KOMPAS.com - Abu Dujanah merupakan salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW dari kalangan Anshar yang dikenal karena keberaniannya di medan perang.
Namanya tercatat dalam riwayat Perang Uhud, ketika Rasulullah SAW menawarkan pedang kepada para sahabat untuk digunakan dalam pertempuran.
Keberanian Abu Dujanah tidak hanya tercermin dari kesediaannya menghadapi musuh, tetapi juga dari kesanggupannya menerima tanggung jawab yang menyertai pedang tersebut.
Riwayat tentang dirinya memperlihatkan bahwa keberanian dalam Islam berkaitan dengan kesungguhan menjalankan amanah, bukan sekadar keinginan menunjukkan kekuatan.
Dalam kitab At-Thabaqat al-Kubra, Ibnu Sa'd menyebut nama Abu Dujanah sebagai Simak bin Kharasyah bin Laudzan bin Abd Wudd bin Zaid bin Tsa'labah bin Al-Khazraj bin Sa'idah.
Ia berasal dari kalangan Anshar di Madinah. Abu Dujanah merupakan nama panggilannya yang lebih dikenal dalam berbagai riwayat.
Baca juga: Menhaj Dorong Penguatan BPKH: Dana Haji untuk Haji
Ibnu Sa'd juga mencatat bahwa Rasulullah SAW mempersaudarakan Abu Dujanah dengan Utbah bin Ghazwan.
Ia termasuk sahabat yang mengikuti Perang Badar dan Perang Uhud. Catatan tersebut menunjukkan keterlibatannya dalam perjuangan kaum Muslimin pada masa awal Islam.
Peristiwa yang paling dikenal dari Abu Dujanah terjadi dalam Perang Uhud. Dalam hadis yang diriwayatkan Anas bin Malik, Rasulullah SAW memegang sebuah pedang dan menawarkan kepada para sahabat untuk mengambilnya.
Banyak sahabat mengulurkan tangan, tetapi Rasulullah kemudian menanyakan siapa yang bersedia mengambil pedang itu dengan memenuhi haknya.
Abu Dujanah kemudian menyatakan kesediaannya. Riwayat tersebut tercatat dalam Sahih Muslim 2470, pada bab tentang keutamaan Abu Dujanah Simak bin Kharasyah.
Setelah menerima pedang itu, ia menggunakannya dalam pertempuran melawan kaum musyrik.
حَدَّثَنَا أَنَسٌ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخَذَ سَيْفًا يَوْمَ أُحُدٍ فَقَالَ: «مَنْ يَأْخُذُ مِنِّي هَذَا؟» ... فَقَالَ سِمَاكُ بْنُ خَرَشَةَ أَبُو دُجَانَةَ: أَنَا آخُذُهُ بِحَقِّهِ
‘An Anasin, anna Rasūlallāhi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallama akhadza saifan yauma Uḥudin faqāla: “Man ya’khudzu minnī hādzā?” ... Faqāla Simāku bin Kharasyah Abū Dujānah: “Anā ākhudzuhu bihaqqih.”
Baca juga: Gus Baha Tangani Dakwah Digital, Ini Tugas 5 Wakil Rais Aam PBNU
Artinya: Diriwayatkan dari Anas bahwa Rasulullah SAW mengambil pedang pada hari Uhud dan bertanya, “Siapa yang mau mengambil pedang ini dariku?” ... Simak bin Kharasyah, Abu Dujanah, kemudian berkata, “Aku akan mengambilnya dengan memenuhi haknya.” (HR. Muslim, nomor 2470).
Hadis tersebut menempatkan Abu Dujanah dalam peristiwa penting di Perang Uhud.
Ia tidak sekadar menerima senjata yang ditawarkan Rasulullah SAW, tetapi juga menyatakan kesediaan memenuhi hak yang melekat pada pedang tersebut.
Ibnu Sa'd turut mencatat bahwa Abu Dujanah dikenal melalui ikat kepala merah yang dikenakannya ketika berada di barisan pertempuran.
Catatan itu menjadi salah satu penanda dirinya dalam riwayat peperangan.
Dalam catatan Ibnu Sa'd, Abu Dujanah disebut tetap bertahan bersama Rasulullah SAW dalam Perang Uhud dan berbaiat untuk berjuang hingga mati.
Keterangan ini memperlihatkan kesungguhannya menghadapi situasi pertempuran yang berat.
Baca juga: 5 Tren Kombinasi Warna Baju Lebaran 2027, Olive hingga Matcha
Perang Uhud menjadi salah satu ujian besar bagi kaum Muslimin. Dalam keadaan seperti itu, keteguhan para sahabat yang tetap melindungi dan mendampingi Rasulullah menjadi bagian penting dari riwayat perjuangan mereka.
Abu Dujanah termasuk nama yang dicatat dalam konteks tersebut.
Ibnu Sa'd mencatat bahwa Abu Dujanah memiliki keturunan yang tinggal di Madinah dan Baghdad. Riwayat biografinya juga menghubungkan dirinya dengan Perang Yamamah, pertempuran melawan kelompok Musailamah setelah wafatnya Rasulullah SAW.
Dalam sejumlah catatan sejarah, Abu Dujanah disebut gugur dalam Perang Yamamah pada masa Khalifah Abu Bakar.
Peristiwa ini menempatkan akhir kehidupannya dalam rangkaian perjuangan kaum Muslimin setelah masa kenabian.
Baca juga: Cerita Imah Babaturan 11 Tahun Bertahan hingga Repotnya Mengurus Sertifikasi Halal
Kisah Abu Dujanah mengingatkan bahwa keberanian bukan semata-mata menghadapi bahaya.
Ada tanggung jawab yang harus dijalankan ketika seseorang menerima kepercayaan, terlebih jika amanah itu berkaitan dengan keselamatan dan kepentingan orang lain.
Bagi kehidupan sehari-hari, teladan tersebut dapat diterapkan melalui kesungguhan memenuhi tanggung jawab, keberanian menghadapi kesulitan, dan kesediaan menjaga kepercayaan.
Riwayat Abu Dujanah menunjukkan bahwa keberanian yang bernilai bukan hanya keberanian bertindak, melainkan juga kesanggupan mempertanggungjawabkan tindakan tersebut.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.