Editor
KOMPAS.com - KOMPAS.com — Semangat Sumpah Pemuda dapat diwujudkan melalui keberanian anak muda menyampaikan aspirasi dan memperjuangkan kepentingan bersama.
Kritik yang jujur dan bertanggung jawab pun dapat menjadi bentuk kecintaan kepada bangsa.
Baca juga: Khutbah Jumat Bahasa Jawa: Tanggung Jawabe Pemimpin Nalika Alas Kobong
Berikut naskah khutbah Jumat Sumpah Pemuda yang ditulis M. Syarofuddin Firdaus, Dosen Pesantren Luhur Ilmu Hadis Darus-Sunnah Ciputat, dikutip dari NU Online tentang pentingnya menghargai suara kritis generasi muda serta menjaga adab dan persatuan:
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ شَرَّفَ الأَنَاَمَ بِصَاحِبِ الْمَقَامِ الأعْلَى. وَكَمَّلَ السُّعُوْدَ بِأَكْرَمِ مَوْلُوْدٍ. أَشْهَدُ أنْ لاإلهَ إلاّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمَبْعُوْثُ بِالْحُجَّةٍ الَبَالِغَةِ وَحُسْنِ الْبَيَانِ. أللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأصْحَابِهِ أجْمَعِيْنَ. أمَّا بَعْدُ. فَيَا عِبَادَ اللهِ أًوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ وَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى: وَمَنْ يَّتَّقِ اللهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا، وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَايَحْتَسِبُ
Jamaah kaum muslimin yang dimuliakan Allah
Khatib tidak pernah bosan mengingatkan sekaligus mengajak untuk meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah. Ketakwaan di sini tidak hanya dalam masalah ibadah mahdhah antara hamba dan Tuhannya, melainkan juga meliputi ibadah sosial dalam bersikap dan bermuamalah antar sesama.
Di antara sikap yang dapat dikategorikan sebagai ibadah sosial itu adalah mendukung dan mengapresiasi antar sesama dalam kebaikan, termasuk mengenai saling mengingatkan dalam masalah kebaikan (tawashaw bil haq).
Dalam konteks itu, belakangan ini kita melihat sekelompok anak muda yang dengan lantang dan tidak gentar menyuarakan sikap-sikap kritis atas isu-isu publik yang sedang ramai. Hal ini mengingatkan pada momen bersejarah bangsa ini, yaitu 28 Oktober 1928 lahirnya Sumpah Pemuda sebagai komitmen sekaligus kesadaran kaum terpelajar untuk bersatu dalam melawan penjajahan.
Sumpah Pemuda lahir dari kesadaran para pemuda yang melampaui perbedaan daerah, bahasa, dan latar belakang demi cita-cita bersama. Mereka tidak memilih untuk berdiam diri ketika masa depan bangsa sedang dipertaruhkan. Mereka hadir, berpikir, berdialog, dan menyatakan komitmen untuk membangun negara ini.
Jamaah kaum muslimin yang dimuliakan Allah
Berkualitas Sejak saat itu, setiap tanggal 28 Oktober bangsa ini mengadakan peringatan yang disebut Hari Sumpah Pemuda. Maka agar tidak sekedar formalitas belaka dalam memperingatinya, kita juga perlu melakukan aktualisasi dalam meniru jejak semangat kaum muda zaman itu.
Bentuk perjuangan generasi muda tentu berbeda dengan para pemuda pada 1928. Mereka kini hidup di tengah persoalan pendidikan, lingkungan, lapangan pekerjaan, korupsi, ketimpangan sosial, serta berbagai kebijakan yang berdampak langsung pada kehidupan masyarakat.
Ketika anak muda menyampaikan aspirasi, mengkritik kebijakan, menggalang kepedulian sosial, atau mengajak masyarakat membicarakan persoalan bersama, kehadiran mereka patut diapresiasi sebagai tanda bahwa kepedulian terhadap bangsa masih tumbuh.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Islam tidak mengajarkan umatnya untuk bersikap acuh terhadap keadaan di sekitarnya. Allah SWT berfirman:
وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Artinya: “Hendaklah ada di antara kamu segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh berbuat yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran: 104).
Syekh Ibnu 'Asyur di dalam at-Tahrir wat Tanwir (Tunisia: al-Dar al-Tunisiyah, 1984) juz 4 hal. 38 mengatakan bahwa dengan metode qiyas (analogi) menjadi jelas kalau setiap generasi ada sebagian kelompok yang memiliki kewajiban untuk melakukan seruan itu agar petunjuk atau ajaran agama ini tidak menjadi sirna.
Maka, meski ayat ini meski diturunkan kepada para sahabat Nabi sebagai lawan bicaranya untuk melakukan ajakan tersebut, namun ajakan itu tidak terbatas pada generasi itu saja.
Sebab ayat ini bersifat universal, yang mana ayat itu mengajarkan pentingnya menghadirkan kepedulian terhadap kebaikan bersama. Menyeru kepada kebaikan tidak terbatas pada nasihat di mimbar atau kegiatan keagamaan. Kepedulian juga dapat diwujudkan melalui perhatian terhadap pendidikan yang layak, lingkungan yang sehat, pelayanan publik yang adil, serta kebijakan yang melindungi kepentingan masyarakat.
