Editor
KOMPAS.com — Ibadah merupakan bentuk ketaatan sekaligus ungkapan cinta dan syukur kepada Allah SWT. Manfaatnya kembali kepada manusia, sebab Allah tidak membutuhkan ibadah hamba-Nya.
Naskah khutbah Jumat yang dikutip dari NU Online ini mengajak jemaah memahami tujuan ibadah dan meneladani ketulusan Nabi Muhammad SAW dalam bersyukur kepada Allah.
Baca juga: Khutbah Jumat 30 Oktober 2026: Jangan Abai Saat Tetangga Kesulitan
Khutbah I
الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي أَمَرَ عِبَادَهُ بِعِبَادَتِهِ، وَبَيَّنَ لَهُمْ أَحْكَامَ شَرِيعَتِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللّٰهُ اعْتِقَادًا لِرُبُوبِيَّتِهِ، وَإِذْعَانًا لِجَلَالِهِ وَعَظَمَتِهِ وَصَمَدِيَّتِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الْمُصْطَفَى مِنْ خَلِيقَتِهِ، وَالْمُخْتَارُ الْمُجْتَبَى مِنْ بَرِيَّتِهِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى خَيْرِ الْإِنْسَانِ الْمُبَلِّغِ عَنْ رِسَالَةِ الرَّحْمٰنِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الْمَحْبُوْبِيْنَ جَمِيْعًا. أَمَّا بَعْدُ، فَإِنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، الْقَائِلِ فِي مُحْكَمِ كِتَابِهِ: يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ وَالَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ
Hadirin jamaah shalat Jumat rahimakumullah
Dalam kesempatan yang istimewa ini, mari kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah Ta’ala yang telah memberi kita sekian banyak karunia yang tidak bisa kita hitung. Dengan karunia-Nya kita dapat berkumpul untuk bersama-sama beribadah menunaikan shalat jumat dalam suasana yang khidmat dan khusuk. Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada baginda Nabi Muhammad SAW, keluarga dan para sahabatnya.
Tak lupa dalam kesempatan ini juga, khatib berwasiat kepada hadirin sekalian, terutama untuk diri khatib pribadi, untuk selalu istiqamah dalam ketakwaan kepada Allah Ta’ala, dengan menjalankan setiap perintah-Nya dan menjauhi segala bentuk larangan-Nya.
Hadirin jamaah shalat Jumat rahimakumullah
Ibadah adalah kunci untuk membangun hubungan dengan Sang Pencipta, yaitu Allah Ta'ala. Jika hubungan antara sesama manusia dapat dibangun dengan komunikasi, saling perhatian, tolong menolong dan saling memberi. Maka hubungan manusia dengan Allah juga dibangun dengan hal yang sama, yang kita sebut dengan ibadah.
Sebagai contoh ketika kita sedang berdzikir, sejatinya kita sedang berkomunikasi dengan Allah. Ketika kita shalat, maka kita sedang bermunajat dan menghadap Allah. Dan ketika kita menjaga diri dari hal-hal yang dilarang Allah, maka di saat itu kita sedang menunjukkan perhatian dan ketundukan total terhadap apa yang dicintai Allah.
Karena ibadah berarti merendahkan diri, tunduk, dan taat kepada Allah dengan penuh keikhlasan sesuai tuntunan Rasulullah. Segala ucapan, perbuatan, hingga sikap hati yang dilakukan untuk mencari cinta dan ridho Allah termasuk dalam ibadah. Kita semua telah maklum bahwa Allah menciptakan kita semua hanya untuk beribadah kepada-Nya. Sebagaimana dalam firman-Nya:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ
Artinya, “Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat · Ayat 56)
Hadirin jamaah shalat Jumat rahimakumullah
Ayat tersebut menjelaskan bahwa tujuan utama Allah menciptakan manusia dan jin adalah untuk beribadah kepada-Nya. Melalui ibadah, manusia diajarkan untuk menyadari bahwa dirinya adalah makhluk yang lemah dan sepenuhnya bergantung kepada Allah. Selain itu, ibadah juga menjadi bentuk pengakuan bahwa Allah adalah Tuhan Yang Maha Esa dan hanya Dia yang berhak disembah.
Lalu, muncul pertanyaan berupa, mengapa Allah mewajibkan manusia untuk beribadah kepada-Nya? Apakah Allah membutuhkan ibadah kita? Untuk menjawab pertanyaan ini, mari kita perhatikan penjelasan Syekh Ibnu Athaillah dalam kitab Al-Hikam. Beliau menyampaikan sebuah hikmah yang sangat penting untuk kita renungkan:
عَلِمَ قِلَّةَ نُهُوضِ الْعِبَادِ إِلَى مُعَامَلَتِهِ، فَأَوْجَبَ عَلَيْهِمْ وُجُودَ طَاعَتِهِ، فَسَاقَهُمْ إِلَيْهِ بِسَلَاسِلِ الْإِيجَابِ
Artinya: “Allah memaklumi rendahnya semangat hamba-Nya untuk berinteraksi dengan-Nya, maka dari itu Dia mewajibkan adanya ketaatan untuk mereka sehingga Dia menggiring mereka kepada-Nya dengan belenggu kewajiban.”
Hadirin jamaah shalat Jumat rahimakumullah
Syekh Syarqawi menyebut sikap orang tua terhadap anaknya yang masih kecil sebagai ilustrasi kewajiban ibadah. Menurutnya, orang tua mendidik dan memberikan aturan bagi anak kecil, yang mana itu berat dan tidak disukai olehnya ketika itu.
