقَدْ قِيلَ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ ثُمَّ أُلْقِيَ فِي النَّارِ”. (رواه مسلم)
Artinya: “Diriwayatkan dari Abu Hurairah, ia berkata: Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya orang pertama yang diadili pada hari kiamat ialah seorang laki-laki yang mati syahid, nikmat-nikmatnya dihadapkan kepadanya maka ia mengenalinya. Allah bertanya: Apa yang engkau lakukan dengannya? Ia menjawab: Saya berperang di jalan-Mu sampai saya mati syahid. Allah berfirman: Engkau bohong, tetapi engkau berperang supaya disebut sebagai pemberani dan sudah disebut begitu. Lalu ia diperintahkan, maka ditariklah ia di atas wajahnya lalu dicampakkanlah ia ke dalam neraka. Dan seorang laki-laki yang mempelajari ilmu dan mengajarkannya dan ia membaca al-Quran. Lalu didatangkanlah ia dan dihadapkanlah kenikmatan-kenikmatannya sehingga ia mengenalinya. Allah bertanya: Apa yang engkau lakukan dengannya? Ia menjawab: Saya mempelajari ilmu dan mengajarkannya dan saya membaca al-Quran di jalan-Mu. Allah menjawab: Engkau bohong, tetapi engkau mempelajari ilmu supaya disebut sebagai seorang ilmuwan dan engkau membaca al-Quran supaya disebut sebagai seorang qari dan sudah disebut begitu. Lalu ia diperintahkan, maka ditariklah ia di atas wajahnya lalu dicampakkanlah ia ke dalam neraka. Dan seorang laki-laki yang dilapangkan dan diberi berbagai macam harta kekayaan oleh Allah. Lalu didatangkanlah ia dan dihadapkanlah kenikmatan-kenikmatannya sehingga ia mengenalinya. Allah bertanya: Apa yang engkau lakukan dengannya? Ia menjawab: Tidak ada jalan yang Engkau suka untuk saya berinfak di dalamnya melainkan saya telah berinfak untuk-Mu. Allah berfirman: Engkau bohong, tetapi engkau melakukan hal itu supaya disebut dermawan dan sudah disebut begitu. Lalu ia diperintahkan, maka ditariklah ia di atas wajahnya lalu dicampakkanlah ia ke dalam neraka.” (HR. Muslim)
Hadis tersebut menjadi peringatan bahwa banyaknya amal, ilmu, atau harta yang digunakan untuk kebaikan tidak dengan sendirinya menunjukkan keikhlasan. Ketika tujuan utamanya adalah memperoleh pujian, amal tersebut justru menjadi persoalan dalam pertanggungjawaban di akhirat.
Cara menghindari riya adalah menjaga niat agar setiap amal dan ibadah dilakukan semata-mata karena Allah SWT. Hadis-hadis di atas memberikan petunjuk mengenai pentingnya keikhlasan, baik ketika mengerjakan maupun meninggalkan sesuatu.
Al-Fudhail berkata: “Meninggalkan suatu amal karena orang itu riya, melakukan suatu amal karena orang itu syirik, dan ikhlas ialah jika Allah menghindarkanmu dari keduanya itu”.
Sementara itu, al-Junaid juga berkata mengenai ikhlas: “Ikhlas itu adalah rahasia antara seorang hamba dengan Tuhannya. Ia tidak diketahui malaikat sehingga ia menuliskannya, tidak diketahui setan sehingga ia merusakkannya, dan tidak diketahui hawa nafsu sehingga ia mengaturnya”.
Pentingnya niat dalam beramal juga dijelaskan dalam hadis yang diriwayatkan dari Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu. Hadis ini menegaskan bahwa nilai suatu perbuatan berkaitan dengan tujuan yang melatarbelakanginya.
عَنْ عُمَرَ بْنِ اْلخَطَابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ يَقُولُ: “سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: “إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ، وَإِنَّمَا لِامْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُولِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ” (رواه البخاري ومسلم)
Artinya: “Diriwayatkan dari Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya semua perbuatan itu tergantung kepada niat, dan bagi seseorang itu apa yang diniatkan. Barangsiapa hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barangsiapa hijrahnya untuk dunia supaya ia mendapatkannya atau untuk perempuan supaya dinikahinya, maka hijrahnya itu sesuai dengan tujuan hijrahnya itu.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Hadis tersebut menegaskan bahwa niat merupakan dasar dalam setiap perbuatan. Karena itu, seorang Muslim perlu memeriksa dan meluruskan niatnya agar amal tidak bergeser menjadi sarana mencari pujian atau pengakuan dari orang lain.
Riya merupakan syirik kecil yang perlu diwaspadai karena dapat merusak keikhlasan dalam beramal dan beribadah.
Berbagai hadis tersebut mengingatkan bahwa pujian manusia bukanlah tujuan utama dari suatu amal, melainkan keridaan Allah SWT.
Dengan menjaga niat dan terus memperbaiki keikhlasan, seorang Muslim diharapkan dapat menjauhkan diri dari riya serta menjadikan setiap perbuatannya sebagai ibadah yang ditujukan kepada Allah SWT.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.