Dalam hal ini, keterlibatan anak muda dapat menjadi bagian dari ikhtiar bersama untuk memperbaiki kehidupan bangsa. Jamaah kaum muslimin yang dimuliakan Allah Karena itu, kita tidak semestinya terburu-buru menganggap anak muda yang kritis sebagai generasi yang suka membantah atau tidak tahu berterima kasih.
Kritik terhadap sebuah kebijakan tidak selalu berarti kebencian terhadap negara. Justru, ketika disampaikan dengan alasan yang kuat dan niat memperbaiki keadaan, kritik dapat menjadi wujud kecintaan kepada bangsa. Persatuan bukan berarti semua orang harus selalu sepakat, melainkan kesediaan untuk mengelola perbedaan demi kepentingan bersama.
Kita mesti mengingat sebuah adagium: شُبَّانُ الْيَوْمِ رِجَالُ الْغَدِ
Artinya, “Pemuda hari ini akan menjadi pemimpin masa depan.”
Ungkapan yang khatib sampaikan tadi hendak menegaskan bahwa anak muda merupakan generasi yang akan melanjutkan keberlangsungan peradaban manusia, termasuk dalam berbangsa dan bernegara.
Maka dari itu, sudah sepatutnya anak muda mengetahui dan update terhadap apa yang sedang terjadi di negerinya, bagaimana kebijakan-kebijakan publik yang dicetuskan pemerintah mengandung maslahat bersama atau segelintir golongan saja. Jamaah kaum muslimin yang dimuliakan Allah, Nabi Muhammad Saw sendiri juga sudah mengingatkan di dalam sabdanya:
مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ
Artinya:
“Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya. Jika tidak mampu, dengan lisannya. Jika tidak mampu juga, dengan hatinya, dan itulah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim).
Hadits tadi juga mengingatkan bahwa menghadapi keburukan membutuhkan kepedulian dan tindakan sesuai kemampuan serta tanggung jawab masing-masing. Dalam kehidupan publik, kepedulian dapat diwujudkan melalui penyampaian aspirasi, diskusi berbasis data, pengawasan masyarakat, kegiatan sosial, dan partisipasi dalam proses pengambilan keputusan.
Tentu, semua itu perlu dilakukan dengan memperhatikan hukum, keselamatan, kejujuran, serta penghormatan terhadap hak orang lain. Dengan demikian, ajakan Nabi untuk mengubah keadaan yang mungkar tidak dilakukan secara serampangan. Melakukan itu tetap harus memperhatikan aspek-aspek lain sehingga tidak menimbulkan mudarat atau masalah baru.
Selain itu, mengubah kemungkaran juga mesti dilakukan dengan berdasarkan data dan info yang valid. Maka dalam konteks menyikapi kebijakan-kebijakan publik, sebelum mengkritisinya maka harus memverifikasi kalau berita tersebut memang benar adanya, bukan hoaks.
Jamaah kaum muslimin yang dimuliakan Allah,
Hanya saja, mengapresiasi anak muda bukan berarti membenarkan setiap tindakan mereka tanpa pertimbangan. Anak muda pun perlu terus belajar memilah informasi, memeriksa kebenaran berita, menyampaikan kritik tanpa fitnah, dan menjaga agar perbedaan tidak berubah menjadi permusuhan.
Sejatinya keberanian itu masih perlu disertai kebijaksanaan, idealisme perlu disertai pengetahuan, dan semangat perubahan perlu disertai tanggung jawab. Pada saat yang sama, generasi yang lebih tua perlu menyediakan ruang dialog, mendengarkan aspirasi, dan membimbing tanpa meremehkan.
Jangan sampai pengalaman dijadikan alasan untuk membungkam gagasan baru, sebagaimana semangat muda juga tidak seharusnya menjadi alasan untuk menolak seluruh pengalaman generasi sebelumnya. Bangsa ini membutuhkan keduanya: keberanian untuk mengusulkan perubahan dan kebijaksanaan untuk mempertimbangkan akibatnya.
Melalui Hari Sumpah Pemuda momen itu mengajarkan bahwa masa depan Indonesia merupakan tanggung jawab bersama. Menghargai anak muda yang peduli terhadap persoalan publik berarti menjaga agar semangat persatuan tetap hidup, bukan hanya dalam upacara dan slogan, tetapi juga dalam keberanian memperjuangkan kebaikan bersama.
Pada saat itulah kita mengingat apa yang disampaikan sayyiduna Ali bin Abi Thalib sebagaimana disebutkan di dalam ‘Uyunul Akhbar (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiah, 1418), juz 2 hal 136 karya Ibnu Qutaibah:
قِيمَةُ كُلِّ امْرِئٍ مَا يُحْسِنُهُ
Artinya, “Nilai seseorang terletak pada apa yang dikuasai atau dikerjakannya dengan baik.”
Semoga Allah ta'ala membimbing generasi muda agar tumbuh menjadi pribadi yang berilmu, berintegritas, dan peduli terhadap sesama. Semoga pula kita diberi kelapangan hati untuk mendengar, berdialog, dan bekerja bersama demi Indonesia yang lebih adil, damai, dan bermartabat.
بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمِ.
Khutbah II
اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الصِّدْقِ وَالْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.