Tetapi aturan tersebut sejatinya mengandung manfaat di kemudian hari bagi si kecil yang akan disadari maslahatnya kelak ketika telah dewasa. Dengan kata lain, maslahat dan manfaat kewajiban ibadah itu akan disadari oleh manusia kelak di dunia, dan tentu saja di akhirat. Semua maslahat itu berpulang kepada manusia, bukan kepada Allah, karena Allah tidak butuh pada ibadah hamba-Nya.
Hadirin jamaah shalat Jumat rahimakumullah
Mari kita teladani ketulusan baginda Nabi Muhammad SAW dalam hal ibadah. Beliau tidak pernah menganggap kewajiban sebagai beban, namun beliau menganggap ibadah merupakan manifestasi rasa cinta dan syukur kepada Allah Ta’ala. Rasulullah SAW adalah orang yang paling mengetahui mengenai Allah Ta’ala, sehingga beliau menjadi manusia yang paling bertakwa dan banyak beribadah kepada Allah Ta’ala, dengan ibadah yang penuh ketulusan dan rasa syukur. Bahkan acapkali Nabi SAW shalat malam sampai kedua kakinya bengkak. Sebagaimana diriwayatkan oleh ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha:
وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا ، قَالَتْ : كَانَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَقُومُ مِنَ اللَّيْلِ حَتَّى تَتَفَطَّرَ قَدَمَاهُ ، فَقُلْتُ لَهُ : لِمَ تَصْنَعُ هَذَا ، يَا رَسُولَ الله ، وَقَدْ غُفِرَ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأخَّرَ ؟ قَالَ : أفَلاَ أكُونُ عَبْداً شَكُوراً. (مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ)
Artinya: “Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa melakukan shalat malam sampai kedua kakinya pecah-pecah, maka aku berkata kepadanya, ‘Kenapa engkau melakukan seperti ini, wahai Rasulullah? Padahal dosa-dosamu yang telah lalu dan akan datang telah diampuni.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Tidak bolehkah aku menjadi hamba yang bersyukur.’” (Muttafaqun ‘alaih).
Inilah Baginda Nabi Muhammad SAW, yang memberi teladan kepada umatnya tentang ketulusan ibadah. Beliau adalah manusia yang paling mengenal Allah, dan tahu mana ibadah yang paling dicintai-Nya. Ketulusan beliau tidak hanya terlihat saat ibadah itu mudah, tetapi justru terlihat saat ibadah itu sulit dan berat.
Maka jika kita ingin melihat bagaimana ibadah bukan sekadar transaksi, tetapi manifestasi syukur dan cinta, mari kita teladani baginda Nabi Muhammad SAW. Beliaulah yang mengajarkan bahwa puncak ibadah adalah ketika seorang hamba merasa nikmat dalam ketaatan.
Hadirin jamaah shalat Jumat rahimakumullah
Untuk mencapai kesadaran bahwa ibadah adalah bentuk cinta dan rasa syukur kita harus melalui 3 tahapan yang penting. Pertama, harus mengenal siapa yang kita sembah. Karena mustahil kita bisa mencintai dan bersyukur kepada Dzat yang tidak kita kenal. Maka kita harus kenali Allah melalui nama dan sifat-sifat-Nya. Dialah Ar-Rahman yang rahmat-Nya melampaui segala sesuatu. Dialah Ar-Razzaq yang tidak pernah putus memberi rezeki, bahkan saat kita bermaksiat sekalipun.
Kemudian, Kedua, harus menyadari betapa sedikitnya ibadah kita dibanding nikmat-Nya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam QS. An-Nahl. Ayat 18:
وَاِنْ تَعُدُّوْا نِعْمَةَ اللّٰهِ لَا تُحْصُوْهَا ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَغَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
Artinya: “Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”(QS. An-Nahl · Ayat 18)
Maka, satu napas saja yang diberikan Allah kepada kita, niscaya tidak akan mampu kita bayar dengan seribu rakaat. Selanjutnya, yang ketiga, kita harus meluruskan niat bahwa ibadah bukan transaksi, melainkan komunikasi antara hamba dengan penciptanya. Kita tidak shalat agar dagangan laris.
Tapi kita shalat karena kita rindu sujud kepada Allah. Kita juga tidak bersedekah agar harta berlipat, tetapi kita bersedekah karena kita mencintai apa yang dicintai Allah. Hadirin jamaah shalat Jumat rahimakumullah Demikian khutbah Jumat dalam kesempatan yang penuh berkah ini.
Semoga bermanfaat dan semoga kita semua dapat meneladani bagaimana Nabi Muhammad SAW dalam beribadah, hingga kita dapat meraih cinta dan ridho dari Allah Ta’ala. Aamin ya rabbal alamin.
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللّٰهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلَى رِضْوَانِهِ. اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا، أَمَّا بَعْدُ. فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ، إِتَّقُوااللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللّٰهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فقَالَ تَعَالَى: إِنَّ اللّٰهَ وَمَلَآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِى، يَآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلٰيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا الَّذِيْ هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِيْ فِيْهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِيْ إِلَيْهَا مَعَادُنَا، وَاجْعَلِ الحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِيْ كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ المَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ الرّٰحِمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ عِبَادَاللّٰهِ، إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشَآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ. يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. وَاذْكُرُوا اللّٰهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.