Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Santri Tak Harus Jadi Ustaz, Kenali Potensi untuk Memilih Karier

Kompas.com, 19 Oktober 2026, 10:03 WIB
Reni Susanti

Editor

BATANG, KOMPAS.com — Pilihan karier santri tidak terbatas pada bidang keagamaan. Santri dapat menekuni berbagai profesi dengan mempertimbangkan kemampuan, minat, serta manfaat yang dapat diberikan kepada masyarakat.

Hal tersebut disampaikan Iqbal Ibnu Farhan, mahasiswa Magister Kajian Islam dan Psikologi Universitas Indonesia, dalam kelas pengenalan karier bagi santri kelas akhir di Pondok Modern Tazakka, Batang, Jawa Tengah.

Dalam materi “Makna Hidup dan Karier dalam Islam”, Iqbal menjelaskan bahwa lulusan pendidikan agama tidak harus selalu menjadi ustaz. Santri juga dapat menjadi dokter, pengusaha, diplomat, hingga pengambil kebijakan.

“Berbagai profesi tersebut dapat menjadi jalan pengabdian selama dijalankan dengan niat beribadah kepada Allah dan memberikan manfaat bagi kehidupan,” ujar Iqbal dalam rilisnya, Senin (19/10/2026).

Baca juga: Hari Santri 2026 Tanggal Berapa? Ini Tema, Sejarah, dan Link Logonya

Ia menekankan pentingnya itqan, yakni kesungguhan dan profesionalisme dalam bekerja, sebagai pegangan saat menjalani karier.

Mengenali diri sebelum memilih karier

Ratusan santri mengikuti pengenalan karier di Pondok Modern Tazakka, Batang, Jawa Tengah. Dok TAZAKKA Ratusan santri mengikuti pengenalan karier di Pondok Modern Tazakka, Batang, Jawa Tengah.

Dalam kegiatan yang sama, Ketua Kelompok Riset STARS Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan Universitas Indonesia, Lydia Freyani Hawadi, mengajak santri mengenali kemampuan masing-masing dan mengurangi kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain.

Ia membahas kemampuan kognitif, kecerdasan majemuk, serta kepribadian sebagai bahan untuk memahami potensi diri.

Pemahaman mengenai kemampuan dan cara belajar dapat menjadi bekal awal bagi santri untuk mempertimbangkan pilihan pendidikan maupun pekerjaan.

Baca juga: Hari Santri 2026, Menilik Peran Santri dalam Kebudayaan dan Perfilman

Sementara itu, pembicara Susetya Herawati mengenalkan kewirausahaan sebagai salah satu pilihan karier.

Ia membahas empat sifat yang menjadi landasan kewirausahaan Islami, yakni sidik, amanah, tablig, dan fatanah. Nilai tersebut berkaitan dengan kejujuran, tanggung jawab, kemampuan berkomunikasi, dan kecakapan menjalankan usaha.

Pilihan usaha yang diperkenalkan meliputi usaha digital, usaha untuk memenuhi kebutuhan lingkungan pesantren, serta usaha yang menawarkan solusi atas persoalan sosial.

Bekal menghadapi dunia kerja

Pembicara lainnya, Arbar Wijaya, menyoroti enam keterampilan yang perlu disiapkan calon pekerja, yaitu komunikasi, literasi digital, disiplin, berpikir kritis, kemampuan beradaptasi, dan keahlian khusus.

Selain mengenali peluang pekerjaan, santri mendapat pembekalan mengenai kewaspadaan terhadap penipuan lowongan kerja serta pengelolaan keuangan sejak memperoleh gaji pertama.

Pembahasan dilanjutkan melalui diskusi bersama praktisi dari sejumlah bidang. Peserta membicarakan kepemimpinan, manajemen risiko, etika profesional, dan persiapan menghadapi ketidakpastian dunia kerja.

Pimpinan Pondok Modern Tazakka, Anang Rikza Masyhadi, turut menekankan pentingnya prestasi, dedikasi, dan kemampuan melayani sebagai dasar kepemimpinan.

“Siapa yang berprestasi, siapa yang berdedikasi, siapa yang paling mampu memberikan pelayanan terbaik, maka dialah yang akan mendapat tempat untuk menjadi pemimpin,” kata Anang.

Menurut dia, pendidikan santri perlu membangun kedisiplinan, kejujuran, dan tanggung jawab sebagai bekal menjalani kehidupan bermasyarakat maupun pekerjaan.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar